#45

8.3K 1.2K 129
                                        

Fe

"...Jadi, nanti TOR seperti biasa akan gue kirimin ke email masing-masing, lengkap sama pembagian yang tadi udah kita omongin plus narsum."

Aku mengangguk-angguk pelan saat Kak Amira selaku redaktur pelaksana memberi akhir pada rapat redaksi kali ini. Sekarang pukul setengah delapan malam... wih, tumben nih rapat redaksi bisa on-time selesainya, biasanya kita sampe harus diusir dulu sama OB gedung tempat rapat dilangsungkan baru bubar. Mungkin karena isu yang akan diangkat oleh FISIPERS bulan ini nggak seberat bulan-bulan kemarin kali ya.

"Oh ya, gue mau nambahin," Kak Alya aka Pemred kita semua mengangkat tangannya. Seketika, gumam-gumam pelan yang tadi udah mulai terdengar di ruangan ini pun mereda, dan hampir semua anak reporter langsung pasang posisi duduk tegak, siap siaga menyambut informasi apapun yang akan keluar dari mulut pimpinan kami yang terkenal cukup galak ini.

"...Nggak banyak kok, gue cuma mau bilang kalau lo pada tau narsum lain dari yang tadi udah sempet kita omongin, boleh banget di-approach. Atau mungkin kalau lo nggak tau gimana cara approach atau ngontaknya, bisa hubungin gue atau Amira nanti kita bantu," jelasnya.

"Sebenernya gue sama BPH udah punya rencana buat edisi setelah ini; kalian bakal kita lepas untuk bikin TOR sendiri, makanya gue bilang tadi lo bebas aja kalau mau nambah narsum. Sekalian latian buat edisi selanjutnya dan seterusnya."

Hm bikin TOR sendiri ya... aku terdiam membayangkan chaos apa yang terjadi kalau kita, alias anak-anak reporter dilepas bikin Term of Reference untuk bulletin bulanan fakultas ini—on our own.

Seketika aku langsung teringat ide-ide liar Dwita si anak Komunikasi yang hobi melemparkan angle-angle berita out of the box untuk setiap isu yang mau kita angkat ("Kenapa kita nggak coba angkat tentang masa lalu para calon Dekan dan gimana itu jadi pengaruh untuk setiap rancangan kebijakan yang bakal mereka bikin?"), atau radikalnya Aldi si anak Sosiologi yang juga aktif di komunitas pergerakan FISIP ("Emang dasar kampus kapitalis, nih ya gue yakin kalo kita bisa bongkar gimana perputaran duit buat renovasi Gedung C, bakal banyak banget dirty practice yang ketauan"), atau Uli, anak Politik yang 'kebetulan' juga sangat terobsesi dengan sepak terjang politik kampus ("Anak Takor - Anak Musholla nih menarik coy diskursusnya, karena yang kayak gini-gini 'kan sedikit banyak udah jadi sesuatu yang ngebentuk pola interaksi sosial FISIP jadi kayak yang kita tau sekarang").

Haduh, nggak tega aku bayangin kadiv kami, Kak El, harus memoderatori ide dari orang-orang ini dalam rapat editorial dua bulan lagi.

"Oke! Segitu dulu kalo gitu ya rapat redaksi kali ini, makasih buat semua yang udah dateng. Semangat, semangat!!" ujar Kak Amira menutup rapat ini secara resmi dan satu per satu kami pun bubar jalan meninggalkan ruang kelas di lantai 2 gedung H ini.

"Langsung balik, Fe?" Uli membuka pembicaraan denganku seraya kami menuruni tangga menuju lantai 1.

"Nggak, gue mau ke Selasar dulu nyamper temen gue. Lo balik, Li?" aku balas bertanya kepadanya.

Uli menggeleng. "Gue mau ke Teko, nonton Sosiokustik"

"Lho, hari ini ya Sosiokustik?"

"Yoiii," ia mengangguk. "Sebenernya gue mau liat Enam Hari doang sih haha"

Mendengar satu nama itu, jantungku nyaris melewatkan satu tempo detakannya. Hah, siapa?

"...Mereka bakal tampil katanya, tapi cuma berempat gitu. Denger-denger si Jun sekarang udah gak sama mereka lagi"

"Hah?" aku menoleh menatap Uli dengan alis terangkat. Jadi, Kak Jun beneran cabut dari Enam Hari? Terus nanti yang nyanyi siapa? Kak Jeff? Kak Bram?

Fatal AttractionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang