Bagian 3 : Pelangi

1.1K 112 8
                                        

Sesuai janji, di "hari kelahiran" mereka, kita akan bertemu lagi dengan Gema.

Selamat bercengkrama dengan si Pemuda Guntur :)

* * *

"Sang Raja tidak setuju akan keputusan pangeran Angsa untuk menikahi si itik sawah. Paduka tidak akan pernah setuju pilihan putra semata wayangnya. Yang Sang Raja mau, sang putra mahkota memilih seorang putri atau gadis bangsawan, yang sederajat dengan mereka. Kalau bisa, dengan Putri yang sang Raja pilihkan. Tentu saja, Pangeran tak terima. Pangeran menolak keinginan sang Raja, sampai kedua orang itu bertengkar hebat. Pangeran berkali-kali meyakinkan si Itik Sawah kalau sang pemuda akan tetap memilihnya, apapun yang terjadi.

"Si Itik Sawah mengerti sifat sang Pangeran yang keras kepala. Si Itik Sawah mengerti, kalau Pangeran akan melakukan apa saja untuk mempertahankan si Itik Sawah disisinya. Jika itu diteruskan, lama-lama si Itik Sawah yakin kalau sang Pangeran akan menjadi anak yang membangkang orang tuanya. Ayahnya akan marah pada sang Pangeran, dan Raja tidak akan pernah suka padanya. Dan itu adalah hal terakhir yang si Itik Sawah inginkan.

"Maka, si Itik Sawah memilih untuk pergi dari kehidupan sang Pangeran Angsa."

* * *

Kakinya melangkah masuk terburu-buru ke lobi rumah sakit. Ini sudah rumah sakit ketujuh yang ia datangi. Sejauh ini, dari enam rumah sakit yang didatanginya, tidak ada satupun petunjuk yang mengatakan dimana Melodi berada. Tidak ada satupun pegawai rumah sakit yang tahu dimana Gadis Hujan yang menjadi salah satu korban kecelakaan di tol Cipularang itu, di satu titik dekat kota Bandung. Tidak ada satupun pegawai rumah sakit yang mengaku menerima pasien seorang gadis remaja dengan rambut sebahu itu.

Melodi tidak ada dimanapun. Gadis itu seolah raib ditelan malam.

Mel, jangan bikin aku panik ...

Gema memelankan langkahnya begitu melihat petugas administrasi di balik mejanya yang dini hari ini mendadak ramai oleh keluarga korban kecelakaan yang sedang mencari sanak saudaranya. Seolah sudah mengerti, petugas itu tersenyum getir pada Gema, siap menyambut apapun pertanyaan yang akan pemuda itu lontarkan dengan tenang.

"Pak, apa ada korban kecelakaan jalan tol yang dirawat disini?" tanya Gema tanpa berbasa-basi.

"Banyak, Dek,"

Gema berusaha keras tidak mendengus dan membentak si petugas begitu mendengar jawabannya. Ia memfokuskan pikirannya pada satu nama.
"Apa salah satunya ada yang bernama Melodi Hujan?"

Petugas itu mengecek berkas yang ada di hadapannya, menelusurinya dengan hati-hati, lalu mendongkak menatap Gema dengan tatapan prihatin. Lewat tatapan itu saja, tanpa gelengan pelan yang petugas itu lakukan setelahnya, Gema sudah tahu jawaban dari pertanyaannya.

Tidak ada Melodi. Gadis-nya tidak disini.

Ia harus mencari kemana lagi?

"Bapak tahu rumah sakit mana lagi yang merawat korban kecelakaan?" Gema kembali bertanya dengan rasa frustasi yang sudah menggantung di dadanya.

"Adik sudah cek kesini?" Petugas itu menyodorkan sebuah kertas pada Gema, berisikan daftar sejumlah rumah sakit yang memungkinkan. Gema mengangguk, semua sudah ia kunjungi.

"Ada rumah sakit lain, Pak?"

"Saya tidak tahu, Dik,"

Gema menghela nafas frustasi. Kemana lagi ia harus mencari?

"Mungkin adik bisa cari keluarganya ke rumah sakit daerah atau kecamatan terdekat yang punya IGD. Atau Adik bisa cari di puskesmas—siapa tahu  lukanya tidak terlalu berat,"

Semoga. Semoga lukanya Melodi memang tidak terlalu berat sampai-sampai harus dibawa ke rumah sakit dengan fasilitas IGD lengkap. Semoga saja, gadis-nya tidak terluka parah dan hanya dibawa ke salah satu fasilitas kesehatan tingkat satu di kota ini.

Melodi, semoga kamu tidak apa-apa. Semoga kamu baik-baik saja.

"Kalau boleh tahu, siapanya yang kecelakaan?"

Gema tersenyum getir, "Teman saya, Pak."

Bohong. Melodi bukan temannya. Melodi adalah gadis-nya. Dulu, sekarang, dan sampai nanti.

Gema segera berpamitan sebelum si petugas rumah sakit kembali bertanya padanya. setibanya di salah satu koridor, matanya menangkap tulisan mushala disamping kanannya. Dan kesanalah kakinya melangkah.

Setelah setengah jam terpuruk diatas sajadahnya, Gema keluar dari mushala dengan mata sembab. Pemuda itu melangkahkan kakinya pelan hingga tiba di halaman rumah sakit. Sejenak, ia mendongkakan kepala, menatap bintang yang dari pinggiran kota Bandung itu terlihat lebih jelas dibandingkan di Jakarta. Sejenak, ia kembali memanjatkan doa untuk Melodi, dimanapun gadis itu berada. Sejenak, ia menghirup nafas dan menghembuskannya dengan pelan. Menguatkan kembali niatnya yang sempat ia gumamkan dalam hati di shalat sepertiga malamnya tadi.

Sampai kapanpun, ia tidak akan menyerah untuk mencari Melodi. Gema Guntur tidak akan menyerah sampai ia bisa menemukan Gadis Hujan-nya.

Gema tidak akan menyerah untuk menemukan Melodi, tidak peduli jika garis takdir mengguratkan ia harus mencari Melodi seumur hidupnya.

* * *

PetrichorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang