Bab 36 - Kapankah Hari Itu Tiba?

1.9K 199 5
                                        

Tiga tahun berjalan seperti aliran air yang terjun ke dasar lereng, berlalu dengan terburu-buru.

Melewati tiga tahun yang terasa cepat itu sebenarnya tak mudah, tidak semudah membalik kalender dari 2012 ke 2015. Banyak kenangan yang harus dilepas, dan hanya ada beberapa yang pantas untuk dikemas di dalam ingatan.

Raken lanjut ke semester sembilan. Emily sudah hampir wisuda, sebentar lagi jadi S.Ked, lalu koas. Kia sudah menjadi polwan. Dia berhasil melewati tujuh bulan pendidikan tanpa Raken waktu itu. Wulan sudah SMA kelas dua. Dan kita tidak bisa memanggilnya gadis kecil lagi sekarang.

Dan Gon, dia tetap jadi penipu. Tak ada yang berubah dari dirinya. Rambut gimbalnya masih bertengger lebat di atas kepalanya. Mungkin hanya warnanya saja yang berubah jadi abu-abu tua.

Dan haruskah diberitahukan juga? Seorang pria yang "pernah" amat rekat di hati Emi, yang begitu dihormati dan dikasihinya, kini sudah menjadi seorang Gubernur. Dua tahun lalu dia memenangkan pemilihan, dan kabar burungnya, GT akan terancam.

Rencana penghancuran GT sudah terdengar sejak awal Rean kampanye, tapi masih belum terealisasi. Banyak hal yang harus diukur dan dipertimbangkan. Menghancurkan GT sama saja seperti menyerbu sarang lebah, tidak akan aman kalau dilakukan dengan gegabah.

Dan itu mungkin alasan mengapa Emily harus membiarkan kata "pernah" tersemat di antara rasa rekatnya pada Rean. Seorang pria yang "pernah" amat rekat di hati Emi. Kini, Rean memang lebih sibuk dan jarang ada di hari-harinya. Dia memang sejak dahulu jarang di rumah, tapi waktu itu Emily masih bisa menyempatkan waktu untuk menelepon ayahnya. Namun, kini sudah jarang. Bukan karena Rean yang tak bisa dihubungi, tetapi Emily yang segan menghubungi. Dia merasa, sejak hari di mana Kia secara tak langsung mengungkap seperti apa masa muda ayahnya, dia kecewa. Dan entah kenapa semakin hari rasa kecewanya jatuh semakin dalam saja setelah ditambah dengan kenyataan bahwa Rean akan merubuhkan GT, tempat Raken, anaknya sendiri, tinggal.

Emily sadar, tak seharusnya dia menyalahkan keputusan ayahnya atas penghancuran GT itu karena Rean tak tahu kalau anaknya tinggal di situ, dan karena Rean juga pernah bilang kalau penghancuran GT itu tujuannya baik. Para preman di sana akan dipulangkan ke kampung halaman mereka, beberapa akan dibina, akan ditempatkan di dinas sosial, dan para kriminal akan diadili. Namun, di antara banyaknya preman itu, ada satu orang pemuda yang bukan bagian dari mereka, pemuda berhati baik yang amat disayang Emi. Jika GT dihancurkan sebelum Raken keluar dari tempat itu, apakah dia juga akan digabung dengan preman-preman itu? Dipaksa dibina dan ditempatkan di dinas sosial, sedangkan dia bukanlah berandal. Apakah orang-orang akan semakin memandangnya sebelah mata jika tahu? Bagaimana kalau teman-teman kuliahnya jadi memandangnya buruk?

Emily pernah bertanya pada Raken, apakah Raken akan keluar dari GT? Pindah ke tempat lain? Raken bilang dia masih belum mau pergi dari GT. Tidak untuk saat ini karena baginya sulit untuk meninggalkan satu-satunya tempat di mana dia dibesarkan ibunya, kecuali jika dia menikah, dia pasti pindah.

Bicara soal menikah, Raken seharusnya sudah bisa menikahi Kia. Kia sudah dua tahun lebih bekerja sebagai polwan, dan Raken punya cukup uang untuk mulai membina rumah tangga walau harus dimulai dengan kata sederhana. Raken memang tidak punya cita-cita yang pasti, masa depannya tidak jelas, tapi dia pekerja keras. Walau begitu dia masih merasa tidak pantas menikahi Kia di saat dia sendiri masih begitu gamang dengan masa depan. Raken merasa dia seperti laki-laki yang tidak bisa diandalkan. Kekasihnya bahkan terlihat lebih menonjol daripada dirinya. Kia sudah bekerja, dia seorang Polwan, sedang Raken belum selesai kuliah di saat dia sudah memasuki semester sembilan.

***

Emily duduk di sofa krim ruang tengah yang megah, penuh dengan benda-benda besar dan mewah, mulai dari guci berwarna emas dan putih yang seperti raksasa di samping sofa, sampai lukisan mahal pemandangan kuno di dinding. Emily merebahkan badannya di atas sofa, seperti anak kecil yang bosan melewati hari tanpa mainan. Matanya memandang ke atas, ke petak-petak besar plafon putih bergaris warna abu metalik. Dari sinar matanya, gadis itu terlihat seperti sedang merenungkan sesuatu, dan bola matanya jelas memantulkan ekspresi yang menyiratkan bahwa ada sesuatu yang sedang bergema di dalam isi kepalanya.

RAKENZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang