TIGA PULUH SATU

2.2K 182 28
                                    

Senyum kecil terkembang di bibir Divya saat ia berdiri di ambang pintu ruang kerja Jay. Tatapannya dalam tertuju pada lelakinya yang sedang tertidur di atas meja kerjanya.

Divya menggeleng pelan. Di saat semua orang sudah pulang, bahkan Ray dan Kenzo sudah tidak berada di kantor lagi, tapi Jay justru terus berada disini hingga ketiduran.

Beberapa waktu yang lalu, Jay menyuruh Divya untuk datang ke kantornya. Entah karena ingin untuk bertemu, atau justru malah ingin membuat Divya melihat keadaannya yang kelelahan hingga tertidur di atas meja seperti sekarang.

Divya terkekeh dan menggeleng sebelum ia melangkah masuk ke dalam ruangan Jay, dan mendekat ke arah lelaki itu. Senyumnya kian lebar saat ia sudah berada tepat di samping Jay, melihat lelaki itu tertidur pulas dengan wajah lelah, jujur saja membuat Divya lebih menyukainya. Perlahan satu tangannya terulur, menyentuh rambut Jay yang mulai terjatuh lemas di kening, menyingkirkan helaian rambut itu dengan perlahan untuk membuatnya bisa melihat wajah Jay semakin jelas.

Namun, Jay tersentak di detik berikutnya, saat Divya mencoba untuk melepaskan pulpen yang masih berada di tangan Jay. Lelaki itu membuka matanya perlahan, menatap Divya dengan mata yang menyipit, sebelum akhirnya ia tersenyum.

"Kau datang?"

"Kau menyuruhku datang, untuk melihatmu tertidur di sini?"

Jay menegapkan tubuhnya dan bersandar di kursi sekarang.

"Oh ya? Jam berapa ini?"

"Setengah 8."

Jay mengangguk pelan. "Aku hanya sedikit lelah. Kami baru saja melakukan survey ke beberapa pabrik, dan itu cukup melelahkan. Oh ya, kau sudah makan?"

"Harusnya aku yang bertanya itu."

"Kita bisa pergi keluar jika kau lapar."

"Lalu bagaimana denganmu? Kau lapar?

"Aku sudah makan tadi."

Divya mengangguk sembari melipat kedua tangannya di dada. "Kalau begitu aku juga." Divya mulai melangkah menjauh dari meja Jay. Lalu duduk di sofa panjang yang berada di tengah, tempat biasa dimana Jay menerima para tamunya.

Divya merapatkan kakinya, menepuk pahanya sembari tersenyum pada Jay seakan mengisyaratkan sesuatu disana. Seperti perintah, jika Jay boleh tidur di pangkuannya.

Jay terkekeh pelan, lalu mulai bangkit dari kursinya. Mendekat ke arah Divya dan membaringkan tubuhnya di sofa dengan paha Divya yang menjadi pangkuan kepalanya. Jay menarik satu tangan Divya dan menaruhnya di dadanya, sedangkan satu tangan Divya yang lain, dengan bebas bisa menghusap kepala Jay, sembari memainkan rambut lemasnya dan juga keningnya yang kini terbuka.

"Aku menemui Anjani tadi siang. Bahkan disaat kondisi sakit pun, dia masih sibuk mengobati pasiennya," ucap Divya.

"Benarkah? Lalu bagaimana keadaannya?"

"Kau sangat penasaran?" Jay menatap tajam Divya yang kini sedang tertunduk menatapnya.

"Aku hanya bercanda," sergah Divya terkekeh pelan. "Dia baik-baik saja. Dokter juga sudah memperbolehkannya pulang hari ini. Tapi, kayaknya hubungannya dengan Ray yang sedang tidak baik-baik saja. Meskipun Anjani tidak mengatakannya, aku tahu jika dia sudah benar-benar menyukai Ray sekarang."

"Ray juga. Tapi Ray bukan orang yang mudah untuk mengungkapkan perasaannya begitu saja."

"Kau juga tahu itu?"

"Tidak hanya sekarang. Sejak dulu Ray seperti itu. Hanya mengucapkan 'Sayang' saja dia sangat sulit. Aku yakin, anak bodoh itu sedang menahan hatinya sendiri dan memendam semuanya. Atau mungkin dia justru tidak sadar dengan rasa sukanya sendiri."

MR. PHOBIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang