TIGA PULUH EMPAT

2.2K 158 12
                                    

Anjani berdiri di depan kaca besar dengan beberapa tas yang sudah berulang kali ia coba. Ia menaruh tas-tas mewah itu di pergelangan tangannya. Tersenyum penuh arti saat melihat dirinya semakin terlihat lebih sempurna dengan beberapa tas yang sudah menjadi incarannya.

Dihadapannya sudah berdiri Adel yang tengah bersandar di rak tas-tas mewah lainnya bersinggah. Kedua gadis itu saling menatap dan menaikkan alis satu sama lain.

"Jadi, lo mau ambil yang mana?" tanya Adel sebagai sang pemik tokoh tas yang sedang disinggahi Anjani sekarang. "Please, jangan bilang kalo lo nempa buat kado lo nanti."

Anjani tersenyum lebar penuh arti. "Gue pengen semuanya."

"Dasar maruk! Nanti gue bilang sama Ray."

"Apa sih?"

"Bahkan 10 tas disini, nggak ada apa-apanya jika Ray yang beli. Anggap aja dia cuma buang uang kecil."

Anjani menghembuskan napas pelan dan menjatuhkan dirinya di sofa panjang yang ada tidak jauh dari mereka. Tatapannya masih tak lepas dari Adel yang masih bersandar di rak tas.

"Banyak anak-anak yang ngechat guet setelah malam kemarin," ucap Anjani.

"Isinya?" Adel beranjak dan duduk di sofa yang berhadapan dengan Anjani.

"Mereka bertanya tentang Ray."

"Sudah gue duga."

"Mereka juga bertanya tentang Kenzo."

"Kenapa mereka nggak tanya sama gue?"

Anjani mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban jika ia sendiri tidak tahu kenapa mereka melakukan itu. Mereka hanya menjadikan Anjani sebagai sasaran.

"Jika gue bilang kalo Kenzo itu bener-bener pacar lo. Mungkin nggak mereka akan heboh?"

Adel mendelik. "Tapi lo nggak ngomong apa-apa kan?"

Anjani hanya memicingkan mata sembari tersenyum menggoda melihat pipi Adel yang sudah memerah. Kejadian semalam terlintas lagi di benak keduanya. Dimana kebebasan mereka kini sudah diambil dengan dua pria yang akan selalu mengikuti mereka dimanapun mereka berada, menghubungi mereka hanya untuk mengetahui keberadaan masing-masing.

#

Anjani terus melihat ke belakang dengan tangan yang terus digenggam oleh Ray. Beberapa kali ia menatap Ray bingung saat lelaki itu membawanya berjalan berlainan arah dengan Kenzo dan Adel. Tapi pria yang di tatap hanya terus menatap lurus ke depan dengan wajah penuh ketenangan, sesekali senyum simpul terkembang di sudut bibirnya.

"Mau kemana kita?"

"Mencari tempat untuk bicara."

"Ada sesuatu yang ingin kau katakan? Apa itu penting?"

Ray menghentikan langkahnya, sekaligus memutar sedikit tubuhnya untuk menatap Anjani yang berdiri di sampingnya.

"Apa aku harus memerlukan alasan penting untuk bicara denganmu?"

"Bukan itu, maksudku kenapa kita harus berjalan berlainan arah dengan Kenzo dan Adel?"

"Karena mereka memang perlu berdua. Apa kau ingin mengganggu mereka?"

Anjani mengerutkan dahi tidak mengerti. "Kenapa mereka perlu berdua? Jangan-jangan ...!!!?"

Ray menaikkan sebelah alisnya menunggu Anjani melanjutkan dugaannya.

"Apa Adel melakukan kesalahan?"

Ray memejamkan mata lalu terkekeh, satu tangannya terangkat untuk menghusap pelan puncak kepala Anjani, membuat Anjani sedikit tertegun. Karena jujur saja, Anjani tidak pernah menyangka kalau Ray bisa melakukan hal seperti ini juga.

MR. PHOBIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang