Rakenza sudah dewasa, usianya sudah dua puluh satu tahun. Tubuhnya tinggi dan tegap, seperti ayahnya sewaktu muda. Senyumnya manis dan memesona, seperti ibunya di masa jayanya. Lahir dari ibu yang begitu cantik dan ayah yang cukup tampan membuatnya mewarisi raut wajah yang menarik.
Namun, ada yang jauh lebih menarik dari dirinya dari sekadar penampilan, apalagi kalau bukan kebaikan dan keteguhan hatinya? Dan itulah yang membuat dua wanita telah jatuh hati padanya.
Kia memejamkan mata dan bait senyum terbentuk indah di bibirnya. Gaung gaduh di beranda dan ruang tamu tak mengusiknya sedikit pun. Dahulu, Kia merasa tak punya tempat bersandar yang bisa menopangnya, tapi kini dia punya. Dan tempat bersandar itu adalah Raken.
Rasanya setiap kali Kia bertemu dan berada di sisi Raken, hampir semua rasa cemasnya meringkuk, lalu pergi. Tawa riang dan wajah ceria Raken tak pernah gagal membuat hatinya yang muram jadi berwarna lagi.
Di kamar lain, seorang gadis masih membuka matanya meskipun hari sudah larut malam. Tak seperti Kia, wajahnya justru agak muram saat mengingat Raken. Dia jatuh cinta, tapi dengan rasa yang berbeda. Dia sangat menyayangi pemuda yang suka nyengir manis itu, tapi rasa sayang itu justru membuatnya muram.
Emily ingin dekat dengan Raken seperti dahulu, tapi setelah status keluarganya diketahui Raken, jelas sekali di matanya Raken menjauh segan. Dia gelisah, dia ingin Raken memperlakukannya seperti dahulu, tertawa bebas dan lepas di dekatnya, saling canda dan saling asal bicara. Dongkol rasanya kalau ingat Raken.
Sepertinya malam ini begitu banyak yang memikirkan Raken, termasuk Yuda. Gila. Itulah yang muncul dalam pikiran pemuda yang sedang rebahan di kasurnya itu. Bagaimana bisa Raken dan Emily bersaudara? Bagaimana mungkin Raken anak Rean Dinarta itu? Yuda memang tak tahu menahu soal dunia politik, tapi siapa yang tak tahu dengan Rean Dinarta? Dia pernah menjabat jadi Gubernur dan pernah menjabat tangan Yuda saat ia menang lomba olimpiade IPA sewaktu SD.
Yuda paham kenapa Raken segan dengan Emily saat dia bilang ibunya adalah wanita simpanan ayah Emily, apalagi orang tua Emily bercerai saat gadis itu masih kecil. Itu seperti benang panjang yang bertautan di pikiran Raken. Raken pasti merasa ibunya adalah penyebab pecahnya rumah tangga orang tua Emily. Selain itu, tentu Raken perlu waktu untuk mendinginkan rasa kagetnya atas kenyataan bahwa gadis yang selama bertahun-tahun mencuri hatinya ternyata adalah adiknya sendiri.
Dan apa yang sedang dilakukan pemuda yang malam ini mendapat tempat di pikiran banyak orang itu? Dia sedang duduk di teras rumah ditemani seorang pria yang begitu mengenalnya karena sudah jadi bagian dari hidupnya sejak kecil. Siapa lagi kalau bukan Gon yang sedang terbatuk-batuk karena rokok.
"Om, makanya kubilang gak usah merokok. Sudah batuk-batuk begini masih merokok," omel Raken pelan dengan sorot mata tak senang. "Nanti kalau pas batuk rokoknya ketelan gimana coba?"
Gon tak memedulikan ucapan Raken. Pria itu agak cuek dan dingin memang.
"Gimana sekolahmu?" tanya Gon sambil mengembuskan asap dari lubang hidung besarnya.
"Pusing, Om," jawab Raken.
"Kenapa?"
"Bentar lagi ujian, tapi banyak banget yang ganggu pikiranku, Om. Jangan bilang aku gak lulus lagi tahun ini," kata Raken sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
Raken bingung harus bagaimana menghadapi semua ini. Ingin bersedih, tapi dia tak mampu bersedih saking kenyangnya sudah merasakan rasa sedih. Ingin bersikap biasa saja, tapi tak bisa, kenyataan yang mengusik pikirannya sulit untuk diabaikan begitu saja.
"Kayaknya aku tidur aja, deh, Om," kata Raken sambil turun dari bangku. "Gak ada gunanya ngomong sama Om Gon, gak ngerti juga," katanya disambut wajah jengkel Gon. "He-he-he, bercanda, Om. Maksudku, kasihan Om kalau aku kasih tahu masalahku. Sudah cukup Om pikirin nasib Om sendiri, gak usah ditambah-tambahin mikirin nasib Raken ini," katanya sambil nyengir dan masuk ke dalam rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKENZA
Fiksi Umum"Setiap orang punya sudut pandangnya sendiri tentang apa itu kebahagiaan." Itulah yang Raken katakan ketika ada yang berpikir betapa tidak bahagianya jadi dia. Raken adalah pemuda biasa, tapi di sekolahnya dia dianggap luar biasa. Luar biasa tolol k...
