Pemuda seperti apa yang kalian sebut sebagai pemuda yang paling romantis sedunia?
Bagi Melodi, bukan sekedar pemuda yang memberikan bunga bagi orang yang ia suka. Bukan sekedar pemuda yang mengatakan kata-kata manis bagi orang-orang yang mereka sayang. Bukan sekedar pemuda yang menyanyikan lagu-lagu romantis untuk orang-orang tercintanya. Bagi Melodi, pemuda paling romantis adalah pemuda yang bisa mengingatkanya pada Tuhan saat kebanyakan orang justru sibuk dengan urusan dunianya.
Bagi Melodi, pemuda itu adalah Gema Guntur.
Sejak pertama membawa pemuda itu ke panti asuhan, pandangan Melodi pada Gema Guntur perlahan berubah. Pemuda itu masih tetap menyebalkan, masih tetap keras kepala. Masih tetap sok cool dan kalem di hadapan orang lain. Tapi perlahan Melodi merasakan sisi lain Gema Guntur. Sisi lain Gema Guntur yang manja dan tukang merajuk. Sisi lain Gema Guntur yang senang sekali tersenyum manis dan mengeluarkan kata-kata gombal. Sisi lain Gema Guntur yang di hari itu, tiba-tiba menanyakan sarung dan sajadah pada Bunda untuk shalat dzuhur. Sisi lain yang juga ia lihat saat kemarin mereka bermain di Dunia Fantasi, saat Gema selalu menariknya ke arah mushala ketika ponselnya menunjukkan pemberitahuan bahwa waktu shalat sudah tiba.
Sesederhana perilaku Gema yang ia tunjukkan pada Melodi, sesederhana itu pula lah pemuda itu menyentuh hatinya. Hingga entah sejak kapan, pemuda itu mulai mengisi rasa dan pikirannya.
Untuk saat ini, pemuda yang sama tidak hanya mengisi rasa dan pikirannya, tapi juga netranya. Karena pemuda yang sama sudah berdiri di samping mejanya dan Lea di kantin sekolah dan memberikan senyum manisnya pada Melodi.
"Hai," sapanya riang.
Ardi hampir saja menoyor kepala sahabatnya yang sok manis jika saja Melodi tidak menyapanya balik.
"Hai,"
Ardi dapat menangkap lirikan Lea yang ditujukkan padanya, tapi gadis itu tidak berkata apa-apa, jadi Ardi memutuskan untuk duduk di hadapannya.
"Tuker tempat dong," pinta Gema pada Lea yang duduk di samping Melodi.
"Ogah! Sana, duduk deket Ardi aja!"
"Gue maunya duduk di tempat lo."
"Gue nggak mau ngasih!"
Ardi hanya tertawa melihat perdebatan dua sepupu itu, sementara Melodi tersenyum tipis. Senyum tipis yang tidak terlewatkan dari pengamatan Lea, Ardi, dan Gema.
Gema akhirnya menurut untuk duduk di dekat Ardi. Bukan hanya karena ia tidak ingin memicu keributan dengan Lea di kantin sekolah, tapi juga karena jika ia duduk di dekat Melodi, itu hanya akan memancing rasa penasaran satu SMA Angkasa dan akan menimbulkan gosip baru. Kalau dulu saja ia makan es krim dengan Melodi membuat gadis itu dicecar oleh gengnya Raisa, bagaimana jadinya kalau mereka duduk berdampingan di kantin sekolah? Gema tidak ingin membuat gadis itu terlibat lagi masalah gara-gara dirinya.
"Makan apa, Mel?" tanya Gema yang sudah duduk di seberang Melodi.
"Bawa mie goreng. Gue kesini cuma nemenin Lea makan,"
Gema mengangguk-angguk, "Gue mau nyicip, boleh?"
Senyum terkembang di wajah Gema ketika melihat Melodi mengangguk dan menyodorkan kotak bekalnya. Tapi gadis itu lalu kebingungan ketika disadarinya ia hanya membawa satu sendok.
"Gue pinjem aja," Pemuda itu tiba-tiba berdiri, berjalan ke arah abang penjual ketoprak. Tak lama, pemuda itu membawa sebuah garpu di tangannya.
"Gue minta, ya," gumam Gema pada Melodi, yang dibalas anggukan gadis itu. Melodi tersenyum tipis melihat Gema menyuapkan mie goreng ke mulutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Petrichor
Novela JuvenilBagi Melodi, guntur adalah salah satu pertanda hujan akan turun. Bagi Gema, hujan adalah caranya untuk menggugurkan rindu. Dua remaja. Dalam satu gerimis yang sama. Mereka tahu hujan tak selalu menyenangkan. Mereka tahu hujan membuat mereka basah. T...
