Tidak ada yang lebih menggiurkan bagi Letta selain saat ini, dimana ia dihadapkan pada meja panjang yang penuh dengan piring berisi makanan. Tampak sangat lezat dan menggungah selera. Ia yakin siapapun yang melihat ini akan dengan alami meneteskan air liurnya.
Letta berjalan memutar meja dengan mata yang berbinar. Ia melihat makanan kesukaannya ada di sana semua. Bahkan makanan yang ia impi-impikan untuk bisa ia makan dari dulu pun tersedia di meja itu.
Cewek itu lalu berjalan menuju kursi yang terletak di ujung meja. Duduk layaknya ratu, hanya dirinya sendiri yang berada di sana. Hatinya bersorak gembira karena ia bisa puas memakan apapun yang ada di depannya tanpa ada orang lain yang mengganggu.
Dengan perlahan, tangannya meraih sate ayam yang letaknya paling dekat. Ia mengambil puluhan tusuk lalu meletakannya ke piringnya yang masih kosong. Tak lupa ia mengambil sambal kacang yang baunya sangat enak dan menuangkan sambal kacang itu ke atas sate.
Sungguh, air liur Letta benar-benar akan menetes detik itu juga. Ia mengambil satu tusuk dan mengangkatnya ke atas. Ia mengarahkan sate itu ke mulutnya. Tapi anehnya tiba-tiba hujan datang, wajahnya pun terasa dingin karena terkena air hujan.
Letta segera bangun dari tempatnya dan berlari mencari jalan keluar. Tapi yang ia dapati adalah tempatnya berdiri sedang terkena gempa. Goncangan gempa itu awalnya pelan dan lama-lama semakin cepat membuat Letta limbung dan hampir jatuh.
Sayup-sayup ia mendengar suara anak laki-laki memanggil namanya.
"Letta... Bangun!"
Letta akan berteriak dan bertanya siapa laki-laki itu tapi suaranya terasa tertahan di tenggorokan.
"Cebol bangun!!"
Letta hendak menjawab. Tapi...tunggu dulu. Apa barusan ia mendengar kata cebol. Satu-satunya orang yang memanggilnya cebol adalah....
"WOYYY BANGUUNN !!!"
Letta tersentak bangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata dan menatap sekelilingnya. Belum sepenuhnya sadar ia berkata sendiri.
"Sate gue mana?" tanya Letta linglung.
Sedetik kemudian terdengar gelak tawa seseorang masuk ke telinga Letta. Cewek itu menoleh dan mendapati Alex sedang tertawa lepas. Dan alasan cowok itu tertawa karena apa?
"Lo kenapa ketawa?" Letta mengernyit heran.
"Itu.. Hahah... Lo bangun-bangun malah nanyain dimana satenya. Lo ngimpi beli sate tadi hah?"
Lagi-lagi Alex terpingkal. Ia membayangkan bagaimana raut wajah Letta waktu bangun. Sungguh polos seperti anak kecil. Ditambah lagi perkataan Letta menambah nilai kepolosan cewek itu. Sate gue mana..
Gezz... Alex rasanya mau tertawa sekeras mungkin saat ini.
Sedangkan Letta yakin pipinya sudah memerah saat ini menahan malu. Ia meletakan kedua telapak tangannya ke pipi untuk menutupi rona wajahnya saat ini. Ia melirik ke arah Alex yang sedang berusaha menetralkan nafasnya karena tertawa terlalu lama.
"Udah puas ketawain gue?" tanya Letta ketus.
Alex terkekeh. "Maunya sih belom. Tapi kasihan, anak orang diketawain lama-lama takutnya malah nangis. Gue lagi gak punya permen."
Letta memanyunkan bibirnya ke depan. Ia lalu turun dari ranjang dan membenarkan ikat rambutnya yang mau lepas.
"Kok lo bisa ada di sini sih? Gue yakin tadi sebelum tidur udah gue kunci pintunya."
"Gue dapat kunci cadangan dari penjaga sekolah." jawab Alex jujur.
Alex lalu meraih tasnya yang ditaruh di atas nakas lalu memakainya. Letta yang melihat itu terheran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mischievous Boy
Teen FictionHanya karena selembar kertas DO dari sekolahnya, hidup seorang Alex menjadi berubah 180 derajat. Yang biasanya dimanjakan dengan kekayaan orang tuanya di kota, harus rela dipindahkan ayahnya ke desa tempat neneknya tinggal tanpa membawa apapun. Dan...
