—Bram
Di antara 8 layar yang tersedia di bioskop dengan jarak terdekat dari kampus kami, Fe memilih film yang hanya ditayangkan di satu layar dengan jam tayang termalam hanya sampai 20:00. Saat tujuh layar lainnya menampilkan film superhero hollywood yang lagi hits-hitsnya belakangan ini, Fe malah memilih satu film Indonesia yang pemainnya aja nggak pernah gue dengar namanya sebelumnya—kecuali satu mungkin, eyang Titiek Puspa. Kebetulan aja ada beliau, kalau nggak, ya blas gue nggak tau sama sekali muka-muka pemain di film pilihan Fe ini.
Ketika gue tanya alasannya kenapa dia memilih film tersebut dibandingkan film blockbuster yang menghabiskan nyaris seluruh layar bioskop tersebut, ia hanya menjawab ringan,
"Yang lainnya gue udah nonton. Lagian kalo film begitu mah seminggu lagi juga bakal ada Bluray-nya di Torrent."
Ya nggak salah sih, Fe.
Dua jam selanjutnya, gue pun menghabiskan waktu gue dengan duduk di samping Fe di dalam sebuah studio yang hanya terisi seperempatnya untuk menonton film kelas B tersebut (walaupun ada Titiek Puspa-nya, tetep aja menurut gue kualitasnya hanya sampai kelas B). Filmnya jelek, gue harus jujur. Fe bahkan nggak henti-hentinya mengerutkan dahi, mulai dari adegan pertama hingga lampu kembali menyala dan credits terputar di layar. Alurnya berantakan, karakternya nggak meyakinkan, banyak logika yang nggak masuk ke dalam plot—wah kacau dah. Gue aja sampai bertanya-tanya, ini sutradaranya niat nggak ya bikin film, apa cuma iseng doang jangan-jangan.
Bahkan hingga kami berpindah tempat ke sebuah kedai milik salah seorang senior gue untuk ngopi sejenak sebelum benar-benar pulang, Fe masih nggak bisa menerima kalau film pilihannya tersebut sangat jauh berada di bawah ekspektasi.
"Gue gemes sih. Maksudnya, itu pengambilan gambarnya udah pada bagus-bagus ya—at least boleh lah kalo ngomongin estetika. Tapi plotnya kenapa gitu amat" ocehnya seraya kami memesan minuman di kedai kecil yang terletak di pinggir kota itu.
"Parah. Aneh banget sih apalagi pas dia tau-tau berantem," gue tertawa mengingat salah satu adegan yang paling nggak masuk akal. "Apaan anjir tau-tau disamperin terus dimarah-marahin, gue kalo jadi si pemeran utamanya udah gue pukulin itu orang"
Fe terkekeh kemudian berdecak pelan. "Iya, iya. Bener. Aneh banget."
"Nyesel nggak ngabisin 35 ribu lo buat film itu?" tanya gue sambil membolak-balik kertas menu di atas meja.
"Ya... nyesel nggak nyesel sih. Anggep aja itu sumbangan buat dunia perfilman Indonesia biar nggak bikin film kayak gitu lagi kedepannya" ujarnya santai kemudian melongok ke arah menu yang tengah gue pegang. "BTW lo pesen apa, Kak?"
"Gue? Kopi tubruk biasa, kalo ke sini gue selalu pesen itu" jawab gue sembari menyerahkan menu yang sedari tadi gue pegang pada Fe. "Nih, lo mau apa?"
"Gue..." ia mengerenyit sejenak menatap deretan menu minuman dan makanan yang tertulis di atas lembar kertas ber-laminating itu. "Iced chocolate aja. Hehe"
"Nggak mau kopinya? Latte-nya enak kok di sini," tawar gue dengan dahi terangkat.
"Gue nggak bisa ngopi. Kembung" Fe meringis kecil kemudian meletakkan kembali menu tersebut di tempatnya.
Mau nggak mau, gue pun tertawa sedikit mendengar pengakuannya. "Kasian amat hahahaha. Yaudah kalo gitu, Mas, kopi tubruk satu sama iced chocolate satu ya" ujar gue pada mas-mas barista yang tengah berjaga malam itu.
"Atas nama siapa, Mas, maaf?"
"Bram."
"Oke. Es coklat satu sama tubruk manual brew satu ya. Bayarnya langsung sini aja, Mas. Semuanya jadi 36 ribu" ujarnya dengan aksen Jawa yang terdengar jelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fatal Attraction
ChickLitIni bukan hanya tentang Bram dan lika-liku perjalanannya dalam mendapatkan sang pujaan hati. Bukan juga tentang Fe dan luka-luka masa lalu yang masih menghantui setiap siang dan malamnya. Juga bukan tentang Harris beserta perasaan-perasaan yang tak...
