Badai - Lima Belas

1.4K 132 3
                                        

Saat kita merasa bahagia, waktu seolah berjalan begitu cepat. Saat kita menghabiskan waktu bersama orang-orang yang bisa membuat kita nyaman, rasa bahagia itu seolah melenyapkan segala susah. Hingga tanpa terasa, kita sudah melewati banyak hal yang membuat kita melupakan sakit yang dunia berikan.

Itu yang sedang berlaku pada Gema sekarang. Tanpa disadarinya, sudah lima bulan ia lewati bersama Melodi sebagai dua manusia yang sedang menikmati masa pacaran. Masa pacaran yang aneh, kalau kata Lea dan Ardi. Aneh, karena ketika sebagian besar anak muda menghabiskan waktu kencan dengan nonton berdua di bioskop, dua orang itu menghabiskan waktunya dengan Gema yang 'menonton' Melodi bekerja di resto atau 'menonton' Melodi yang mengajari Rima—ngomong-ngomong, Melodi sudah mulai memberikan les privat pada Rima sejak tiga minggu lalu. Ketika sebagian besar orang pacaran menghabiskan hari libur dengan makan berdua di tempat makan hits, Gema lebih memilih menghabiskan waktunya dengan menemani Melodi memasak dan memakan masakan gadis itu. Ketika sebagian besar pasangan menghabiskan waktu liburannya untuk jalan-jalan berdua, Melodi dan Gema menghabiskan waktu liburannya dengan mengajak anak panti jalan-jalan.

Dilihat dari mata orang awam, semua itu tidak ada romantis-romantisnya. Tapi bagi Gema yang baru pertama jatuh cinta, semua terasa lebih dari romantis.

Ya ampun. Gema tertawa dalam hati. Kalau saja Melodi mendengar kalimat itu dari Gema, Gema yakin Melodi akan berdecak tak habis pikir dengan pikiran si pemuda Guntur. Atau minimal, gadis itu akan memutar bola matanya, mencibir karena menganggap kalimat Gema seolah kalimat itu adalah kata-kata gombal yang para laki-laki buaya katakan untuk meraih hati gadisnya.

Gema tidak peduli bagaimana Melodi meledeknya, karena ia yakin, kalimat itu akan tetap membuat semburat merah terbit di wajah Melodi.

Hanya dengan mengingat wajah merona yang selalu membuat hatinya hangat itu saja, Gema sudah tidak sabar untuk bertemu dengan si Gadis Hujan. Membuat langkahnya yang tadi riang dan ringan berubah menjadi tergesa-gesa. Tidak sabar untuk pergi ke halaman belakang sekolah, menghampiri si Gadis Hujan yang jam pendalaman materinya sudah lebih dulu selesai dibandingkan Gema.

"Gema,"

Suara itu menghentikan langkah tergesa Gema. Gema membalikkan badan dan mendapati Raisa sudah berdiri tiga langkah darinya. Di koridor sepi menuju halaman belakang sekolah.

"Ya?" Gema menatap gadis itu dengan pandangan bertanya. Ketika lima belas detik berlalu dan Raisa tidak juga kunjung membuka mulut untuk berbicara, Gema kembali bertanya, "Ada apa?"

"Hari Minggu besok, kamu ada acara?"

Gema mengangguk. Jadwalnya sudah jelas. Hari Minggu besok adalah jadwalnya untuk menemani Melodi ke panti, sebagaimana jadwal dua-mingguan mereka.

"Kalau Sabtu malam?"

Gema kembali mengangguk. Walau ia tidak punya jadwal kencan tetap di malam Minggu, ia akan tetap menghabiskan waktu dengan Melodi karena gadisnya itu akan bekerja di restoran, yang artinya Gema akan menungguinya disana hingga ia mengantarkan Melodi pulang ke rumahnya.

"Kamu nggak datang ke acaranya Pandu Pradipa?" tanya Raisa. "Kamu diundang kan?"

Gema menggeleng, "Ayah gue yang diundang, bukan gue."

Raisa terlihat menahan kesalnya ketika Gema mengucapkan kalimat itu. Membuat Gema yakin kalau Melodi ada disini, gadis itu akan menahan tawanya dengan candaan Gema yang tak lucu tapi berhasil membuat Raisa kesal.

"Maksudku, kamu nggak ikut ayahmu kesana?"

Gema mengedikkan bahu cuek, "Untuk apa?"

"Kamu 'kan calon pewaris perusahaan keluarga,"

PetrichorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang