Lea menatap sepupunya yang pagi itu terlihat riang. Pagi-pagi, di saat biasanya pemuda itu malah duduk di tempat tidur setelah shalat subuh, berusaha memejamkan matanya lagi. Di saat biasanya ia dan adik Gema harus menggedor-gedor kamar pemuda itu untuk membuatnya terjaga dan tidak tidur lagi, hari ini Gema justru sudah duduk rapi di meja makan sambil menyantap sarapannya.
“Kesambet apa, Gem?”
“Pagi juga, Lea. Gue nggak kesambet apa-apa kok,” Gema menyindir sekaligus menjawab pertanyaannya dengan riang.
Lea mendengus. Walau jelas-jelas pemuda itu menyindirnya, ia enggan mengucapkan selamat pagi pada Gema.
“Bagus deh lo bangun pagi. Gue nebeng ya?”
Raut wajah Gema berubah panik. Matanya berkeliling liar, menatap kemana saja asal tidak pada Lea. Lea menatapnya bingung.
“Kenapa?”
“Eh, gue mau berangkat sendiri,”
“Tega-teganya lo sama sepupu sendiri, Gem.” Lea mencebik.
“Sori deh, Le. Lo bareng Rima aja ya?” Gema memohon.
Lea mendelik pada Gema. “Jahat lo sama sepupu sendiri, Gem.”
“Plis, sama Rima dulu ya? Gue nggak bisa nebengin lo,”
“Emangnya, kenapa sih?” Lea masih tidak terima.
“Eh, gue ada perlu,” Gema tergeragap.
“Ngapain?”
“Eh—eng, itu ...”
“Jemput cewek ya?” Lea memicingkan matanya. Dilihat dari tingkah Gema yang semakin salah tingkah, ia tahu tebakannya benar.
“Siapa?” tembak Lea langsung.
“Eh, eng, itu ... gue bukan mau—”
“Siapa?” potong Lea.
Gema menatap sepupunya takut-takut, lalu menggumam pelan, “Melodi,”
“Siapa?” tanya Lea lagi. Saking pelannya suara Gema, ia tidak dapat mendengarnya dengan jelas.
“Melodi,”
Lea menatap Gema dengan mata melebar (padahal dalam hati ia sudah menahan senyum), “Melodi Hujan?”
Gema mengangguk.
“Melodi sahabat gue?”
“Iyaa,” sahut Gema kesal. Ia harus mengulang berapa kali sih supaya sepupunya yakin?
“Kok bisa?”
“Bisa dong,” Gema berujar bangga—rasa kesal dan gugupnya hilang begitu saja.
“Lo paksa-paksa ya?”
“Enak aja!” giliran Gema yang mendelik pada Lea. “Gue cuma menawarkan kok, dan dia bersedia.”
“Kapan lo nawarin ke dia? Pas pulang sekolah kemarin?”
“Nggak. Gue chat dia,”
Percaya atau tidak, semalam, setelah kembali membujuk-bujuk Melodi, akhirnya ia bisa mendapatkan nomor ponsel gadis itu. Itu pun setelah mendapatkan pelototan dan kata-kata pedas dari Melodi karena Gema mengancam akan meminta nomor Melodi pada Bayu—omong-omong, kak Bayu memberikan kontaknya secara sukarela setelah mereka membuat perjanjian untuk menjaga gadis itu sepulang kerja a.k.a. menjadi anggota Pasukan Pengawalan Nona Melodi. Melodi hanya bisa misuh-misuh begitu tahu kalau kak Bayu sudah menjadi balakurawa Gema.
“Kenapa?” tanya Gema melihat sepupunya hanya diam menatapnya.
“Lo suka ya sama Melodi?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Petrichor
Novela JuvenilBagi Melodi, guntur adalah salah satu pertanda hujan akan turun. Bagi Gema, hujan adalah caranya untuk menggugurkan rindu. Dua remaja. Dalam satu gerimis yang sama. Mereka tahu hujan tak selalu menyenangkan. Mereka tahu hujan membuat mereka basah. T...
