Bab 34 - Haruskah Seperti Ini?

1.8K 205 12
                                        

Dentang pagar besi yang terbuka terdengar pelan. Emily telah sampai di rumah, sendirian, dengan wajah layu.

"Loh? Kapan pulangnya?" Pak Jana yang berjalan di sisi rumah kaget saat melihat Emily masuk ke halaman. "Kenapa gak bilang?"

"Maaf, Pak," balas Emily dengan senyum menyesal. "Aku naik angkutan umum aja tadi, gak jadi minta jemput," jelasnya.

"Lah, yang benar?" tanya Pak Jana sedikit khawatir.

"Benar, Pak," balas Emily sambil naik ke beranda, duduk di atas bangku, dan melepas sepatunya. Gadis itu sedikit menahan rasa pegal di kaki.

"Teman kamu yang berdua tadi mana?"

"Mereka mampir ke tempat lain dulu tadi, Pak. Aku duluan. Makanya aku sampai lebih dulu," jelas Emily. Dengan menyesal dia terpaksa berbohong. Bagaimanapun, Emily bukanlah tipe orang yang senang mengucap keluh kesah pada orang lain, kecuali pada ayahnya sendiri dan ... Raken. Sayangnya, hari ini Rakenlah yang membuatnya berkeluh kesah.

Pak Jana sedikit tak habis pikir. Untung anak Rean ini tidak kenapa-kenapa pikirnya. Kok bisa-bisanya tadi berpesan minta dijemput kalau sudah mau pulang, eh sekonyong-konyong malah sudah sampai rumah tanpa memberi kabar sebelumnya. Kalau Emily adalah anaknya sendiri, sudah pasti dia marahi sejenak. Kini Pak Jana memperhatikan Emily sejenak, takut anak itu diam-diam "kenapa-kenapa", tapi mungkin Emi pulang naik angkutan karena memang ingin merasakan suasana yang berbeda bersama teman-temannya.

"Aku capek, Pak. Istirahat dulu, ya. Oya, nanti kalau temanku ambil motor dan aku masih tidur, gak usah dibangunin ya, Pak. Mereka paham aja, kok. Capek banget," jelas Emily sambil mencoba tersenyum walau matanya menampakkan sorot sesal karena lagi-lagi harus berbohong.

Emily melangkah masuk ke dalam rumah.

"Loh. Sudah pulang, Nak?" tanya Bu Jana yang sedang berada di dapur saat melihat Emi masuk ke kamar.

"Iya, Bu," balas Emi sambil menutup pintu kamar.

Emily melepas jaket, menyandarkannya di punggung kursi putih dekat meja, dan menaruh ransel di atas meja itu. Emi meletakkan ponsel yang sudah dia nonaktifkan di dekat ransel.

Emi melonggarkan lelah di tubuh dan jiwanya. Dia merebahkan badannya di atas tempat tidur. Berharap bisa langsung tertidur saja karena dia sudah terlalu lelah memikirkan kejadian tadi di kepalanya.

Emily membalik tubuhnya, tangan kanannya merangkul guling. Dia lalu menenggelamkan wajahnya di antara bantal dan guling. Akh, Emily benci ini. Rasanya dia ingin pulang hari ini juga. Semoga bisa.

Sementara Raken dan Kia? Mereka juga hampir sampai. Namun, tak ada sama sekali kata yang terucap antara mereka berdua. Tadi Raken dengan cemas mengejar Emily, tapi tak menemukan gadis itu. Saat dia telah sampai di pinggir jalan raya dan tak menemukan Emily, dia baru teringat Kia. Raken kembali ke dalam deretan pepohonan dengan tangan memegang ponsel, berusaha menelepon Emily dan mengiriminya pesan. Dia lalu menemukan Kia, tapi Kia tak menampakkan gurat menenangkan sama sekali, gadis itu tampak tak senang dan diam saja. Raken pun tak mengucap sepatah kata pun padanya.

Kalau Kia marah padanya karena meninggalkannya, dia juga punya hak untuk marah pada gadis itu pikirnya. Bagaimana bisa Kia memasang wajah masam seperti itu? Temannya sedang pergi sendirian entah ke mana dan dia sama sekali tidak mencemaskannya? Sempat-sempatnya dia marah di situasi begini. Dan begitulah akhirnya, sepasang kekasih itu tak ada mengucap kata sejak bertemu kembali dan melangkah bersama.

Emi membuka matanya. Apakah dia harus mengirim pesan pada Raken atau Kia? Mengatakan pada mereka kalau dia sudah sampai supaya mereka tidak cemas, mengatakan pada mereka kalau di jalan akan ada saja angkutan umum yang akan mengantar pulang?

RAKENZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang