Langit jingga meredup karena senja hampir tiba. Kia berdiri di depan sebuah makam yang gundukan tanahnya masih segar, ditaburi beberapa warna-warni bunga kesedihan, dan nisannya masih sepotong kayu bertuliskan sebuah nama.
Kia memandangi nama di nisan itu. Hatinya sesak. Kita sungguh tak tahu di titik mana semuanya akan berakhir. Takkan bisa tahu kapankah penghujung hari yang menghentikan semua napas kehidupan dan harapan itu datang. Karena Tuhan tidak mengambil kita di saat kita siap, di saat kita sudah bebas dari dosa, di saat semua masalah selesai, atau di saat kita sudah penuh cinta, bukan?
Dan begitulah, Kia sadar betul akan takdir bernama kematian itu. Dan melihat beberapa orang terdekatnya pergi menjauh begitu saja dari dunianya membuatnya sadar betapa dekatnya jarak antara hidup dan mati. Hari ini kematian itu untuk kesekian kalinya membuatnya harus merasakan lagi apa itu lara. Ayahnya berpulang, meninggal dunia karena sakit. Kia bahkan tak sempat bertemu muka dengannya sejak terakhir kali mereka bertemu-dengan saling memarahi satu sama lain pula-sehari sebelum dia memutuskan untuk pindah dari rumah ke kos, sekitar dua tahun lalu.
Kia membisu, lalu duduk di samping makam ayahnya. Jeki tidak memberi tahu kalau ayah mereka telah tiada. Kia tahu dari tetangganya saat mereka berpapasan di jalan. Itu pun saat ayahnya sudah dimakamkan. Tetangga itu juga memberi tahu Kia, saat para pelayat bertanya pada Jeki di mana Kia, Jeki berteriak dan berkata kalau Kia itu anak durhaka, mana peduli dengan ayahnya, ayahnya sakit saja dia tidak ada pulang dan memberi biaya. Itu juga mungkin alasan mengapa Jeki tak mau repot-repot memberi kabar ke Kia dan melangsungkan pemakaman tanpa ada Kia. Dia bilang, walau Kia tahu pun dia takkan mau datang menengok keluarga bejatnya.
Kia menelan kekesalannya. Memang benar dia merasa sama sekali tak ada memperhatikan ayahnya, tak ada niat untuk pulang ke rumah dan mengirim biaya. Kia mengira ayahnya sakit biasa, ternyata menderita penyakit ginjal dan kerusakan hati-mungkin karena ayahnya pecandu berat alkohol. Namun, Kia tak terima disebut anak durhaka. Dia bukan anak durhaka. Dia punya rasa sayang ke ayahnya walau mungkin hanya sebesar ujung jari. Itulah kenapa sekarang air matanya menetes tipis di sudut kelopaknya dan ada rasa pedih tertahan di tenggorokannya.
Sedikit cahaya di ujung cakrawala mulai padam, senja berganti menjadi malam. Kia sudah beranjak dari pemakaman. Dia kini melangkah ke rumah ayahnya dengan pikiran gamang.
Kia lupa, dia tak ada menghubungi Raken sore ini. Dia ingin memberi tahu Raken kalau ayahnya telah berpulang.
Kia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menunggu teleponnya diangkat.
Kia menurunkan ponselnya dari telinga, memandang layarnya dengan wajah muram. Raken tak mengangkat teleponnya. Dia mencoba untuk kedua dan ketiga kalinya, dan akhirnya, saat menelepon keempat kalinya, teleponnya pun diangkat.
Kia tak sabar ingin menyapa Raken dan mengutarakan rasa pahitnya, tak sabar mendengar suara Raken yang selalu bisa meredam gejolak buruk di hatinya. Sayangnya, saat Kia mengangkat telepon, suara yang menyambutnya bukan suara hangat kekasihnya.
Kia terkesiap, jantungnya tersentak. Hanya kata hah? tanpa suara yang terlihat di bibirnya.
Hanya beberapa rentetan kalimat saja bisa membuat hati hancur. Dan itulah yang terjadi pada Kia setelah mendengar kabar tentang apa yang terjadi pada kekasihnya.
Suara televisi terdengar semakin nyaring, Pak Damar memperbesar volumenya. Dia duduk di sofa depan TV bersama anak perempuan kecilnya yang sedang main boneka. Rupanya berita dengan cepat tersebar di media. Berita itu menampilkan peristiwa percobaan penembakan terhadap Gubernur Rean Dinarta yang baru saja terjadi. Menurut keterangan, ada dua peluru berhasil ditembakkan ke arah gubernur, yang satu memeleset, tidak mengenai siapa pun, tetapi satunya lagi mengenai seorang pemuda yang mencoba melindungi sang gubernur. Pemuda itu diketahui bernama Rakenza. Pelaku sudah diamankan dan diketahui berasal dari GT. Dugaan sementara motif penembakan adalah karena dendam, tidak terima dengan rencana penggusuran GT. Sementara itu, korban yang menderita luka tembak di punggung sedang dirawat intensif dan rencananya akan segera menjalani operasi. Sedangkan gubenur sendiri, Rean Dinarta, sudah diamankan dan kembali ke kediamannya setelah memberi keterangan kepada polisi. Dan rencananya besok pagi Rean akan menjenguk korban di rumah sakit. Itulah penggalan berita di sebuah stasiun televisi yang ditonton Pak Damar.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKENZA
Ficção Geral"Setiap orang punya sudut pandangnya sendiri tentang apa itu kebahagiaan." Itulah yang Raken katakan ketika ada yang berpikir betapa tidak bahagianya jadi dia. Raken adalah pemuda biasa, tapi di sekolahnya dia dianggap luar biasa. Luar biasa tolol k...
