Awan kelabu berarakan di langit. tetes hujan dengan deras turun ke bumi, membasahi apapun yang bisa disentuhnya. Dedaunan, pepohonan, atap genting, bangku taman, hingga teras koridor utama yang terciprati tetesan dari air di parit kecil di tepi taman.
Melodi menjulurkan tangannya. Telapak tangannya menengadah, merasakan tetes air yang berjatuhan dari genting. Teringatkan kejadian berbulan-bulan satu, di saat yang sama. Pulang sekolah. Hujan yang tak berhenti sejak istirahat kedua. Ajakan pulang. Dan Gema Guntur.
Bedanya, dulu yang mengajaknya pulang adalah Lea. Dulu, Lea membujuknya untuk pulang bersama. Dulu, Melodi enggan menerimanya karena tidak ingin merepotkan Lea. Juga enggan karena Gema Guntur yang menatapnya dalam diam, entah sedang memikirkan apa.
Sekarang, bukan lagi Lea yang mengajaknya pulang bersama. Sekarang, Gema Guntur tidak hanya diam saja saat memandangnya. Sekarang, Gema Guntur ikut menjulurkan tangannya ke arah tetesan hujan yang jatuh dari atap.
"Kamu nggak lagi pengen nangis 'kan?"
Melodi tertawa kecil mendengar pertanyaan Gema yang diceletukkannya dengan tiba-tiba, "Kenapa tiba-tiba nanya kayak gitu?"
"Kamu pernah bilang, kalau kamu suka hujan karena kamu bisa nangis bersama langit."
Melodi tersenyum. Ternyata Gema masih ingat tentang perkataannya dulu.
"Nggak kok, nggak lagi pingin nangis."
Bagaimana ia bisa menangis selagi Gema Guntur—salah satu sumber kebahagiaannya—ada disampingnya?
"Malah kayaknya, aku yang harus nanya gitu sama kamu,"
Gema menoleh, "Aku nggak pingin nangis."
"Mungkin," Tatapan Melodi terlihat menerawang ke satu titik, namun ia tetap berbicara pada Gema. "Tapi kamu kayak banyak pikiran akhir-akhir ini."
Gema terdiam. Sebegitu terlihatkah seluruh kecemasannya beberapa hari belakangan?
Sejak pertemuan dengan keluarga Raisa di rumahnya, Gema tidak pernah bisa tenang. Sebentar-sebentar, memikirkan Melodi. Sebentar-sebentar, memikirkan ayahnya. Sebentar-sebentar, memikirkan hubungan Melodi dengannya. Sebentar-sebentar, memikirkan ancaman ayahnya. Sebentar-sebentar, memikirkan reaksi Melodi jika ia memberitahunya tentang hal ini. sebentar-sebentar, ia juga mulai memikirkan Raisa.
Tidak, bukan, jangan salah paham dulu. Gema bukan memikirkan Raisa dalam artian yang sama seperti ia sedang memikirkan Melodi. Ia tidak memikirkan Raisa dalam kapasitas orang jatuh cinta. Ia memikirkan Raisa dalam berbagai skenario penolakan. Karena semakin hari, gadis itu semakin gencar untuk mendekatinya.
Tidak secara terang-terangan di sekolah seperti yang dulu-dulu. Kali ini, gadis itu melakukannya lebih tenang. Mengiriminya pesan, bertanya kabar. Menitipkan makanan-makanan pada asisten rumah tangganya. Tak jarang, gadis itu mendekat lewat ayahnya.
"Tadi Papi ketemu Raisa sama Oom Adi,"
"Raisa tanyain kabar kamu,"
"Raisa kelihatan kecewa karena kamu nggak datang di pesta tadi,"
... sampai ke ...
"Sekali-kali, kamu harus ajak Raisa pergi."
Seandainya saja yang berbicara seperti itu bukan ayahnya, Gema akan dengan senang hati mendengus demi mengungkapkan rasa tidak sukanya.
"Kamu ngelamun,"
Ditegur begitu, Gema menoleh, "Emangnya salah kalau aku ngelamun?"
"Nggak sih," sahut Melodi. "Cuma nggak biasanya kamu ngelamun kayak gitu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Petrichor
Teen FictionBagi Melodi, guntur adalah salah satu pertanda hujan akan turun. Bagi Gema, hujan adalah caranya untuk menggugurkan rindu. Dua remaja. Dalam satu gerimis yang sama. Mereka tahu hujan tak selalu menyenangkan. Mereka tahu hujan membuat mereka basah. T...
