Halo, sorry ya up-nya lama. Anak-anak buah tercinta lagi persiapan UN. Jadi, aku sibuk banget hehehe. 🙁 Bentar lagi Rakenza tamat, nih. Kira-kira happy-end, sad-end, atau gantung-end? 😁 Oya, sebenarnya rencananya bab 48 ini bab terakhir, tapi karena terlalu panjang buat satu bab, aku bagi dua aja, aku pindah sisanya ke bab 49.
Fuhh, panjang banget ya cerita Raken, sampai bab segini, terlena banget nulisnya 😥😢
Oke, langsung aja, happy reading.
***
Hampir di penghujung tahun.
Kia duduk di kursi beranda belakang rumah, menghadap ke petak rumput hijau tipis yang dikelilingi beberapa pot bunga, dan ditemani nyanyian burung di dalam sangkar cokelat yang ada di bawah pohon jambu.
Hari sudah menjelang senja. Kia sendirian, suaminya belum pulang, padahal jam kerja sudah berakhir sejak pukul empat tadi.
Kia memegangi ponselnya, menimbang-nimbang pikiran untuk menelepon Raken. Hanya satu hal yang bergumul dalam benak Kia di situasi sunyi seperti ini, Raken. Dia rindu padanya. Tapi harus bagaimana? Dia tak punya muka jika harus menghubunginya, bahkan jika alasannya adalah karena mereka "teman", bukan mantan kekasih.
Tersimpan raut pahit di balik wajah Kia yang empat bulan lalu mendapat kabar gembira dari pernikahannya, mengandung seorang anak. Kia mensyukuri pernikahannya, menyayangi suaminya, tetapi jika teringat masa lalu bersama Raken rasanya ada yang menyesak hatinya. Dia ingat, dia menangis sesak sampai sesenggukan di kamar mandi seminggu setelah pernikahannya karena teringat Raken. Dia merasa dirinya amat jahat, meninggalkan Raken di saat pemuda itu masih butuh dukungan penuh.
Kia sadar, Raken yang sudah bertahun-tahun menjalani hari bersamanya punya banyak jasa untuknya, yang sayangnya lupa untuk dia gali di saat dia bimbang menentukan pilihan antara Raken atau suaminya kini itu.
Kia terlambat untuk ingat bahwa Raken pernah menolongnya dari amukan Jeki dan pernah menyelamatkannnya dari kawan-kawan Jeki yang hampir merenggut kehormatannya. Raken jugalah yang membantunya berlatih, memberinya dukungan penuh agar dia bisa lulus tes polwan. Raken selalu menunggunya di stasiun bus sampai larut malam hanya untuk menemani dan menjaganya pulang, serta jadi sandaran penuh hatinya yang lelah. Tapi apa yang dia berikan padanya? Sebuah kata perpisahaan.
Kia menunduk. Hatinya tersayat mengingat semua kenangan itu, tapi dia tidak boleh terus menyelami penyesalannya. Dia harus bangkit ke permukaan, menatap masa depan baru dengan orang yang sudah dia pilih.
Kia tak jadi memencet tombol panggil atau kirim pesan di kontak bernama Raken. Dia urungkan niatnya.
***
Sehari telah berlalu setelah kepulangan Emily dengan balutan raut malu kemarin.
Saat itu Emi mencoba bersikap biasa saja setelah mendengar kata-kata ayahnya yang menghentak jauh ke dalam jantungnya itu, tapi sayangnya gagal. Emi mencoba menyambut perkataan ayahnya dengan senyum tenang, tetapi rasanya pijaran rona merah di kedua pipinya semakin membara. Emi tersenyum kikuk, lalu berpura-pura ada telepon, dan keluar dari rumah, berjalan menuju ke mobilnya dengan wajah kusut dan hati hampa, dengan awan di langit yang rasanya runtuh menimpanya. Emi membuka pintu mobil dan menyesali dirinya, dirinya yang berbalut dusta. Dia lalu memutar kemudi, dan pergi dengan rintihan di wajahnya, tetapi dia tidak bisa mengeluarkan tangis air mata.
Raken termenung di ambang pintu dapur, diam mengingat hari kemarin. Emily telah membohonginya. Tidak mungkin kan Rean berkata seperti itu kemarin kalau Emi sebelumnya tidak tahu jika mereka tidak memiliki hubungan darah? Emi pasti sudah tahu hal itu. Sejak kapan? Berapa lama dia menutupinya? Raken merasa amat tolol dengan kenyataan ini. Selama ini percaya jika Emily adalah adik yang separuh darahnya bertautan dengannya, tetapi nyatanya dia orang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKENZA
Ficción General"Setiap orang punya sudut pandangnya sendiri tentang apa itu kebahagiaan." Itulah yang Raken katakan ketika ada yang berpikir betapa tidak bahagianya jadi dia. Raken adalah pemuda biasa, tapi di sekolahnya dia dianggap luar biasa. Luar biasa tolol k...
