Satu tahun mungkin bukan waktu yang lama bagi sebuah persahabatan. Satu tahun mungkin waktu yang begitu singkat untuk menentukan apakah sebuah persahabatan akan berakhir abadi atau tidak. Toh, banyak persahabatan yang sudah dibangun bertahun-tahun, bisa tiba-tiba luruh tak bersisa. Karena kesibukan masing-masing, karena ketidakpedulian, karena ketidakcocokan, bahkan banyak yang berakhir karena pengkhianatan. Waktu satu tahun mungkin terlalu dini untuk menyebut orang dalam lingkaran persahabatan kita sebagai sahabat sejati, tapi itulah yang sedang terjadi pada seorang Ardi Ananta yang menganggap Gema Guntur adalah sahabat sejatinya.
Ardi dan Gema pernah bertemu saat SMP, berkenalan dalam sebuah perlombaan fisika yang diikuti oleh kebanyakan kelas 3. Beberapa bulan kemudian, mereka kembali dipertemukan saat SMA. Bertemu saat pendaftaran ulang, duduk bersisian saat menerima pengarahan untuk siswa baru, satu kelompok saat MOS, bahkan setelah itu satu kelas. Mereka jodoh bukan? Sejak saat itu, Ardi tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ia yakin, Tuhan memberi begitu banyak 'kebetulan' untuknya dan Gema sebagai sebuah pertanda. Bahwa ia dan Gema akan bersahabat dekat.
Setelah menjadikan Gema teman sebangku dan sahabatnya, Ardi menyadari sesuatu: Gema tidak seperti apa yang ia tunjukkan pada dunia. Di luar, pemuda itu terlihat kalem, cool, dan cenderung cuek. Di dalam, Gema adalah seorang yang banyak bicara, tengil, dan perhatian pada orang lain. Ardi bisa tahu itu dari interaksi Gema dan Lea—yang omong-omong, ia baru tahu beberapa bulan setelah mereka bersahabat bahwa ternyata gadis cantik yang ditaksir banyak cowok itu adalah sepupu Gema. Gema selalu bertingkah seperti anak kecil jika berada di samping Lea, juga selalu bersikap seperti kakak laki-laki yang protektif pada adik perempuannya.
Satu hal lagi yang Ardi sadari: Gema jarang sekali tersenyum. Mungkin Gema terkenal karena sifatnya yang ramah pada semua orang—padahal ia adalah seorang Guntur, anak pengusaha kaya—tapi Ardi sadar bahwa senyum yang Gema sunggingkan bukanlah senyum yang dikeluarkan tulus dari hatinya. Bagi Gema, senyum seolah hanya formalitas. Saat tersenyum pada teman-temannya. Saat tersenyum pada gadis-gadis penggemarnya. Saat tersenyum pada kolega-kolega ayahnya—baik itu yang diundang ke rumah atau yang ia temui di pesta-pesta dimana ia harus ikut dengan orang tuanya. Bibirnya tersenyum, tapi senyum itu tidak pernah mencapai matanya.
Sejatinya, Gema Guntur tidak pernah tersenyum pada dunia.
Atau itulah yang pernah Ardi yakini. Setidaknya sampai tadi pagi, sampai di waktu dimana ia melihat senyum Gema yang tidak luntur sejak pemuda itu memasuki kelasnya. Bahkan ia duduk di samping Ardi dengan senyum yang semakin merekah di wajahnya. Senyum yang lebih menyilaukan dari matahari pagi ini.
"Pagi," sapa pemuda itu.
Sejak kapan Gema menyapanya seformal itu? Biasanya juga pemuda itu hanya berteriak, 'Hoi, bro!' lalu melemparkan tasnya ke atas meja dan menghempaskan tubuhnya dengan keras di bangkunya.
Tangan Ardi terjulur ke arah dahi Gema, mengecek suhunya.
"Eh, kenapa nih?" tanya Gema heran, menepiskan tangan sahabatnya dari depan wajahnya.
"Ngecek kali-kali aja lo lagi demam."
"Gue baik-baik aja kok," sahut Gema, dengan senyum yang masih terkembang di wajahnya.
"Terus, kenapa lo senyam-senyum nggak jelas gitu?"
Gema tidak menjawab, malah tersenyum semakin lebar. Membuat Ardi menatapnya semakin ngeri. Ia baru saja akan mengacuhkan sahabatnya ketika teringatkan sesuatu. Hanya ada satu hal yang bisa membuat Gema Guntur tersenyum-senyum tidak jelas seperti sekarang.
"Melodi, ya?"
Walau Gema tidak menjawab, tapi kepalanya yang menoleh begitu cepat pada Ardi membuatnya yakin kalau tebakannya benar. Ardi menyeringai pada Gema.
KAMU SEDANG MEMBACA
Petrichor
Teen FictionBagi Melodi, guntur adalah salah satu pertanda hujan akan turun. Bagi Gema, hujan adalah caranya untuk menggugurkan rindu. Dua remaja. Dalam satu gerimis yang sama. Mereka tahu hujan tak selalu menyenangkan. Mereka tahu hujan membuat mereka basah. T...
