Melodi menatap rumah di hadapannya dengan tatapan tak terbaca. Selama ini, ia tahu kalau Gema adalah anak orang kaya. Satria Guntur, ayahnya, jelas-jelas salah satu pengusaha terkaya di Nusantara. Ia juga tahu kekayaan itu mungkin tidak akan habis sampai tujuh turunan walau Satria Guntur mengalami kebangkrutan persis esok hari. Ia juga tahu kalau Satria Guntur seringkali memanjakan keluarganya—termasuk putra semata wayangnya yang sekarang sedang berdiri di samping Melodi, yang walau selalu berpenampilan sederhana, tapi setiap orang yang melihatnya tahu kalau apa yang melekat di tubuhnya dan benda-benda yang dibawanya itu adalah barang bermerk yang mahal.
Sayangnya, pengetahuannya akan fakta-fakta itu tidak membantu sama sekali. Melodi tetap saja gugup ketika melihat rumah mewah di hadapannya.
"Santai aja, Neng Melo. Hari ini kamu cuma mau ketemu Mami atau Rima," ujar Gema. "Atau kamu gugup karena mau ketemu calon mertua?"
Melodi menyikut rusuknya keras, membuat Gema meringis. Bahkan saat tegang begitu pun, Melodi masih punya tenaga untuk membuat Gema kesakitan.
"Serius, kamu tegang karena mau ketemu sama Mami?"
Tentu saja Melodi tegang—dan gugup. Mami Gema itu orangnya seperti apa? Apakah orangnya baik? Apakah beliau ramah? Apakah beliau suka bercanda seperti Mama? Apakah Mami Gema seperti sosialita kebanyakan—anggun, menawan, dan berkelas? Atau lebih buruknya, beliau tipikal orang kaya yang menganggapnya tidak sepadan dengan Gema?
Senggolan kecil di lengannya membuyarkan pikiran-pikirannya seketika. Gadis itu menoleh pada Gema yang tersenyum kecil.
"Mami baik. Aku bilang ini bukan karena aku anaknya, tapi aku yakin kamu bakal suka sama Mami walau baru pertama ketemu."
Dengan kalimat itu, Gema menggandeng tangannya untuk masuk ke rumahnya.
"Mamiiii, Melodi udah datang!" teriak Gema setelah ia menyerukan salam. Membuat Melodi ingin membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.
Ya ampun, kalimatnya harus 'Melodi udah datang' banget!? Kesannya kan malah menyiratkan kalau yang ditunggu-tunggu oleh Maminya adalah Melodi, bukan Gema. Seolah yang anaknya Mami adalah Melodi, bukan Gema.
Yang pertama kali keluar bukanlah Mami Gema, melainkan seorang gadis remaja yang rambutnya dikuncir kuda. Gadis itu memakai kaos berwarna merah muda dengan gambar Mickey Mouse di dada dan celana jeans selutut. Dari kemiripan wajahnya dengan Gema, Melodi yakin kalau gadis remaja itu adalah adik Gema. Rima.
"Mami mana?" tanya Gema pada adiknya.
"Ini kak Melodi?" tanya gadis remaja itu sambil menatap Melodi.
"Mami mana?" Gema malah mengulang pertanyaannya, membuat gadis remaja itu memberengut.
"Kakak ini, bukannya ngenalin Rima sama kak Melodi dulu, malah nanyain Mami terus,"
Gemaa menyentil dahi adiknya, membuat Rima mengaduh.
"Makanya, kalau ditanya itu jawab dulu, bukannya malah balik nanya!"
"Kan nanyanya bisa abis kenalan dong, Kak! Nggak sopan tahu nggak ngenalin tamu sama orang rumah. Apalagi nggak ngenalin pacar sama adik sendiri!"
"Teori darimana?" Gema mencibir.
Rima sudah bersiap akan membantah lagi, ketika Melodi buru-buru mengulurkan tangannya.
"Hai, Rima. Kenalin, nama Kakak Melodi." Melodi tersenyum. "Kak Gema udah sering cerita tentang kamu."
"Rima, Kak." Rima menyambut uluran tangan Melodi dengan senyum, tapi ia buru-buru melirik Gema dengan alis mengernyit. Ia kembali menoleh pada Melodi dengan raut tak percaya, "Kak Melodi nggak bohong? Kak Gema sering cerita tentang aku? Mana mungkin ah, Kak. Kak Gema itu paling kesel sama Rima, nggak mungkin dia sering cerita tentang Rima."
KAMU SEDANG MEMBACA
Petrichor
Novela JuvenilBagi Melodi, guntur adalah salah satu pertanda hujan akan turun. Bagi Gema, hujan adalah caranya untuk menggugurkan rindu. Dua remaja. Dalam satu gerimis yang sama. Mereka tahu hujan tak selalu menyenangkan. Mereka tahu hujan membuat mereka basah. T...
