GT memanas, begitu pun otak Raken. Beberapa hari ini gencar pemberitaan tentang rencana dirubuhkannya GT. Setelah dirubuhkan, rencananya GT akan disterilkan sementara untuk kemudian dibangun menjadi pusat perbelanjaan. Nantinya menurut wacana, sepanjang GT akan diubah menjadi semacam jejeran stan makanan, oleh-oleh khas daerah, pakaian, aksesoris, dan lainnya. Seperti pasar terbuka yang memanjang dari ujung ke ujung. Itulah yang tertera di sebuah koran yang sedang Raken baca.
Raken melipat koran itu, menaruhnya ke kios kecil di belakangnya yang penuh jejeran koran dan majalah serta beberapa buku.
"Dibeli gak, nih?!" ucap bibi yang ada di dalam kios kecilnya, seukuran gerobak martabak.
Raken yang sedang duduk di bangku plastik depan kios menoleh kaget.
"Ikut baca aja, Bi," kata Raken disusul cengiran.
"Elah! Kalau semuanya cuma numpang baca, ya gak laku koran-koranku ini!" seru bibi bersuara nyaring itu sambil melipat koran dan ingin memukulkannya ke arah Raken, tapi tak jadi. Dia menaruh koran itu ke tempatnya lagi dengan geregetan sambil mengikat rambut gelombangnya yang tergerai acak-acakan.
"Makanya ditulisin dong, Bi," kata Raken seraya menoleh sambil berdiri menghadap kios. "Kalau baca wajib beli, gitu, Bi," jelasnya.
Bibi bertubuh gempal berbaju merah itu mendatarkan tatap matanya. Raken menertawakannya.
"Iya aku beli, Bi, beli," ucap Raken setelah berhasil membuat si bibi sedikit kesal. "Di sini gak ada berita yang aku cari, Bi. Aku nyari koran terbitan kemarin-kemarin. Ada, gak?" tanyanya.
"Oh, ada!" balas si bibi. "Tapi sedikit," katanya sambil membongkar tumpukan koran bekas di dalam kios.
"Ya gak apa-apalah, semoga yang dicari ada," kata Raken.
"Berapa, Bi?" tanyanya seraya melihat tumpukan koran di depannya.
"Dua ribu, kalau mau bayar tiga ribu gak masalah, Dik."
"Nih, aku bayar seribu aja," kata Raken menaruh uang seribu di atas tumpukan koran.
Bibi itu memasang wajah protes.
"Iya, iya, dua ribu," kata Raken sambil menaruh selembar lagi uang di atas koran, lalu pergi sambil meninggalkan cengiran pada si bibi.
Tok tok
"Tunggu, Kak!" balas suara kecil, tapi nyaring.
Pintu terbuka, seorang gadis berkulit cokelat nan manis, dengan tubuh agak kurus dan agak tinggi menyambut Raken dengan senyum ayunya. Wulan sudah tujuh belas tahun, tumbuh jadi gadis yang elok, dan "sedikit" lebih bisa mengontrol dirinya dibanding saat dia masih bocah SD dahulu. Dia dahulu suka bicara nyaring, kelewat aktif kalau lagi senang, tapi sekarang gurat riang di wajahnya berlapis sedikit kesan malu-malu kucing. Dia tidak seheboh dan seblak-blakan saat masih kecil. Raken bilang, Wulan itu waktu kecil tidak tahu malu, sudah besar malah terlihat pemalu.
"Aku lagi makan. Kak Raken sudah makan?"
Raken masuk ke rumah Wulan, langsung merebahkan diri di atas kasur.
"Aku capek, Cel. Kamu makan aja sendiri. Nih, korannya," kata Raken sambil memberikan koran pada Wulan.
"Makasih, Kak," ucap Wulan girang. "Aku gak ada minta dicarikan padahal. Cuma bilang lagi ada tugas kliping tentang lingkungan," katanya sambil memandangi koran di tangannya dengan senang.
"He-he-he," balas Raken pelan dengan mata terpejam.
Wulan tertawa tipis mendengar kekehan Raken. Dia lalu kembali duduk di depan meja lipat kecil, menghabiskan makanannya, nasi putih dengan lauk telur mata sapi.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKENZA
Ficción General"Setiap orang punya sudut pandangnya sendiri tentang apa itu kebahagiaan." Itulah yang Raken katakan ketika ada yang berpikir betapa tidak bahagianya jadi dia. Raken adalah pemuda biasa, tapi di sekolahnya dia dianggap luar biasa. Luar biasa tolol k...
