Akhirnya kita bersama setelah menanti lama
Semoga selalu terjaga
Waktu telah berbicara, menanti tak sia-sia
Karena kau yang kini ada sangatlah berharga
(Rizky Febian - Penantian Berharga)
Kepikiran lagu ini ketika tadi mau ngepost.
Selamat membaca :)
* * *
Matahari tidak pernah berhenti bersinar selama dua minggu terakhir, membuat bumi semakin cerah. Secerah hati Gema yang selalu bersinar dan penuh warna. Dan semua karena pelangi yang diciptakan si Gadis Hujan. Gadis Hujan yang jutek dan dingin. Gadis hujan yang mulutnya lebih pedas dari cabe. Gadis Hujan yang selama ini diam-diam mencuri hatinya. Gadis Hujan yang sekarang sudah jadi pacarnya.
Gema tersenyum, menikmati rasa bahagia yang ada di hatinya. Juga gelenyar aneh di perutnya yang selalu muncul setiap kali ia mengingat atau melihat Melodi. Melodi Hujan yang sudah satu bulan ini menjadi pacarnya.
Sudah satu bulan? Akan ada Month Anniversary? Jangan harap. Jangan harap mereka akan merayakannya dengan sesuatu yang spesial seperti yang sering dilakukan oleh anak-anak muda nan alay jaman sekarang. Tidak akan ada postingan spesial foto Gema dan Melodi di medsos dengan caption "Happy 1st Month Anniversary, Darling." atau perayaan dengan makan di tempat spesial. Ketika Gema menyinggung-nyinggung bahwa hari ini tepat sebulan mereka berpacaran, Melodi bahkan hanya menatapnya datar.
"Terus, emangnya kenapa kalau udah sebulan?" katanya kemarin. "Bukannya harusnya bilangnya 'baru sebulan'?"
Saat itu Gema hanya nyengir tidak jelas, mengiyakan kata-kata Melodi dalam hati. Iya, baru sebulan. Perjalanan mereka masih panjang sebelum membuat hubungan ini menjadi permanen.
Permanen?
Secepat itu ia memikirkannya?
Tidak. Gema sudah memikirkannya sejak lama. Sejak pertama bertemu Melodi. Sejak menyadari gadis itu satu sekolah dengannya. Sejak ia tahu bahwa Melodi yang cuek dan dingin adalah topeng dari seorang Melodi yang manis dan sensitif. Sejak ia tahu, bersama gadis itu, dirinya menjadi orang yang lebih baik lagi. Bersama Melodi, hidupnya lebih berwarna dan lebih indah.
Seindah senyum yang sedang diberikan gadis yang berjalan ke arahnya itu.
Gema membalas senyum Melodi dari kejauhan. Gadis itu sudah mengganti seragam kerjanya dengan kaos biru muda yang dilapisi sweater biru dongker dan bawahan rok lipit berwarna hitam. Lebih terlihat seperti anak SMP yang baru selesai Ujian Nasional dibandingkan anak kelas 3 SMA yang baru selesai part-time. Melodi berhenti di hadapannya, memperhatikan Gema yang duduk mencakung di atas motornya sambil memamerkan senyum lima jarinya.
"Habis darimana?" tanyanya.
"Beli roti," Gema mengacungkan plastik yang ada di tangannya. Di plastiknya tertera salah satu nama merek roti yang terkenal. Dan mahal.
"Kenapa nggak makan di dalam?" tanya Melodi lagi.
Gema menggeleng, "Pinginnya roti. Di dalem adanya nasi,"
Melodi tersenyum kecil. Padahal kalau mau, di restoran juga ada menu roti bakar. Tapi sepertinya memang pemuda itu sedang mencari-cari alasan untuk keluar.
"Lapar?" Untuk ketiga kalinya Melodi bertanya.
"Bangeeet!" Gema mengelus-elus perutnya yang rata, membuat Melodi tertawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Petrichor
Teen FictionBagi Melodi, guntur adalah salah satu pertanda hujan akan turun. Bagi Gema, hujan adalah caranya untuk menggugurkan rindu. Dua remaja. Dalam satu gerimis yang sama. Mereka tahu hujan tak selalu menyenangkan. Mereka tahu hujan membuat mereka basah. T...
