Yuda diam, diam, merenungi kisah Raken. Singkat saja ceritanya, tak sejelas apa yang ada dalam ingatan Raken. Raken tak menceritakannya panjang lebar, tapi itu pun sudah cukup untuk membuat Yuda mengerti betapa menyakitkannya situasi Raken saat itu.
"Habis itu?" tanya Yuda penasaran. "Kok kamu masih sekolah di sini? Jadi mereka berdua yang keluar dari sekolah?" tanyanya lagi.
"Gak tahulah kenapa, tiba-tiba tiga hari kemudian Pak Damar nelpon, nyuruh aku ke sekolah pakai seragam sekolah, masuk ke kelas, duduk, dan belajar."
"Mereka berdua? Masih sekolah sampai sekarang?"
"Satunya pindah, satunya sudah lulus. Kan kamu tahu aku tinggal kelas dua tahun," balas Raken. "Habis itu Pak Kepsek ngasih aku kuota buat melakukan pelanggaran kecil, seratus kali. Kalau lebih dari itu aku bakal ditendang dari sekolah tanpa basa-basi. Aku gak tahu apa yang ada di pikiran Pak Kepsek, aku terima aja dengan lapang dada."
"Bukan cuma lapang dada, harusnya kamu terima dengan syukur kali. Dikasih seratus kali kesempatan. Pak Kepala Sekolah mungkin sayang sama kamu."
Raken menoleh dan ingin tertawa menanggapi ucapan Yuda.
"Kamu kenapa hajar anak orang sampai masuk RS?" tanya Yuda lagi. "Badung banget," sambungnya.
"Omongannya sama kayak ayahnya, sama persis," balas Raken disambut kerutan dahi Yuda.
Dua orang yang pernah Raken hajar itu mengatainya, "Ibunya pelacur, ayahnya bandar narkoba, anaknya calon penjahat, Rakenza namanya."
Itu jadi olokan kedua orang itu setiap kali melihat atau berpapasan dengan Raken. Raken sudah mencoba sabar, tapi apalah daya, tak tahan juga mendengar kata-kata seperti itu berulang-ulang. Akhirnya dia tonjok kedua orang itu. Sayang, karena terlalu kalap dia malah kelepasan menghajar sampai mereka babak belur.
§§§
Rapat diadakan untuk memutuskan apakah Rakenza dikeluarkan atau tidak, padahal Raken tak masuk sekolah lagi, dan setahunya dia sudah resmi dikeluarkan. Akan tetapi, sekolah takkan mengeluarkan siswa dengan asal bicara, perlu pertimbangan dan rapat dahulu, sekalipun sudah pasti akan dikeluarkan.
Sehari sebelum rapat, orang tua murid yang dilempar asbak oleh Raken menyatakan bahwa dia ingin memindahkan anaknya ke sekolah lain. Dia bertemu empat mata dengan kepala sekolah. Entah apa yang dibicarakan, tapi kalau dilihat dari wajah Pak Kepala Sekolah setelah orang tua murid itu keluar, dia terlihat sedikit menyimpan raut tak senang. Mungkin kata-kata orang tua murid itu agak keterlaluan.
Rapat berlangsung kurang damai. Ternyata tak semua guru setuju Raken dikeluarkan. Yang tidak setuju adalah Bu Linda sebagai guru BK, Bu Indika sebagai wali kelas, dan Pak Sabar sebagai ... mungkin sebagai orang yang sabar.
Dan ternyata kepala sekolah sendiri pun diam-diam juga kurang setuju. Sisanya setuju Raken dikeluarkan dari sekolah, apalagi Pak Damar yang selalu memojokkan Raken di dalam perdebatan itu.
Inti dari perdebatan itu adalah kalau Raken tidak dikeluarkan, sekolah akan meluluskan calon penjahat, tapi sisi lain berkata, justru kalau Raken dikeluarkan, sekolah akan mengantarkannya menjadi penjahat.
Kepala sekolah diam dalam kalut, kepala botaknya terasa panas. Memang panas hatinya melihat tingkah Raken yang mempermalukan sekolah di kantor beberapa hari yang lalu itu. Dan jujur saja dia mengusir Raken saat itu karena otaknya sedang mendidih. Namun, setelah berpikir dan berpikir lagi, sulit untuk mengeluarkan anak itu. Dia punya ikatan tersendiri dengan Raken yang membuatnya berat untuk menendangnya dari sekolah.
Dan karena ingatan akan ikatan itulah akhirnya kepala sekolah memutuskan untuk tidak mengeluarkan Raken! Hanya memberinya hukuman membersihkan toilet dan taman sekolah selama sebulan! Hampir semua guru terlonggok kaget.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKENZA
General Fiction"Setiap orang punya sudut pandangnya sendiri tentang apa itu kebahagiaan." Itulah yang Raken katakan ketika ada yang berpikir betapa tidak bahagianya jadi dia. Raken adalah pemuda biasa, tapi di sekolahnya dia dianggap luar biasa. Luar biasa tolol k...
