Bagus. Sekarang Letta dilanda penasaran akut mengenai kenapa Alex terasa beda hari ini. Penampilan cowok itu sebenarnya sama seperti hari-hari biasanya, kalau orang lain yang melihat mungkin tidak akan merasa ada perbedaan, tapi bagi Letta yang sudah setiap hari melihat Alex, ia merasakan ada sebagian dari cowok itu yang berubah. Dan masalahnya adalah ia belum tahu sesuatu itu seperti apa.
Letta yang sedang berjalan di koridor menghentikan langkahnya tiba-tiba. Alex yang berjalan disebelahnya pun ikut berhenti.
"Ada apa?" tanya Alex yang bingung kenapa Letta berhenti tiba-tiba padahal keduanya sedang berjalan koridor sekolah. Beruntung suasana koridor masih sepi jadi Letta yang berjalan di tengah jalan tidak membuat kesal orang yang mungkin berjalan di belakangnya.
"Bentar, kasih gue waktu." Letta membuat gerakan dengan kedua telapak tangannya ia hadapkan ke depan seakan meminta Alex untuk menunggu dan memberinya waktu.
"Lo hadap ke gue sekarang." sambung Letta penuh nada perintah.
"Buat apa?" kening Alex mengernyit dalam dan Letta melihat itu.
Letta tahu kalau permintaannya ini bisa dibilang sangat aneh. Tapi ia hanya ingin memastikan sesuatu sebelum rasa penasaran menggerogoti dirinya sampai habis.
"Udah tinggal hadap ke gue aja." perintah Letta kali ini dengan tegas.
Dengan malas Alex berbalik dan menghadap ke Letta. Ia memandang Letta dengan bosan ketika cewek itu mulai menilainya dari atas sampai bawah.
Apa-apaan coba.
Mata Letta menyipit memperhatikan Alex dari kepala hingga kaki, dan ia belum menemukan jawaban dari rasa penasarannya. Letta meletakkan jarinya di dagu berpikir apa yang membuat Alex kelihatan berbeda.
"Gak jelas lo." sembur Alex akan membalikkan badannya. Letta bergerak cepat, berdiri dengan merentangkan tangannya di depan Alex. Menghalanginya agar tidak kemana-mana dulu.
"Kasih gue waktu tiga puluh detik. Setelah itu lo boleh pergi." ucap Letta meyakinkan. Astaga Letta bahkan tidak tahu apa yang sedang ia lakukan.
"Oke." Alex menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil memberi tatapan membosankan ke Letta dan ia tidak menutupinya sama sekali.
Detik-detik berlalu tapi Letta hanya diam saja. Ia bahkan tidak tahu apa yang akan ia lakukan sekarang dan buat apa tadi dirinya meminta tiga puluh detik pada Alex. Tapi karena sudah terlanjur, lebih baik diteruskan saja. Ia akan menunggu tiga puluh detik itu habis dan keduanya bisa berjalan lagi menuju ke kelas. Setelahnya Letta akan melupakan kelakuan absurdnya ini seakan-akan tidak pernah terjadi. Rencana yang...memalukan.
"Lima belas detik tersisa." ucap Alex mengingatkan Letta.
"Sepuluh detik tersisa." lanjutnya setelah lima detik berlanjut.
Letta menggaruk tengkuknya bingung. Ia jadi malu sendiri. Pasti setelah ini Alex akan dengan senang hati mengolok-oloknya. Yeah, Letta harus siap menerimanya nanti. Letta menaikkan pandangannya dan sorot mata Alex menyiratkan kebosanan dan Letta tahu itu.
Letta mengalihkan pandangannya yang penting jangan ke mata Alex. Ia merasa aneh karena sekarang tidak bisa menatap Alex lama-lama, tidak seperti dulu waktu awal kedatangan Alex.
Letta akhirnya mengalihkan pandangannya lebih ke atas. Saat itu juga dirinya menemukan apa yang ia cari, rasa penasaran itu sudah hilang dan terganti dengan perasaan takjub. Entahlah, tapi ia sekarang tahu apa yang membuat Alex tampak berbeda. Bodoh, pikirnya karena sejak dari rumah ia bahkan tidak melihat perbedaan itu.
"Tiga detik tersisa." pernyataan Alex membuyarkan lamunan Letta.
Cewek itu mengerjap sebelum akhirnya memekik keras. "Gilaaa...! Lo potong rambut..!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mischievous Boy
Teen FictionHanya karena selembar kertas DO dari sekolahnya, hidup seorang Alex menjadi berubah 180 derajat. Yang biasanya dimanjakan dengan kekayaan orang tuanya di kota, harus rela dipindahkan ayahnya ke desa tempat neneknya tinggal tanpa membawa apapun. Dan...
