Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya kalau Alex dan Indra akan pulang bersama naik motor punya Indra. Bukan motor ala cowok keren seperti di kota Alex, karena di sini Indra hanya menggunakan motor bebek berwarna dasar hitam dan berwarna merah di beberapa bagian.
"Jadi ini rumah lo?" tanya Indra begitu Alex mengatakan agar berhenti karena sudah sampai.
Indra memang sengaja meminta pulang bersama Alex untuk tahu rumahnya dia di mana.
"Iya, tepatnya punya nenek gue." jawab Alex yang turun dari sepeda motor Indra.
"Kenapa sama rumah gue?" Alex menaikkan sebelah alisnya ke atas melihat Indra yang diam saja sambil memandangi rumah neneknya itu.
"Gak kenapa napa sih." Indra menggelengkan kepalanya.
"Gue cabut duluan. Nyokap nyuruh gue nganterin ke kondangan." tambahnya lalu melajukan kembali motornya setelah Alex menganggukan kepalanya.
Alex kemudian membalikkan badannya, melangkahkan kakinya memasuki rumahnya yang sepi. Entah kemana Sari, Alex tidak tahu. Yang Alex tahu biasanya Sari itu suka sekali berkebun bahkan sampai lupa waktu seperti hari-hari kemarin. Jadi kemungkinan besar hari ini Sari juga sedang berada di kebun.
Beruntunglah Sari tidak berada di rumah karena Alex akan malas menjawab pertanyaan seputar hari pertama sekolah yang biasa orang tua tanyakan. Dan jangan lupakan mengenai Letta, bisa saja Sari nanti bertanya mengapa ia pulang naik motor dengan temannya daripada naik sepeda bareng Letta.
***
"Tumben lo bawa sepeda?" Mira mendekati Letta yang sedang mengambil sepedanya di parkiran.
Dari semua jenis kendaraan yang berada di parkiran, hanya ada beberapa anak yang memakai sepeda. Begitu melihat Letta malah menuju ke parkiran tadi, Mira lantas mengikutinya. Dan ia sontak terkejut mengetahui kalau Letta membawa sepeda ke sekolah.
"Buat hari ini dan ke depannya gue bakalan bawa sepeda terus kayaknya." kata Letta dengan bahu merosot ke bawah. Malas sekali ia pulang sekolah harus mengayuh sepeda dulu, padahal biasanya tinggal naik ojek langganannya dan sampai rumah hanya beberapa menit.
"Kang Asep emangnya kemana? Kenapa dia gak bisa anter jemput lo lagi?"
"Ada sesuatu yang mengharuskan gue pake sepeda terus." Letta menuntun sepedanya terus menjauhi parkiran menuju ke gerbang dengan Mira yang masih membuntutinya.
"Kalau lo mau, lo bisa bareng gue kok. Nanti lo turun di perempatan, tinggal jalan sedikit terus lo sampai rumah deh."
"Kalau aja gue bisa udah pasti gue mending nebeng ke lo. Tapi ya begitulah, kondisinya gak memungkinkan. Mungkin lain waktu aja." Letta mengedikkan bahunya.
"Ya udah terserah lo. Jangan sungkan kalau mau bareng." Mira kemudian pergi dari hadapan Letta menuju ke mamanya yang sudah menjemputnya di depan gerbang.
Letta menghela nafas lelah, lelah fisik dan hatinya. Badannya masih terasa sangat capek karena tadi pagi, ditambah kedatangan Hami di kantin tadi. Jadi, inilah keputusan Letta, ia akan menuntun sepedanya sampai rumah.
Ia tak punya tenaga untuk sekedar mengayuh. Untuk jalan saja ia sangat lamban, apalagi kalau harus mengayuh. Tak apa kalau harus sampai rumah sudah Maghrib, lagian dulu juga ia biasa seperti itu ketika bersama Hami yang suka mengajaknya bermain, jalan-jalan sekedar mencari makan dulu sebelum pulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mischievous Boy
Novela JuvenilHanya karena selembar kertas DO dari sekolahnya, hidup seorang Alex menjadi berubah 180 derajat. Yang biasanya dimanjakan dengan kekayaan orang tuanya di kota, harus rela dipindahkan ayahnya ke desa tempat neneknya tinggal tanpa membawa apapun. Dan...
