#14

10.7K 1.5K 293
                                        

Bram

Mata gue mengedip beberapa kali untuk memproses segala informasi yang ada di hadapan gue siang ini.

Gue ada di studio, oke bener. Gue mengecek jam tangan—jam 11 siang, bener. Gue menatap pemandangan di depan gue, ada Jeff dan April di atas sofa kulit studio—masing-masing dengan rambut berantakan dan baju yang nggak kalah berantakan.

Ini yang... agak aneh.

Gue nggak lagi salah masuk ke kamar hotel 'kan ya?

"Hai... Bram" April yang menyapa gue pertama kali dengan sebuah senyuman terpaksa di wajahnya. Tangannya mendorong tubuh Jeff yang sedari tadi berada di atas tubuhnya kemudian duduk dan mengikat rambut panjangnya.

"Hai—"

"Jangan bilang yang lain" sergah Jeff dengan cepat sambil bangkit dari posisinya di atas sofa dan berdiri menghadap gue. Ia kemudian meraih kacamatanya di atas meja dan mengenakannya kembali.

"Gue belom kelar ngomong lho" balas gue sambil menahan senyum.

"Gue tau lo mau ngomong apa monyet."

Gue terkekeh sambil mengulurkan tangan gue ke arah Jeff. "Jangkrik bos"

"Makan tuh jangkrik" ujarnya kemudian menghadiahi tangan gue dengan satu geplakan.

Gue hanya tertawa kemudian meletakkan gitar gue di lantai. Galak bener yang abis kena grebek. Padahal masih untung yang ngegrebek gue, coba kalo warga sekitar. Bisa diarak nih orang dua keliling kampung.

"Udah daritadi, Pril?" tanya gue dengan santai sambil mengambil duduk di atas sofa.

April menggeser duduknya untuk memberikan tempat bagi gue dan mengangguk. "As you can see..." ringisnya. "Sendirian aja? Yang lain belum dateng?"

"Satria lagi di jalan sih katanya. Macet kali, makanya gue yang nyampe duluan" gue melirik ke arah Jeff yang cuma bisa mengusap tengkuknya dengan kikuk.

Hahaha. Mampus. Kartu AS-nya dia ada di gue sekarang

"Tumben ikut ke sini, Pril? Gabut lu ya?"

April hanya menanggapinya dengan tawa, tapi kemudian mengangguk mengiyakan. "Ya bisa dibilang begitu. Gue sekalian mau jalan sih abis ini sama Jeffri, daripada gue cuma nungguin dia di kosan mending gue kesini aja"

"Bram, lu bawa minum nggak?" tanya Jeff sambil melempar tubuhnya kembali ke atas sofa. Tangannya melingkari bahu April dengan santai membawa cewek itu untuk bersandar di dadanya.

Melihat aksinya, gue hanya bisa meringis dalam hati. Kayaknya ini akan menjadi hari dimana seorang Yudhistira Bramantyo berubah wujud jadi seekor nyamuk.

"Nggak. Gue cuma bawa gitar noh," jawab gue sambil menggestur ke arah tas gitar akustik gue di lantai. "Titip lah sama siapa gitu. Sekalian suruh bawain makanan juga, laper gue"

"Eh mending gue aja yang ke indomaret depan sini. Gue juga mau beli snack" April merogoh-rogoh tasnya kemudian mengambil dompet. "Mau gue beliin apa?"

"Jangan ditawarin, Nja. Nanti dia ngelunjak" sahut Jeff cepat.

"Ya gapapa, sekali-kali aku bawain makan. Daripada aku cuma ngurang-ngurangin oksigen doang di sini pas kalian latian?" April mencubit hidung Jeff sambil tersenyum jenaka. "Mau nitip apa Bram?"

"Rokok boleh? Black Menthol satu. Sama teh kotak" gue merogoh saku belakang jeans untuk mengeluarkan selembar 50 ribuan.

"Ntar aja gampang lo bayar ke gue. Kamu mau apa, Jeff?" ia kemudian bertanya pada Jeff.

Fatal AttractionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang