Budayakan vote sebelum membaca💗
EL SULTAN : 35. Pilihan Sivia
Sivia mengeratkan tudung yang menutupi kepalanya. Mengikuti langkah pelan seorang dayang yang sudah sangat dikenalnya. Jalan yang ia lalui begitu sepi, bahkan semakin jauh hanya kelebatan pohon yang menaungi.
Langit yang cerah seolah mengejeknya yang tengah dirundung kegelapan. Ia tahu pilihan ini sulit, tapi ia juga tidak menyangka bahwa akan semudah ini. Sivia tersenyum miring atas pemikirannya, sebenarnya apa yang coba ia sampaikan? Sulit tapi mudah? Otaknya mulai meracau tidak jelas sekarang.
Sivia menghentikan langkah saat dayang didepannya sampai digerbang yang tinggi dan berbicara serius dengan penjaga yang berulang kali mencuri pandang kearahnya. Setelah beberapa menit mereka berbincang, dayang itu kembali kepadanya.
"Siv-eh...maksudku Nona Sivia."
Sivia mencoba mencairkan suasana yang kaku ini, perempuan didepannya terlihat salah tingkah saat memanggil namanya."Jangan sungkan padaku, Renata. Aku masih Sivia yang dulu."
"Tapi kau-"
"Tidak lagi." Sivia menggeleng lemah. Memotong perkataan itu, berharap ia tidak diingatkan lebih lanjut. Semoga Renata mengerti karena sebuah penjelasan adalah hal yang tidak ingin ia ungkapkan sekarang.
Sivia menoleh kebelakang dan menatap jalan panjang yang sempat ditapakinya, berharap hatinya akan berubah menjadi sejuk kemudian. Saat apa yang diinginkan tidak harus selalu didapatkan, tapi keyakinan akan kebahagian yang akan datang kedepan.
Entah kenapa semilir angin bagaikan badai yang siap menerpanya. Sivia menoleh ke atas langit, membiarkan sinar cerah itu menerpa kulitnya. Hangat, sebuah kehangatan yang seharusnya tidak hanya terjadi pada kulitnya tapi juga hatinya. Sinar yang bisa menghangatkan kulitnya kemudian membakar hatinya dari dalam.
Angin bisa menjadi badai dan sinar pun membakar, semua sudah menunjukkan bahwa tidak ada yang bisa berdamai dengannya disini. Entah takdir ataupun apa yang ia lakukan.
"Kereta di luar sudah menunggu," intrupsi Renata membuatnya menghembuskan nafas dengan keras. Sivia tidak tahu apa yang tejadi di gerbang depan, setahunya Renata tidak ingin mengambil resiko untuk melewati gerbang itu, banyak orang berlalu lalang menyiapkan acara yang tidak diketahui Sivia, yang jelas para penghuni istana sedang sibuk sekarang. Jadi, memanfaatkan kesempatan yang ada, Sivia berniat pergi melewati gerbang belakang menuju hutan yang sedang tidak diawasi oleh banyak penjaga.
Sivia kembali memfokuskan penglihatannya kepada Renata, kemudian ia merogoh saku jubahnya dan mengambil sesuatu dari sana. Sebuah kertas kecil yang dilipat dan langsung diserahkannya kepada Renata.
"Tolong berikan kepada Kesatria Rey." Melihat Renata yang masih diam mematung, Sivia langsung menyelipkan kertas itu ke telapak tangan Renata dan menggenggamnya. "Katakan padanya, aku menunggu." Sivia melepaskan genggaman itu dan berjalan melewati Renata yang sedari tadi masih diam enggan membuka suara.
Renata mencengkram erat kertas didalam genggamannya. Kepalanya menunduk sambil memejamkan mata. Ada sesuatu yang membuat gadis ini resah dan ada hal yang ingin disampaikan Renata tapi tertahan di lidah. Mendengar derap kuda menjauh Renata langsung berbalik. Tidak ada lagi yang bisa dicegah, semua memang harus berjalan seperti ini. "Seharusnya sekarang akan menjadi hari paling membahagiakan untukmu."
***
Kegelapan bisa membawa ketenangan. Tapi didalam kegelapan tidak ada satupun jalan. Di luar sana langit tampak menghitam dan jalan itu tidak dapat ia temukan. Seharusnya malam ini ada bintang, atau setidaknya terdapat cahaya rembulan. Bukankah semesta sudah keterlaluan dalam mengejeknya sekarang?
KAMU SEDANG MEMBACA
EL SULTAN √
FantasiCERITA INI TIDAK UNTUK MENJELASKAN SEJARAH APAPUN DAN AUTHOR TIDAK INGIN ADA PERDEBATAN SOAL HAL ITU. Selamat membaca! Kepuasan readers menjadi kesenangan tersendiri bagi author. DANKE -NuriApori-
