Ini bukan hanya tentang Bram dan lika-liku perjalanannya dalam mendapatkan sang pujaan hati. Bukan juga tentang Fe dan luka-luka masa lalu yang masih menghantui setiap siang dan malamnya. Juga bukan tentang Harris beserta perasaan-perasaan yang tak...
Di antara hiruk pikuk after party di Hamburg Bar malam ini, mata gue menangkap sebuah pemandangan aneh. Well, nggak aneh-aneh banget sih sebenarnya, karena pemandangan itu berupa Jeff yang tengah mengobrol dengan seorang perempuan.
Tapi, nggak tau kenapa, ada sesuatu dari bahasa tubuh keduanya yang membuat gue ngerasa, kalau ini anak dua nggak cuma sekedar ngobrol. Perempuan yang ini beda, bukan dia yang mendekati Jeff—seperti kebanyakan perempuan lainnya yang biasa kami temui di gigs-gigs kami.
Ini seperti... Jeff yang lagi berusaha mendekatinya.
"Woi, serius amat. Ngeliatin apan sih lu?"
Gue menoleh kala mendengar suara Wira di sisi gue. Keyboardist kami itu berdiri di sana dengan segelas minuman di tangannya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama lagu yang terputar.
"Itu," gue mengarahkan dagu gue ke arah Jeff dan si perempuan. "Lo inget nggak sih kita pernah ketemu tuh cewek di mana? Kayaknya mukanya familiar"
Wira menyipit sedikit berusaha memperjelas penglihatannya di antara temaramnya lampu bar ini.
"Vokalisnya Kala Pagi 'kan tuh?" Wira berujar, menyebutkan nama sebuah band dengan aliran folk yang baru-baru ini tengah naik daun.
Gue mengangguk-angguk pelan kala benak gue perlahan mengingat sosok di balik nama yang disebutkan Wira tersebut.
"Yang mantan backing vocal-nya Cassavas?" tanya gue mengkonfirmasi.
Wira mengangguk. "Iya. Sekarang udah bikin band sendiri dia, namanya ya Kala Pagi itu"
"Oooo..."
Gue nggak berkata apa-apa lagi. Di sana, Jeff dan perempuan tersebut tengah tertawa-tawa seru atas sesuatu yang baru saja dikatakan gitaris slash brand ambassador band kami itu.
Sebenarnya, melihat Jeff akrab dengan perempuan bukan pemandangan aneh—kayak yang gue bilang tadi. Waktu kuliah dulu, anak itu udah cukup tenar dengan reputasi messenger-nya yang udah kayak kos putri. Tapi, sejak beberapa tahun terakhir, terutama setelah dia akhirnya lulus kuliah, gue jarang melihatnya berbicara se-intens ini dengan perempuan mana pun.
Kecuali April. Kekasihnya yang sudah ia pacari sejak kurang lebih enam tahun lalu.
Gue nggak bisa bilang hubungan mereka mulus atau nggak mulus, karena semua yang gue tahu tentang Jeff dan April hanya berdasarkan apa yang ia ceritakan kepada kami. Dan apa yang ia ceritakan kepada kami seringkali kombinasi dari keduanya.
Kadang gue sampai bingung, bisa ya orang pacaran udah kayak orang naik roller coaster kayak mereka gitu. Ntar naik, ntar turun, ntar muter-muter, ntar lagi jungkir balik.
"Temen lo nggak mau diingetin tuh? Dikit lagi oleng bisa-bisa dibawa pulang tuh cewek sama dia" dari sisi lain, gue mendengar suara Satria berujar.
Ia melangkah santai, memosisikan dirinya di sebelah gue. Di antara kami bertiga kini, cuma dia yang tangannya kosong, tanpa ada satu gelas pun minuman.
Selain perhatian, bapak ketua kami ini memang terkenal paling lurus dan nggak neko-neko.
"Elo lah, Sat. Dia 'kan cuma nurut sama lo" gue berusaha berkelakar sembari menenggak amer di gelas gue.
"Gue cuma nggak mau ntar tuh anak ribut lagi sama April, terus jadi bikin kerjaan keganggu. Waktu itu take gitar aja bisa sampe ngulang sepuluh kali cuma gegara itu anak dua berantem" Satria beralasan.
Gue tahu dia peduli bukan cuma biar kerjaan nggak keganggu aja. Satria walaupun terlihat galak dan lempeng, kalau sudah dekat dengan orang, dia bisa benar-benar peduli dengan orang tersebut.
Kecuali jika kalian mengkhianatinya. Itu cerita lain.
"Bang, lo ngapain pada ngeliatin Bang Jeff?"
Kali ini suara Dodi, drummer kami yang tadi sempat izin ke toilet sebentar karena beser kebanyakan minum (tapi belom mabok-mabok juga, heran). Ia nimbrung kami bertiga memperhatikan Jeff yang masih mengobrol dengan sang dara selayaknya dunia milik mereka berdua.
"Abang lo noh, nyekilin anak orang lagi" gue berujar. "Jangan ditiru ya, Dod. Nggak baek."
"Itu frontman-nya Kala Pagi 'kan?" Dodi bertanya.
Gue, Wira, dan Satria mengangguk nyaris secara bersamaan.
"Gue baru tau dia deket sama Bang Jeff"
"Ya sama," kini Wira yang menanggapi. "Kita juga, Dod"
Kami berempat diam, sibuk dengan minuman dan pikiran masing-masing. Musik masih berdentum kencang, beberapa orang masih menggoyangkan tubuhnya. Malam ini memang cocok untuk berpesta, tinggal besok aja bangun sambil muntah-muntah karena hangover kebanyakan amer dan entah minuman apalagi yang ditenggak.
"Kak April gimana ya terus?"
Gue menoleh ke arah Dodi sekilas, menghela nafas, kemudian tersenyum tipis. Gue angkat gelas gue dan gue seruput isinya sedikit. Amer masih gitu-gitu aja rasanya, manis dengan sedikit pahit yang candu memabukkan.
"Ya gitu, Kayak nggak kenal aja lo sama mereka berdua"
***
Can I ask you to repeat
Because I don't think I follow all the question that you tweaked
Both of you and I we're hollow
We're a fraction to complete
Filled each other with our flawed perceiving
Allow me to cover my gap with your sorrow
—Hollow
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
PLAYLIST
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.