Bab 41 - Sepenggal Akhir Hidup Sera

2.7K 299 34
                                        

Ini partnya panjaang. Jadi, tarik napas dalam-dalam, ya.

***

Sera sebenarnya punya kesempatan untuk bangkit meniti kehidupan yang lebih baik, tapi nafsu menuntunnya ke dalam jurang kehancuran.

Kehidupan Sera mulai membaik saat anaknya berusia tujuh tahun. Itulah sebabnya amukan serta makiannya padanya sudah berkurang. Dia punya pelampiasan lain. Awalnya, Sera bekerja sebagai kasir di tempat main biliar, lalu menjadi score girl di sana. Dari uang hasil bekerja yang dia dapat, separuhnya dia gunakan untuk modal berjualan rokok dan minuman keras di rumahnya. Lama-lama Sera berhenti menjadi score girl dan fokus ke usaha saja karena muak digoda beberapa pria hidung belang di tempatnya bekerja. Toh, uang hasil dari berjualan sudah mencukupi. Saat kehidupannya mulai membaik itulah, dia menyisihkan sebagian besar uangnya untuk menggali nostalgia masa jayanya. Ya, obat-obatan terlarang.

"Raken, makan dulu," suruh Sera.

Raken menoleh. Tangannya memegangi sebotol minuman keras. Di depannya berjejer minuman keras berbagai merek yang dia susun untuk mainan.

"Awas kalau pecah lagi," ucap Sera kasar.

Anaknya pernah memecahkan sebotol minuman keras sebelumnya. Sera menghajarnya habis-habisan karena harga sebotol minuman keras itu mahal. Akan tetapi, namanya juga bocah, walau kemarin dimarahi, tetap saja hari ini dia masih berani main dengan botol-botol minuman itu. Maklumlah, ibunya jarang sekali membelikannya mainan. Jadi, dia mencari apa pun yang bisa dimainkannya.

Sera duduk bersandar di dinding, lalu mengikat rambut sesikunya. Dia mengeluarkan uang dari tas dan menghitung lembar demi lembar uang itu. Wajahnya terlihat sedikit sumringah. Dia punya cukup banyak uang sekarang walaupun rumahnya sederhana dan tinggal di tempat buruk. Dan meski kini dia bergaya biasa, tidak semewah dahulu, tetapi resap demi resap fantasi dari obat-obatan terlarang kembali bisa dia nikmati.

"Cepat makan," perintah Sera saat Raken masih sibuk dengan "mainannya".

Sera memasukkan uang yang sudah dia susun rapi ke dalam dompet.

"Apa susahnya makan, hah?!" serunya pada anaknya.

Sera bangkit dan menghampiri anak itu, menarik tangan kanannya, dan menyeretnya ke depan sepiring nasi berlauk telur mata sapi penuh kecap.

"Gak lapar," rengek Raken.

"Gak lapar apa? Kemarin merengek kelaparan, sekarang dikasih makan bilang gak lapar. Dasar anak bajingan!" kata Sera kasar.

Raken lalu manut. Dia duduk sambil memegang sendok. Anak itu menyendok nasi dingin dan memakannya dengan pelan, takut diamuk ibunya.

"Bereskan itu semua sehabis makan." Tunjuk Sera ke jejeran botol minuman keras yang bergelimpangan di lantai.

Sera lalu masuk ke kamar mandi. Raken masih makan, pipinya agak celemotan oleh kecap yang tadi membaluri telur mata sapinya. Saat Sera keluar dari kamar mandi empat belas menit kemudian, Raken masih belum menyelesaikan makannya.

Sera melewati anaknya yang makan dengan lambat. Anak itu sudah kelas tiga SD, tapi makan pun masih berhamburan ke mana-mana, pipi dan bibirnya masih celemotan oleh bulir nasi dan kecap. Sera sungguh tak habis pikir.

RAKENZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang