Tidak semua hal mudah dikatakan, begitu pun sebuah kenyataan dan kejujuran, tetapi bukan berarti kita memilih untuk tetap diam.
***
"Dia memang anak yang pemberani. Dia juga pernah menolongku dulu. Hampir saja nyawanya melayang juga waktu itu," ucap kepala sekolah, pahit. Dia baru saja keluar dari ruang ICU dan kini duduk di ruang tunggu bersama rekan-rekannya.
Pak Damar kelihatan diam saja. Bu Linda menatapnya haru saat menyadari bahwa Pak Damar sekarang amat dekat dengan Raken. Guru olahraga itu bahkan dua hari ini izin tak kerja untuk mengurus beberapa keperluan Raken di rumah sakit.
Bu Indri yang duduk di samping Bu Linda mengelap wajah merahnya dengan tisu. Dia lalu menoleh ke suatu arah dan melihat seseorang mendekat.
Gon datang terseok-seok. Dia melangkah dengan kaki kiri agak pincang. Di dahinya ada tempelan plester luka dan ada lebam samar di pipi dekat telinga kanannya. Wajahnya terlihat awut-awutan. Dia berkelahi dengan beberapa preman di GT tadi pagi. Dia menghajar salah satu teman dari pelaku yang menembak Raken. Dia baru tahu kabar penembakan itu subuh tadi saat mendengar pembicaraan orang.
Saat penembakan terjadi, Gon tidak di GT. Dia sedang di kota lain untuk menjalankan misi menipunya–yang ternyata masih dia jalani. Saat tahu kabar soal Raken, Gon dengan murka kembali ke GT. Dia mendapati beberapa orang yang dirasa pantas mendapatkan tembakan amarahnya, lalu menghajarnya. Orang-orang itu menghajarnya balik karena tak terima disalahkan. Toh, mereka juga tidak tahu menahu jika teman mereka berencana menembak Rean Dinarta yang malah mengenai Raken.
Beberapa orang yang ada di ruang tunggu memperhatikan Gon sejenak. Pria itu terlihat agak kebingungan, pakaiannya kotor dan penampilannya kelihatan kasar, sangar, tapi kasihan. Gon menoleh ke kiri, lalu duduk di kursi ruang tunggu. Tadi dia ingin masuk ke ruang ICU, tetapi dilarang karena pasien tidak boleh terlalu banyak menerima pembesuk.
Gon diam, masih tersisa napas kemarahan di dirinya mengingat kabar penembakan itu. Dia murka dan resah. Bagaimana tidak? Raken itu seperti anak sendiri baginya. Dia ikut merawatnya sejak kecil. Gon bersumpah tidak akan membiarkan si penembak–yang kini sudah diamankan polisi–itu selamat jika nantinya nyawa Raken tak tertolong.
Kepala sekolah dan beberapa guru bersiap pergi. Bu Mateka yang duduk di samping Gon segera berdiri. Dari tadi dia sudah tidak sabar ingin pergi karena keberadaan Gon di sisinya sedikit mengganggu indra penciuman. Kepala sekolah pamit pada Pak Damar yang masih tetap tinggal dan berencana pulang besok pagi.
Tak lama kemudian Pak Damar menghampiri Gon. Dia mengajak Gon bicara basa-basi. Gon lalu menanyakan keadaan Raken. Pak Damar menjelaskannya. Gon terdiam. Dia sangat sakit hati mendengar penjelasan Pak Damar tentang apa yang akan terjadi pada Raken. Tangannya bergetar menahan rasa berang yang meradang di tubuhnya.
Bunyi mesin dari nada-nada kehidupan yang naik turun terdengar di ruang yang dingin. Raken masih lelap dengan tidur panjangnya–mungkin tidur terpanjang selama hidupnya. Dia masih diam membisu, ditemani berbagai gawai medis yang membantunya berjuang mempertahankan hidup dan tarikan napas. Tangannya sedikit bergerak, perawat melihatnya sejenak. Ada lenguhan kecil di bibirnya, mungkin dia sedang melawan rasa sakit.
Keadaan Raken memang sudah membaik dan tingkat kesadarannya semakin membaik pula, tetapi sakit yang dia tanggung akan menyiksa. Dan jika dia berhasil bertahan, dia harus siap menerima kenyataan bahwa sisa hidupnya ke depan mungkin akan dijalani dengan perjuangan yang lebih berat. Dia bisa saja lumpuh permanen, dan dia harus menjalani fisioterapi yang sangat panjang.
Klek
Handel pintu ditarik dari dalam. Emily masuk dengan senyum sekilas berbalut lelah. Dia masih bisa menyapa asisten rumah tangga yang membukakan pintu dengan ramah meski hatinya resah.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKENZA
Ficción General"Setiap orang punya sudut pandangnya sendiri tentang apa itu kebahagiaan." Itulah yang Raken katakan ketika ada yang berpikir betapa tidak bahagianya jadi dia. Raken adalah pemuda biasa, tapi di sekolahnya dia dianggap luar biasa. Luar biasa tolol k...
