Tidak ada yang berubah sejak hari itu, hari dimana Gema mengumumkan tentang hubungannya dan Melodi ke seisi sekolah. Hari-hari Melodi berjalan seperti biasa. Pergi ke sekolah, belajar, lalu pulang dan diantarkan Gema ke restoran, ditunggui oleh pemuda itu, sebelum malam harinya Gema mengantarnya pulang ke rumah. Kadang Gema hanya sekedar mengantarnya, lalu menghabiskan waktu di rumahnya sebelum menelepon Melodi pada sore harinya dan bertanya kapan ia pulang dan kapan Gema bisa menjemputnya—jangan harap Melodi bisa pulang sendirian, karena setiap Melodi protes, Gema selalu berdecak kesal.
"Pilih mana: aku bela-belain jemput kamu atau aku panik karena kamu celaka digangguin preman-preman kayak kemarin lagi?"
Melodi hanya bisa mendesah pelan dan menuruti apa mau Gema. Itu lebih baik daripada mendengar omelan dan bujuk rayu yang akan keluar kalau sampai Melodi menolak.
Lagipula, buat apa menolak kalau dengan Gema menjemputnya, ia bisa lebih lama bersama pemuda itu?
Astaga, ia sudah mulai seperti anak alay yang sedang kasmaran.
"Ngelamunin apa, Neng Melo?"
Melodi mengerjapkan mata, menatap Gema yang sedang memiringkan wajah untuk menatapnya. Ia mengerjap lagi, mengingat-ingat kenapa Gema duduk mencakung di atas motornya. Sedetik kemudian ia tersadar kalau mereka baru saja tiba di sekolah pagi itu.
"Bukan apa-apa," sahut Melodi, menyerahkan helm yang sudah dilepasnya pada Gema, mengenyahkan pikiran kenapa akhir-akhir ini hanya dengan kehilangan sedikit konsentrasi saja dirinya bisa lupa akan apa yang sedang dia lakukan.
Gema menatap Melodi dengan heran, tapi ia tidak banyak bertanya. Pemuda itu menerima helm yang disodorkan Melodi. Ia lalu turun dari motornya dan merapihkan seragamnya yang terbalut jaket kulit berwarna coklat. Tanpa suara, ia dan Melodi beriringan keluar dari parkiran dan berjalan ke arah jalan setapak penghubung tempat parkir dan koridor samping sekolah.
"Nggak ada yang jahatin kamu sejauh ini?" tanya Gema saat mereka mulai menapaki anak tangga ke lantai tiga bangunan sekolah mereka, ke arah kelas XII.
"Jahatin kayak gimana? Sejauh ini, belum ada yang sayat-sayat aku pakai pisau, sih."
"Ya ampun, Neng Melo, mau banget disayat-sayat?" Gema berdecak kesal. Ia lalu memasang raut serius, "Maksudku, yang kayak Adela kemarin."
Melodi tidak menjawab, hanya mengedikkan bahu.
"Mel," Gema mendekat padanya dan berkata pelan, "Kamu tahu kalau kemarin aku nggak bercanda kan? Soal kamu yang harus bilang ke aku kalau ada yang jahatin kamu."
"Nggak ada yang jahatin aku, Gema." Melodi meyakinkan pemuda disampingnya.
"Serius?"
"Serius."
Apa sih yang Gema definisikan sebagai jahat? Dirinya yang dipelototi oleh seisi sekolah seolah Melodi adalah wabah yang harus dihindari? Dipandang rendah hanya karena orang-orang merasa ia terlalu buruk untuk Gema? Dibicarakan di belakang, dijelek-jelekan, hanya karena ia dan Gema tidak cocok, bagaikan awan-awan dan air di palung samudra?
Jujur saja, Melodi tidak peduli. Ia yang menjalani hidupnya, dan semua yang ia lakukan tidak pernah merugikan orang lain atau melanggar aturan masyarakat. Ia sadar sikapnya yang jutek dan terlalu cuek kadang membuat orang menganggapnya sombong dan sebagainya, tapi memangnya Melodi peduli apa? Orang-orang itu tidak pernah benar-benar peduli padanya, hanya menatap mengiba, merendahkan, bahkan menghina. Jadi, untuk apa Melodi acuh akan apa yang mereka katakan sementara mereka tidak pernah peduli padanya?
Kalaupun Melodi peduli, Melodi hanya akan mendengarkan kata-kata dari beberapa orang yang benar-benar peduli padanya: Mama, Papa, Bunda, Bayu, kakak-kakaknya di restoran, dan adik-adiknya di panti. Di sekolah, hanya guru-guru yang masih bersikap baik padanya—apalagi Melodi termasuk murid yang tidak pernah macam-macam. Hanya ada segelintir murid yang peduli padanya, menatapnya tanpa jijik dan tanpa pandangan merendahkan. Lea, Ardi, dan tentu saja si pemuda Guntur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Petrichor
Teen FictionBagi Melodi, guntur adalah salah satu pertanda hujan akan turun. Bagi Gema, hujan adalah caranya untuk menggugurkan rindu. Dua remaja. Dalam satu gerimis yang sama. Mereka tahu hujan tak selalu menyenangkan. Mereka tahu hujan membuat mereka basah. T...
