Bab 27 - Hari yang Terakhir

2.4K 203 13
                                        

Masa-masa SMA akan merekat dalam memori dan jadi kenangan yang takkan bisa diulang. Teman-teman dan suasana khas sekolah akan membuat rindu. Mungkin tidak hari ini, tapi suatu hari nanti.

Semua kekonyolan dan ketololan itu, kesedihan dan rasa lelah itu, hingga rasa bahagia dan segala tawa yang pernah ada, tertanam di dalam ingatan. Akan menyenangkan jika suatu hari nanti bisa berkumpul kembali, menggali masa-masa itu dalam sebuah reuni. Namun, apakah semuanya bisa berkumpul bersama lagi bertahun-tahun yang akan datang? Hanya waktu dan takdir yang dapat mengisi jawabannya.

Sebentar lagi hari perpisahan. Emily sudah menyelesaikan tes SNMPTN dan pulang ke rumah "utamanya" karena kampus yang dia tuju ada di kota itu. Dia menghabiskan sebagian waktunya dengan ayah dan kerabatnya di sana.

Emily memilih jurusan Kedokteran, Kia akan masuk ke Sekolah Polwan, tapi Raken dan Yuda masih berjalan di persimpangan, entah ingin kerja atau kuliah.

Yuda bilang dia ingin kerja, tapi teman-temannya bilang jangan kerja dulu. Mereka bilang Yuda pintar di akademik, sayang kalau tidak melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Sementara Raken, dia juga pilih kerja, tapi Pak Damar dan Bu Linda menyarankannya untuk mencoba daftar kuliah saja dulu.

***

"Masuk, Da. Untung hari ini di rumah gak ada Jeki sama ayahku," kata Kia pada Yuda sambil melangkah ke kamarnya sejenak.

Yuda masuk ke dalam rumah Kia dan duduk tak jauh di depan ambang pintu yang terbuka. Matanya menatap sejenak ke lemari TV di dekatnya yang tampak kosong tanpa TV dan rak kecil di bawahnya sudah tak dilapis kaca lagi. Di dalamnya terlihat botol minuman keras yang bergelimpangan dan kartu remi serta domino. Beberapa lembar uang yang teracak-acak juga ada di dalam situ.

"Ada apa?" tanya Kia sambil keluar dan duduk bersila tak jauh di depan Yuda.

Tadi Yuda mengirim pesan padanya, berkata ingin membicarakan sesuatu.

"Pengen ngasih tahu kamu sesuatu, Ki. Aku juga gak tahu, sih, kenapa jadi pengen ngasih tahu ini ke kamu, tapi aku merasa kamu lebih pas buat menyampaikan apa yang mau aku kasih tahu ke kamu ini nanti ke dia," jelas Yuda.

"Dia? Dia siapa? Raken?" tanya Kia penasaran dan agak heran.

Yuda tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Kia.

Kia menatap Yuda dengan sorot heran. Dia merasa Yuda terlihat berbeda dari biasanya. Dia merasa hari ini Yuda tampak begitu teduh di pandangan matanya.

***

Dan hari ini pun tiba. Hari perpisahan.

Aula sekolah ramai, sound system mendengung sejenak. Para guru terlihat berseragam dinas dengan rapi, para adik-adik kelas berkumpul sambil memperhatikan kakak-kakak kelas yang mereka kagumi, para orang tua atau wali murid juga sudah berdatangan dengan setelan jas, batik, atau kebaya.

Dan hari ini mau tak mau Emily membiarkan orang-orang tahu kalau ayahnya adalah Rean Dinarta–orang yang dikenal itu–karena memang hari ini Rean bukan hanya datang menghadiri kelulusan anaknya, tapi juga menghadiri undangan istimewa dari kepala sekolah.

Emily masih di perjalanan, duduk santai di dalam mobil dengan kebaya warna abu dihias manik indah. Dia terlihat menggemaskan dengan dandanan simpelnya. Ayahnya duduk di sisinya dengan tenang. Hari ini mereka berangkat diantar sopir dan satu asisten pribadi Rean.

Sementara di sisi lain, Kia sudah ada di dalam aula bersama teman-teman sekelasnya. Gadis yang cukup jangkung itu memakai kebaya sederhana berwarna biru tua, dan wajahnya bertambah manis dengan riasan minimalis. Dia menoleh ke kanan kiri sejenak, mungkin mencari di mana kekasih hatinya berada.

RAKENZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang