Tapak kaki yang bergantian menginjak tanah terdengar tergesa. Suara gaduh terdengar samar, tersembunyi di balik rapatnya dinding-dinding rumah.
Langkah kaki Kia telah sampai di pelataran rumah. Dia lalu menggerak-gerakkan handel pintu sambil mendorongnya, tapi sia-sia, tak terbuka sedikit pun. Pintunya dikunci dari dalam. Kakinya lalu dengan tergesa mengantarnya ke samping rumah.
Jendela berdebu yang tertutup rapat ditarik oleh tangan kurus Kia sekuatnya. Jendela yang memang tak pernah dikunci itu pun dia buka. Langsung saja Kia memasukkan setengah badannya ke jendela yang terbuka, disusul oleh kedua kakinya. Dia sekarang ada di dalam kamarnya dan suara gaduh semakin jelas merayap ke dalam telinganya. Tanpa pikir panjang, dia keluarkan kunci dari dalam saku bajunya dan membuka pintu kamar dari dalam.
Hantaman tubuh Jeki menyambut Kia saat pintu terbuka. Kaki Kia mundur selangkah tanpa dia mau karena tubrukan itu.
Jeki menjauh dari Kia dan kembali berhadapan dengan seorang pria berbadan cukup besar dengan tangan kekar dan bekas luka bakar memanjang di lengan kiri. Pria berkumis lebat dan berkalung hitam di leher itu membuang botol minuman keras yang digenggamnya ke arah Jeki. Kia menarik Jeki ke kiri, membuatnya terhindar dari botol yang melayang.
Jeki mengeluarkan kata-kata serapah beruntun sambil menunjuk-nunjuk pria di depannya yang melangkah menghampirinya dengan tapak kaki penuh kegeraman.
"Jangan. Sudah, jangan," sela Kia sambil menarik paksa Jeki mundur ke belakang, lalu menghampiri ayahnya dan menahannya agar tidak mendekati Jeki.
Jeki menarik Kia ke belakang, menjauhkannya dari ayahnya.
"Bangsat, minggir," ucap Jeki yang limbung pada Kia yang hampir terjatuh ke belakang karena tarikan kasarnya.
Ayah Kia menunjuk-nunjuk Jeki dengan mata merah dan tubuh yang juga hampir limbung. Jeki membalas tunjukan itu dengan kata serapah. Kia memukul kepala Jeki dengan tasnya tanda tak suka dengan ucapan kotornya. Jeki menoleh pada Kia dan mendorong bahunya dengan setengah pukulan.
Suara barang berhamburan mengagetkan Kia dan Jeki. Kia menatap ayahnya yang membuang botol-botol minuman keras yang tadinya berjejer di dalam bufet.
"Bangsat!" Jeki menghampiri ayahnya dan ingin mendorongnya, tapi Kia menarik bajunya, menghentikannya.
"Mulut tuh dijaga!" omel Kia kesal pada Jeki sambil menariknya menjauhi ayahnya.
Ayah Kia melempar satu botol minuman keras murahan ke dinding sampai pecah.
"Mulutmu," gumam ayah Kia setengah tak jelas sambil menunjuk Jeki dan melangkah limbung ke dapur.
Kia terkesiap dan menghampiri ayahnya di dapur, sementara Jeki melangkah ke pintu depan sambil mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya.
"Yah, jangan!" sela Kia pada ayahnya yang sedang mencabut sebilah golok yang terselip di dekat pintu kayu di dapur.
Jeki menoleh dan refleks melemparkan pisaunya ke arah ayahnya yang sedang berjongkok menarik golok. Kia yang ada di dekat ayahnya refleks menjauh sambil mengangkat kaki kanannya. Dan karena Jeki asal lempar, pisaunya salah sasaran.
Mendadak Kia merasa kakinya ngilu. Darah segar keluar dari goresan tipis yang melintang di atas mata kakinya, tapi Kia berusaha untuk tak memedulikan rasa sakit itu. Dia menyuruh Jeki segera keluar dari rumah.
Kia tahu apa akibatnya kalau ayahnya mengamuk. Ayahnya sudah pernah masuk penjara gara-gara melukai orang dan pernah beberapa kali mencelakai orang karena terpengaruh obat-obatan dan minuman keras. Kalau ayahnya sedang marah dan kurang waras harusnya tidak usah diladeni. Sayangnya, Jeki juga sama kurang warasnya, jadilah mereka berdua berkelahi seperti orang tak punya akal.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKENZA
General Fiction"Setiap orang punya sudut pandangnya sendiri tentang apa itu kebahagiaan." Itulah yang Raken katakan ketika ada yang berpikir betapa tidak bahagianya jadi dia. Raken adalah pemuda biasa, tapi di sekolahnya dia dianggap luar biasa. Luar biasa tolol k...
