—Harris
"Fe! Fe buset lo jalan cepet banget anjir tungguin gue dong!"
Gue berjalan tergopoh-gopoh menembus kerumunan mahasiswa di kantin fakultasnya Fe ini demi mengejar yang bersangkutan. Itu anak sejak kapan jadi atlet gerak jalan sih? Cepet amat ngacirnya buset dah.
"Fe!" gue menepuk bahunya saat akhirnya langkah gue berhasil menjajari langkahnya.
"Apa lo pegang-pegang gue?!" ia menoleh dan mendelik galak ke arah gue. Untuk sesaat gue hampir terlonjak kaget atas perbuatannya itu.
"Buset santai, Bu. Galak bener kayak guru Fisika" sahut gue sambil mengatur nafas yang agak ngos-ngosan.
"Ya elu sih lagian. Segala nunjuk-nunjuk Kak Bram sampe dia nengok. Ntar kalo abis ini gue dilabrak gimana?" tanyanya dengan nada yang masih sewot.
Gue pun tertawa geli. "Bilang ke gue sini ntar gue labrak balik"
Fe hanya melirik gue kemudian mencibir. Ia lalu melanjutkan langkahnya menyusuri koridor FISIP yang mulai lengang siang ini tanpa berkata apa-apa lagi. Gue menggeleng samar dan kembali bergegas menyusulnya.
"Ngambeeeek. Makan yuk, tadi belom makan kan kita?" ujar gue sembari merangkul Fe santai.
"Salah siapa coba?" sungutnya.
"Iya iya salah gue iya" gue mengacak-acak rambutnya, sebuah tindakan yang membuat gue dihadiahi satu cubitan ringan di lengan gue. "Ayo makan sekarang"
"Tapi, lo yang bayarin ya?"
Syet, bener-bener nih cewek. Bisa aja nyari kesempatannya.
Untung sayang.
Eh lah, gue kelepasan ya? Haha.
Yaudah lah, terlanjur. Sekarang, kalian udah bisa tebak 'kan nasib gue ini gimana? Spoiler: nggak beda jauh sama nasibnya Ser Jorah ke Daenerys di Game of Thrones.
Nggak nonton Game of Thrones? Sama. Tapi gue diceritain mulu sama Fe, kan gue jadi apal ya tanpa harus nonton.
Here let me make it simple for you: Harris Hastaman adalah seorang pecundang yang jatuh cinta diam-diam dengan sahabatnya sendiri. Ketawain gue sepuas kalian, karena kadang gue juga pengen ngetawain diri gue sendiri kok.
"Iya gue yang bayarin. Tapi nggak lebih dari ceban ya" jawab gue akhirnya.
"Makan apaan anjir ceban," Fe memberengut.
Gue tertawa lagi dan mencubit pipinya. "Ya apaan kek. Pokoknya ceban yang gue subsidi, sisanya lo tambahin sendiri kalo lebih. Take it or leave it? Mm?"
Fe tampak berpikir untuk beberapa saat, dan untuk beberapa saat itu juga gue harus mati-matian berusaha menahan diri untuk nggak mencubit pipinya lagi atau mengacak rambutnya atau mengeratkan rangkulan gue di bahunya.
"Hmm yaudah deh. Tapi gue nggak mau di Takor lagi" ujarnya.
Gue hanya mengangkat bahu dengan acuh. "Gue sih sabeb. Mau dimana?"
"Fasilkom?"
"Siap berangkat"
Oke gue ceritain dikit. Fe dan gue udah berteman sejak kita sama-sama ditakdirkan untuk masuk ke kelas X-E di SMA yang terkenal sebagai sarangnya para biang tawuran di kota ini. Meski begitu, persahabatan gue dan dia nggak ujug-ujug tercipta begitu aja di hari pertama sekolah.
Adalah Bu Hartati, wali kelas kita waktu itu, yang tiba-tiba punya ide untuk melakukan re-shuffle tempat duduk di sebuah hari Senin yang cerah di semester 2. Re-shuffle yang sangat mendadak itu rupanya malah menjadi awal karier gue sebagai budak cinta. Ya, Bu Hartati memasangkan gue duduk dengan none other than Febrianne Imelda, cewek yang hobinya ketawa-ketawa mulu di barisan dekat jendela.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fatal Attraction
ChickLitIni bukan hanya tentang Bram dan lika-liku perjalanannya dalam mendapatkan sang pujaan hati. Bukan juga tentang Fe dan luka-luka masa lalu yang masih menghantui setiap siang dan malamnya. Juga bukan tentang Harris beserta perasaan-perasaan yang tak...
