#16

10.2K 1.6K 341
                                        

3 bulan kemudian

—Bram

"Jadi, Jumat mingdep kita di Fisipresiasi. Terus Sabtunya ngisi di.. Panca Dharma?" Satria mengerenyit membaca notes di ponsel Jun yang baru aja diangsurkan ke arahnya.

Hari ini, tepat 3 bulan berlalu setelah gue dan Enam Hari menaklukan panggung Summer Fest. Yes, lo pada nggak salah baca. Kita berhasil menaklukan panggung Summer Fest Band Competition dan keluar sebagai juara 3.

Ya, gue tau ini bukan pencapaian yang fantastis, tapi untuk ukuran band yang baru bangkit dari kubur setelah 2 tahun vakum bermusik, menurut gue ini udah lumayan. Lumayan banget malah.

Apalagi kalau mengingat fakta bahwa selama 3 bulan terakhir ini Enam Hari pelan-pelan mulai dapet tawaran manggung di beberapa tempat. Masih sekitar kampus sih kebanyakan, paling mentok kalo keluar ya ke kampus tetangga—kayak yang lagi kita bicarain sekarang ini.

"Iya, Sat. Avia yang minta langsung sama gue, kata dia bakal ada fee-nya juga kok" ujar Jun berusaha meyakinkan ketua nggak resmi band kami.

Ngomong-ngomong, Avia ini gebetan barunya Jun. Baru kenal sekitar sebulan yang lalu, tebak darimana?

"Avia gebetan Tinder lo itu, Jun?" tanya Jeff sambil mengunyah kwetiawnya.

Ya, benar sekali saudara-saudara. Dari Tinder. Gue juga nggak tau temen gue satu itu sejak kapan mainan dating app kayak gitu, pokoknya tau-tau dapet aja. Udah sering jalan pula. Gercep ye?

Jun hanya mengangguk. "Ayolah. Lumayan banget nih mumpung ada fee-nya—"

"Bukan masalah itu, Jun" Satria memotong dengan datar. "Sabtu anak gue ada yang FPT, gue nggak bisa cabut"

Oh ya, sedikit update juga: selain menjabat sebagai ketua nggak resmi dari Enam Hari, Satria kini juga sudah menjabat sebagai kepala departemen kajian aksi dan strategis di BEM. Ini juga yang menjadi salahsatu alasan kenapa kita lebih sering nerima tawaran manggungnya di sekitaran kampus aja (selain fakta bahwa yang nawarin manggung di luar juga belom banyak tentunya, hehe).

"Yaelah, Sat. FPT doang, harus banget apa anak lo ditemenin? Kan ada wakil lo" ujar Jun.

"Doni Sabtu bakal balik ke Cianjur, 40 harian bokapnya" balas Satria masih datar.

Jun menghela nafas. "Emang lo nggak bisa izin gitu? Yang FPT 'kan anak lu, bukan elu. Gue aja kemaren bisa perasaan, anak gue bidding gue nggak dateng—"

"Ya 'kan lo HM, Jun. Beda lah pasti" potong Satria. "Lagian lo baru ngasih tau sekarang, H-Seminggu. Fisipresiasi aja udah minta dari bulan lalu padahal sama-sama anak FISIP dan panitianya ketemu tiap hari sama gue di Rubem. Emang dikira tampil-tampil gini nggak butuh latian?"

Jun pun bungkam. Gue mengangkat wajah dari tabloid FISIPERS yang tengah gue baca dan menatap kedua sohib SMA gue ini dalam hening. Bertahun-tahun temenan sama Satria, gue tau kalau nadanya dia udah begitu tandanya dia mulai gerah dengan pembicaraan yang tengah berlangsung.

Dan Satria yang gerah dalam sebuah pembicaraan adalah tipe Satria yang lebih baik dihindari jika mampu.

"Gini aja," Jeff akhirnya memecah kesunyian di antara dua orang itu. "Lo FPT jam berapa, Sat?" tanyanya pada Satria.

"Jam 10 sampe jam 1, kalo kelar tepat waktu"

Ia menjentikkan jarinya kemudian memutar tubuh untuk menatap Jun. "Kita ditawarin tampil jam?"

"Satu." balas Jun singkat.

"...."

Kami berlima kembali diam. Wira menghembuskan nafas panjang sambil mengaduk-aduk minuman di gelasnya. Jeff garuk-garuk kepala. Gue mengetuk-ngetuk jemari ke atas meja.

Fatal AttractionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang