Akhirnya, urusan menerima atau menolak adalah sebuah kepentingan.
Ruri Noona menghindar pada pertemuan "lengkap" kami karena takut ditolak. Sementara dia menerima Hyorin Noona sebagai eomma barunya karena merasa ada orang yang bisa menerima appa-nya.
Aku bisa saja menolak hyung karena pautan usia dengan Hyorin Noona yang cukup jauh. Dia lebih pantas kusebut appa daripada hyung. Tapi jika melihat bahagia dari mata mereka, aku bisa apa? Lebih-lebih setelah kenal hyung, noona sudah tidak pernah lagi ke karaoke untuk meluapkan segala kekesalan dan mungkin saja kekecewaan. Ah ya, juga tekanan hidup. Usia mudanya dihabiskan untuk melindungiku, memastikan aku tidak pernah kekurangan satu hal pun. Tak terkecuali perhatian dan kasih sayang.
Sikap dingin Ruri Noona dulu, pernah kuartikan sebagai penolakan. Dan ternyata, dia tidak hanya menerima Hyorin Noona, tapi juga sepaket denganku, sebagai keluarga barunya.
seberapa banyak lagi penolakan dan penerimaan yang akan kudapatkan?
kepentingan?
dance?
Ah, apalah itu!
Ini sudah hampir pagi, tapi mataku masih terjaga.
Barangkali ini tentang pelukan barusan, atau aroma Ruri Noona yang menempel di tempat tidurku.
Tunggu, aku bukan orang mesum, kan?
YOU ARE READING
Love Yourself: What Am I to You
FanfictionSeperti halnya melepas, menerima juga bukan perkara mudah. Harus ada kompromi dalam diri, atau justru merelakan. Aku masih sering sulit menerima keadaanku yang sekarang karena peran masalalu. Hingga akhirnya, ada orang-orang yang menyadarkan bahwa a...