Hari ini berbeda, bersabarlah.
***
"Mau jadi apa kalian? Masih anak SMA?"
"Tidak sekalian tawuran pakai seragam saja tadi biar keren seperti biasanya? Ha?"
"Berapa kali sudah yang ini-ini saja yang ditangkap. Mau masuk penjara?"
Raken tak peduli dengan nasihat dan omelan para polisi di depannya. Toh, dia tak ikut tawuran. Dia tak peduli pada apa yang akan terjadi padanya, yang ada dalam pikirannya hanyalah keadaan Yuda.
Raken menoleh ke kiri dan terkejut tak kepalang saat melihat Pak Damar datang dengan seraut amarah yang terpajang jelas di wajahnya.
"Hebat kamu Raken!" bentak Pak Damar.
Beberapa menit kemudian, hanya ada Raken dan Pak Damar di sebuah ruangan kecil, masih di lokasi kantor polisi.
Raken diam saja, matanya menatap ke bawah dengan renungan. Ya, marahi saja dia, pukul saja kalau mau, teriaki dia sepuasnya. Dia sudah biasa kok diteriaki, dianggap salah, dituduh macam-macam. Dia juga sudah biasa kok dipukuli.
"Hari perpisahan! Sudah lulus sekolah. Baru saja lulus sudah buat ulah," ucap Pak Damar geregetan. Rasanya benar-benar kecewa, setengah mati.
Pak Damar amat geram. Hatinya digerogoti amarah. Dia dapat kabar bahwa dua muridnya ditangkap polisi karena tawuran, Rakenza dan Yuda Anggarananda, tapi Yuda harus dilarikan ke rumah sakit. Dua anak itu, baru beberapa jam setelah acara kelulusan dan perpisahan, langsung berbuat ulah! Pak Damar benar-benar marah. Dia tak habis pikir dengan apa yang ada di otak dan pikiran kedua pemuda itu.
"Dengar, tidak?!" bentak Pak Damar penuh amarah.
Raken terdiam. Selalu saja dia dihadapkan di situasi seperti ini.
"Benar-benar mau jadi kriminal kamu habis lulus? Disuruh kuliah tidak mau. Jadi, ini maumu? Mau jadi berandalan yang merdeka? Bebas? Tidak terikat sama sekolah lagi?" tanya Pak Damar. Dia marah, marah sekali, meski ada rasa sesal juga karena harus memarahi "anaknya" itu. Namun, dia sungguh tak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran Raken.
"Rakenza ... Rakenza," ucap Pak Damar sambil berusaha melonggarkan amarahnya seiring dengan Pak Kepsek yang datang menghampiri.
Raken menoleh dan melihat Pak Kepsek dengan sorot layu di matanya.
"Berapa kali sudah kamu ini dinasihati? Baru lulus sudah berbuat ulah. Kamu lupa sama pesan Bapak?" tanya Pak Kepsek menyesali tingkah Raken. "Hidup di jalan yang benar. Jangan gabung dan meladeni berandalan," katanya lagi dengan rasa marah, tetapi tak diloloskannya dengan luapan kata-kata keras dan wajah penuh amarah, hanya wajah kecewa.
"Maaf, Pak," balas Raken. "Tapi saya gak ikutan, Pak. Saya sudah kasih keterangan sama polisi juga tadi. Saya gak ikutan," jelas Raken.
Pak Damar menyambut perkataan Raken dengan rona tak habis pikir dan masih kesal, sementara Pak Kepsek mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Bapak bilang apa? Jangan berkelahi. Lihat temanmu, dia sedang di rumah sakit sekarang. Kamu mau seperti Yuda?" tanya Pak Kepsek disambut wajah diam Raken. "Jangan coba-coba membuat masalah lagi. Kamu masih beruntung sekolah masih mau bertanggung jawab mengurusmu. Kalau tidak? Kamu mau jadi apa? Hah?"
Raken menatap Pak Kepsek sejenak, lalu mengalihkan sorot matanya dari mata Pak Kepsek yang tampak amat kecewa padanya. Ada rasa panas yang menguap dan membuat hatinya mendidih oleh luapan-luapan pedih.
"Susah ya, Pak, jadi saya," kata Raken sambil mengingat apa yang telah dia jalani di hidupnya, mengingat ibunya yang sering melampiaskan kemarahan padanya, memukulinya, menyebutnya dengan kata-kata kasar, dan mengingat segala hal di mana dia selalu saja jadi yang disalahkan, entah di lingkungan sekitarnya, entah di sekolah, di mana pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKENZA
General Fiction"Setiap orang punya sudut pandangnya sendiri tentang apa itu kebahagiaan." Itulah yang Raken katakan ketika ada yang berpikir betapa tidak bahagianya jadi dia. Raken adalah pemuda biasa, tapi di sekolahnya dia dianggap luar biasa. Luar biasa tolol k...
