Takdir punya kemudinya sendiri. Kita tidak bisa mengendalikannya
***
Matahari tenggelam di bawah selimut senja, langit di atas sini sampai di ujung sana semuanya kelabu seperti lukisan duka, dan hujan-hujan kecil luruh dari awan-awan tipis yang berkelumun di angkasa.
Raken duduk sendiri di beranda, dengan kursi roda yang setia menemaninya, menunggu Wulan pulang les dari sekolahnya. Wulan sudah kelas dua belas dan sebentar lagi akan mengikuti Ujian Nasional.
Raken melihat ke ujung gang. Wulan belum juga pulang.
Raken memutar kursi rodanya dan masuk ke dalam rumah, berhenti di depan meja pendek yang dipenuhi peralatan masak. Sejak beberapa bulan lalu, Gon memotong sebagian kaki meja dapur itu supaya Raken bisa dengan nyaman meraihnya.
Raken menyalakan kompor. Dia memasak makanan untuk dia makan bersama Wulan yang sebentar lagi mungkin akan pulang.
Raken terdiam sambil menunggu air mendidih di dalam panci kecil. Dia memikirkan sesuatu. Tiga bulan sudah berlalu sejak Kia menyinggung soal perjodohannya. Raken pun sudah sepenuhnya melepas jerat kasih padanya. Sejak hari itu hanya sekali Kia pernah berkunjung kembali. Itu pun dengan kecanggungan dan air mata sesal darinya. Dan sampai detik ini, Kia tak ada lagi datang, hanya undangan pernikahannya saja yang tiba. Undangan yang kini tergeletak di atas meja makan sejak empat hari yang lalu.
Raken menatap air yang mulai mendidih. Sorot matanya sedikit merenung. Dua hari lagi Kia menikah. Dan sebagai laki-laki yang pernah bersamanya, dia pasti akan datang. Sedikit masa lalu bersama Kia melanglang di benaknya. Banyak hari yang telah dia lalui bersama gadis itu. Raken tersenyum masam sendiri. Ya, biarlah semua kenangan masa lalu bersama gadis itu hangus di belakang.
Kia katanya akan menikah dengan pria yang dikenal baik oleh bibinya. Pria yang berasal dari kampung halaman yang sama dengan Kia. Pria itu kini bekerja di kota ini, di sebuah kantor pajak dengan jabatan yang menjanjikan, lebih tua enam tahun dari Kia, dan berasal dari keluarga yang mapan, serta terpandang.
Raken mengaduk air di panci yang mendidih, memasukkan potongan sayuran, dan mi instan kesukaan Wulan ke dalamnya. Pikiran Raken melanglang ke mana-mana. Dia berpikir kalau dia tidak ada apa-apanya dibanding calon suami Kia. Wajarlah Kia lebih memilih pria itu dibanding dia yang menyedihkan ini. Dia yang bahkan tak bisa menopang dirinya sendiri dan tak bisa melakukan apa-apa tanpa bantuan orang lain, bukan berasal dari keluarga baik-baik, keluarga terpandang, atau keluarga mapan, bukan lelaki kaya, tidak bisa bekerja, dan menghabiskan waktu di kursi roda. Wanita mana yang mau dengan dia pikir Raken sambil tersenyum masam.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki di beranda.
"Kak Raken ngapain?" tanya Wulan. Gadis itu menutup pintu rumah karena hari sudah senja. Dia lalu melangkah ke dapur setelah menaruh tas sandang hitamnya ke gantungan di sisi lemari.
Wulan menghampiri Raken dan heran. Dia meminta Raken untuk istirahat saja, tapi Raken bilang dia tidak mau kebanyakan istirahat. Dia harus sering berlatih untuk bergerak supaya tubuhnya tidak kaku dan bisa kembali leluasa digerakkan. Wulan pun mengiyakan. Dia menyusun piring berisi makanan ke meja, lalu mendorong kursi roda Raken. Mereka pun makan bersama-sama.
Wulan tinggal bersama Raken walaupun mereka tidak punya ikatan darah. Mau bagaimana lagi? Hanya Wulanlah satu-satunya yang bisa merawat dan menjaga Raken. Dia tak mungkin tega membiarkan Raken sendirian di rumah. Raken takkan bisa bertahan tanpa bantuan dengan kondisinya yang masih seperti sekarang ini. Lagi pula, mereka berdua sudah seperti saudara, sama-sama menganggap satu sama lain sebagai adik dan kakak.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKENZA
General Fiction"Setiap orang punya sudut pandangnya sendiri tentang apa itu kebahagiaan." Itulah yang Raken katakan ketika ada yang berpikir betapa tidak bahagianya jadi dia. Raken adalah pemuda biasa, tapi di sekolahnya dia dianggap luar biasa. Luar biasa tolol k...
