Kia terpaku, air matanya seolah tertahan dan tak jadi jatuh. Ada desiran hangat yang merayap di rongga dadanya dan ada rasa sejuk seperti es yang mencubit hatinya. Dia melebarkan sorot matanya dan melihat Raken yang tersenyum hangat di depan matanya. Dan di detik ini, air mata, rasa lelah, dan rasa sedihnya menguap hilang entah ke mana.
Tapi, Raken tiba-tiba tersadar.
"Hah? Aku ngapain anak orang?" batinnya setengah kikuk menyadari sikapnya sendiri.
Raken melepas tangannya dari pundak Kia dengan pelan sambil menatap wajah gadis yang balik menatapnya itu. Entah kenapa sekarang hati Rakenlah yang terintimidasi. Dia tak tahu dia tadi berbuat apa dan sekarang harus berbuat apa. Tadi itu sungguh refleks. Untuk apa dia mencium Kia? Inilah akibat terlalu lama berduaan pikir Raken. Mungkin ini alasan gurunya melarang perempuan dan laki-laki terlalu lama berduaan pikirnya lagi.
Kia masih menatap Raken sambil menggosok mata kirinya yang sebenarnya sudah kering dari air mata.
Raken menunduk. Otaknya mencari celah untuk berpikir. Apa yang harus dia lakukan? Dia telah mencium Kia dan akan ambigu rasanya kalau dia tidak melakukan klarifikasi perasaan. Hah? Klarifikasi perasaan? Kalau Yuda mendengarnya dia pasti tertawa geli sampai terjungkal karena kata-kata itu terdengar amat konyol.
Tapi haruskah secepat ini? Raken memang mulai menyukai Kia, tapi apa harus secepat ini dia ungkapkan?
Otak Raken rasanya bergemuruh, dadanya tiba-tiba dipompa oleh perasaan tak sabar, bibirnya masih ragu untuk berkata, tapi hatinya mendorong-dorongnya untuk mengungkapkannya secepatnya saja.
Memang, ada "rasa" di hatinya untuk Kia, tapi masih belum sepenuhnya utuh karena masih ada celah untuk Emily di sana–Emily yang statusnya membuatnya patah hati itu.
Tapi, bukankah perasaan bisa tumbuh seiring bergulirnya waktu dan seiring dengan ikatan yang mulai coba dibangun? Tidak apa-apa kan mereka punya ikatan sambil belajar menggali lebih dalam lagi perasaan yang ada?
Raken masih diam. Dia lalu kembali menatap Kia dan mengutarakan kata basa-basi sambil membiarkan otaknya berpikir untuk mencari kata-kata yang pas.
"Pokoknya lulus sekolah ini kamu harus jadi polwan, Ki," kata Raken.
Kia menatap Raken nanar.
"Kamu sendiri mau jadi apa?" tanya Kia mengalihkan fokus pikirannya yang masih saja meresapi betapa indahnya ciuman hangat tadi.
"Aku masih gak tahu, sih, aku mau jadi apa nanti," kata Raken sambil menunduk sejenak. "Nanti kupikirkan, mau kerja atau apa, tapi ... sebelum itu, ada satu hal yang aku sudah yakin mau, tinggal kamunya aja lagi," kata Raken sambil rasanya ingin menonjok-nonjok hatinya sendiri. Jujur saja dia tak pernah mengatakan hal seperti ini pada gadis mana pun.
Kia menatap Raken dengan bola mata cokelatnya. Ada getaran kecil di hatinya mendengar ucapan mencurigakan itu. Mungkinkah? Pikir Kia dengan harapan sekaligus rasa malu.
Raken menatap Kia dengan sorot dan senyuman yang entah mengapa tiba-tiba terlihat amat dalam. Hati Raken sedikit berontak, tiba-tiba muncul ketidaksabaran yang hebat di dalam dadanya, tak sabar ingin memecah perasaan yang terpendam di sana. Kia tiba-tiba terlihat sangat menarik di matanya sore ini, dan rasanya ada yang menarik bibirnya untuk berucap:
"Aku mau ... jadi cowokmu, Ki."
Raken menatap Kia. Ya, akhirnya bibirnya meloloskan juga kata-kata itu dari pikiran dan hatinya. Raken merasa ucapan itu sangat menggelikan, tapi apa boleh buat, dia tak berpengalaman.
Kia merasa ada hentakan dan gemerisik di rongga dadanya. Mata besarnya reflek menatap Raken dengan sorot tanya.
"Beneran," kata Raken sambil menatap Kia, seolah tahu bahwa arti dari sorot mata Kia adalah sebuah tanda tanya. "Boleh, gak?" tanyanya dengan sorot santai yang coba mengusir rasa kaku sebisanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKENZA
General Fiction"Setiap orang punya sudut pandangnya sendiri tentang apa itu kebahagiaan." Itulah yang Raken katakan ketika ada yang berpikir betapa tidak bahagianya jadi dia. Raken adalah pemuda biasa, tapi di sekolahnya dia dianggap luar biasa. Luar biasa tolol k...
