#10.1 - Take Care

11.4K 1.6K 61
                                        

—Fe

Sore ini langit cerah.

Aku melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak yang membelah area tanah terbuka ini menuju satu spot yang sudah kuhafal di luar kepala. Spot itu berada tepat di bawah satu dari segelintir pohon beringin yang menghiasi keseluruhan tanah lapang ini.

Orang bilang, sudut itu adalah sudut paling horror di sini, tapi buatku nggak. Menurutku, ini malah merupakan sudut paling adem dan nyaman untuk duduk-duduk menikmati semilir angin sore hari. Well, mungkin karena faktor aku yang selalu datang ke sini ketika matahari masih tinggi di langit kali ya—kalau udah gelap, bisa jadi beda ceritanya.

Suasana sore ini cukup sepi. Hanya terdengar gemerisik daun si pohon yang saling beradu akibat tertiup angin sepoi-sepoi, dan sayup-sayup deru mesin kendaraan di jalanan besar depan sana. Aku menyelipkan sehelai anak rambut yang menggelitik pipiku akibat hembusan sang angin sembari mengambil tempat duduk di bawah pohon beringin tersebut.

"Hey," sapaku lembut.

Rasanya aneh berbicara seperti ini, tapi setelah satu setengah tahun rutin melakukannya selama hampir setiap minggu, aku mulai terbiasa. Terbiasa berbicara pada angin, pada rumput, dan pada daun yang bergemerisik lembut.

"Udah 3 minggu ya gue nggak ke sini?" senyumku. "Maaf ya. I've been too caught up with... stuffs. Ospek, terus tugas, kepanitiaan, acara pentas teater... ya biasa urusan mahasiswa baru" aku tertawa kecil.

"But it's fun.... So far. Sejauh ini sih gue masih merasa enjoy. Nggak tau ya mungkin karena lingkungan sekitar gue yang suportif dan menyenangkan," lanjutku sambil memeluk kedua lutut, menatap jauh ke arah langit ibu kota yang penuh polusi.

"Gue punya Nadine, si bawel yang jadi 'Mama Kos'-nya anak-anak. Terus ada Amel, yang selera humornya nggak beda jauh sama gue. Hahaha. Bayangin aja ada dua gue yang kemana-mana selalu bareng," gue terkekeh ringan. "Terus ada Arga sama Mamad si duo tiang bambu, terus Ibu Enuy, terus Bila... yah, banyak deh. Kalo gue ceritain satu-satu bakal panas kuping lo pasti ntar."

Tanganku bergerak untuk memetik setangkai bunga liar yang tumbuh nggak jauh dari tempatku duduk.

"Masih ada Harris juga... dia di Teknik sekarang, FYI aja" aku memutar-mutar bunga tersebut di antara dua jemariku. "Walaupun dia masih suka sensi sama lo, tapi tenang aja, dia tetep bakal jagain gue kok. Just as he promised"

Aku kemudian meletakkan bunga tersebut di atas gundukan tanah di hadapanku, berbarengan dengan setangkai bunga matahari yang ku beli dalam perjalanan ke sini tadi. Sebuah senyum samar terulas di bibirku saat menatap pemandangan pusara yang kini agak lebih berwarna dari sebelumnya.

"Sejujurnya, something happened a few weeks ago. Sesuatu yang bikin gue inget bahwa gue udah lama nggak ke sini," aku berujar pelan. "Lo emang belom bisa ngelepasin gue ya? Ada aja cara lo ngingetin gue untuk selalu balik ke lo." tawaku getir sambil melarikan jemariku untuk membelai batu nisan dengan ukiran nama familiar yang terpancang di ujung pusara.

"Sometimes I wish you were still here, you know. Gue masih suka berharap gue dikasih waktu lebih banyak sama Semesta buat bareng-bareng sama lo," ujarku pahit. "But that's not how the Universe works, ain't it?" aku pun menghela nafas dalam-dalam.

"Rest well, Van" suaraku bergetar saat membisikkan hal tersebut pada angin dan rerumputan yang tumbuh menghiasi pusaranya. "See you when I see you"

*

The remembrance of your presence haunts me in-between

As if your apparition creeps within my tireless scream...    

Fatal AttractionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang