- I am not the girl that all boys noticed. But i am a girl that you only notice at.
Aku mengeluarkan Dress Satin berwarna broken white dari lemari ku. Lalu mencoba mencocokan dengan high heels yang aku punya.
Malam ini adalah malam prom yang sudah ditunggu oleh ku sejak lama. Ini adalah prom terakhir ku dengan status siswi. Karna beberapa hari nanti aku akan melepas gelar siswi menjadi mahasiswi.
Nash sudah mendaftarkan ku ke perguruan tinggi negeri yang ada di kanada. Sesuai janji Tante Anne, dialah yang akan membiayai semua kebutuhan ku. Yap, aku sudah memutuskan untuk menerima tawaran nya.
"Kau butuh ini?" Nash masuk ke kamar ku sambil menunjukan high heels berwarna merah maroon.
"Nash!!" Teriak ku. Aku tidak tahu kalau dia pulang ke rumah ini. "Aku tidak tahu jika kau akan pulang... Maaf kan aku tidak menjemput mu." Aku berlari kearah Nash dan langsung memeluk nya. "Aku taruh disini." Nash menaruh amplop coklat dan high heels maroon diatas kasur ku.
Nash membalas pelukan ku. "Ini sejenis kejutan." Dia mencium kening ku.
"Aku sangat merindukan mu Nash."
"Cepat pakailah pakaian mu, nanti Dillan akan menjemput mu." Nash melepaskan pelukan ku dan mengacak - acak rambut ku.
"Kau tahu?" Tanya ku heran.
"Aku hanya menebak nya.." Nash meninggalkan kamar ku.
Tampaknya aku harus merias wajah ku? Tidak.. Ah kalau sedikit tak apa kan? Aku memakai Dress ku lalu mulai merias wajahku. "A liitle curly hair won't hurt you" gumam ku dalam hati. Aku memulas bibir ku dengan lipstick berwarna nude coral. Dan meratakan nya agar tak terlalu tebal.
"Perfect!" Nash bersender di pintu kamar ku.
"Bedankt!" Aku memekarkan Dress ku layak nya seorang putri yang sedang memberi hormat.
Tok Tok Tok, seseorang menegetuk pintu rumah. Nash membuka kan nya dan ternyata itu Dillan. "Kau sudah siap Princess?" Dillan menaikan alis kirinya.
Aku berjalan menuju Dillan. "Ayo pergi." Lalu kami berjalan menuju terminal.
"Kau terlihat cantik malam ini." Ucap nya.
"Kau selalu berkata seperti itu." Aku terawa kecil. Lalu menatap Dillan yang sedari tadi menatap ku.
Dillan menyelipkan poni panjang ku kebelakang kuping. "Pakailah ini!" Dillan membuka tuxedo berwarna hitam miliknya.
"Tidak.. pakailah saja itu milik mu." Aku menolaknya.
Dillan tetap memakaikannya untuk ku. Mungkin dia takut aku kedinginan karna aku hanya memakai dress satin bertali segaris. Aku menerima nya karna aku masih akan menaiki bus.
Kami berhenti disebuah mobil berwarna Mocca. "Sepertinya bus nya belum datang." Ucap ku.
"Kenapa harus naik bus? Ayo masuk." Dillan membukakan pintu untuk ku.
Dillan masuk kedalam mobil lalu memakai seat belt miliknya. "Pakailah." Dillan menghidupkan mobil dan mulai berjalan.
"Ini mobil siapa?" Tanya ku sambil melihat seisi mobil.
"Miliku."
"bernarkah? Aku tak pernah tahu jika kau bisa mengendarai mobil." Balasku.
"Itu adalah bakat terpendam ku."
Aku hanya membalasnya dengan tawa kecil.

KAMU SEDANG MEMBACA
Manipulate | Shawn Petter Raul Mendes
Fanfictionpernahkah kamu bermimpi untuk hidup bersama cinta pertama mu? aku selalu bermimpi untuk itu. bahkan di saat semuanya tidak mungkin terjadi, aku masih mempercayai bahwa cinta pertama itulah yang akan menjadi bagian dalam hidupku selamanya. Tapi apa h...