Budayakan vote sebelum membaca 🌟
EL SULTAN: 45. Kondisi Keea
Seperti manusia yang baru terlahir di bumi, masih dengan fikiran kosong yang siap menerima segala bentuk yang dapat ditangkap oleh indra. Begitulah keadaan Keea sekarang, menurutnya gadis itu layaknya makhluk rapuh yang butuh dibimbing dan dijaga dengan sebaik-baiknya.
Takdir yang mempertemukan mereka, membuat Keea secara tidak langsung sangat bergantung padanya. Sivia tidak menyangkal, hal itu berlaku juga padanya.
Semenjak kejadian bertahun-tahun silam, saat dirinya terlempar ke negeri ini, Sivia melihat Keea ada disana. Si gadis kecil yang pemberani, ditengah jeritan dan pambantaian yang terjadi pada keluarga Keea, gadis kecil itu masih mempunyai tenaga untuk melindunginya. Menyelamatkannya dari derasnya arus sungai, yang amat nihil kesempatan untuk hidup jika tercebur disana. Tapi, Keea dapat melakukannya, menyelamatkan nyawanya. Bahkan, saat mereka belum saling mengenal waktu itu.
Padahal, gadis itulah yang sepatutnya harus diselamatkan.
Sivia masih ingat kata-kata gadis itu saat ia membuka mata.
'Apa kau terluka?'
Pantaskah Keea mencemaskannya saat keadaan gadis itu jauh dari kata baik-baik saja. Wajah yang penuh memar, rambut kusut yang tidak beraturan, dan bau darah yang amat kental. Nafasnya bahkan terasa berat saat berbicara. Diluar dugaannya, Keea tersenyum, dengan mata bulat membentuk sabit yang indah. Saat itulah Sivia merasa kecil, apa yang telah menimpa gadis itu bisa jadi lebih buruk darinya. Tapi, tidak ada keluhan yang terdengar. Keea sangat tegar, membuat semangatnya kembali, dan saat itulah Sivia merasa berterimakasih telah diberi kesempatan untuk hidup, rasa syukur yang amat sangat atas kedatangan Keea dihidupnya.
Tapi melihat keadaan Keea saat ini, tetes demi tetes air mata rasanya sangat kecil bandingannya dengan rasa sakit Keea.
"Saat pengawal istana membawa gadis itu kepadaku. Dia berbeda." Ali bersender didinding tidak jauh dari Sivia dan Keea yang tidak sadarkan diri. Mata itu menatap Keea yang tertidur pulas. "Tingkahnya layaknya tahanan yang terkurung disebuah ruangan, sendirian. Pergelangan kakinya membiru dan aku asumsikan gadis itu dirantai. Dia masih muda, seumuranmu yang masih dalam tahap penjajakan. Psikisnya tertekan dan yang bisa ia lakukan hanya memanggilmu. Memanggil namamu."
Tarikan nafas terasa sulit dilakukan Sivia. "Aku berjanji menjemput dan membawanya pulang."
"Kau tahu? Sikapnya yang sekarang tidak lebih dari bentuk pertahanan diri. Melindungi sisi terapuh yang ia punya."
Sivia membawa tangan Keea kedalam genggamannya, "Keea selalu menunjukkan sikap beraninya, tanpa keluhan."
"Pantas saja," sambung Ali. Sikap gadis bernama Keea itu sering berubah-ubah, dan pengamatannya ternyata tepat sasaran. "Dia ingin menunjukkan kepadamu bahwa ia kuat dan nyatanya tidak berhasil. Tingkahnya malah terlihat menyedihkan. Bahkan, aku meragukan kewarasannnya sekarang."
"Kakak," tegur Sivia tanpa mengalihkan pandangannya dari Keea. Kakaknya memang kejam, banyaknya rumor yang berhembus dari negeri seberang cukup menjelaskan semuanya. "Keea tidak gila."
Ali sebenarnya tidak terlalu peduli dengan Keea. Beruntung adik kecilnya berutang nyawa terhadap gadis itu, rasa ketidakpeduliaannya harus dikikis, dirinya juga bukan orang yang tidak tahu terimakasih. Jasa gadis itu tidak bisa dilupakan.
"Aku heran kerajaan ini masih mempertahankan gadis itu sebagai tahanan." Ali mendesah setelahnya, pandangannya beralih pada langit-langit kamar. "Umumnya para pengkhianat akan langsung di eksekusi."
"Bukan Keea, keluarganya yang melakukan pengkhianatan." Bantah Sivia, baginya Keea hanyalah seorang gadis yang berada pada situasi tidak tepat. Tidak adil rasanya jika Keea harus dihukum seberat itu saat campur tangannya pun tidak ada.
"Semua garis keturunannya, adikku tersayang." Jelas Ali, "Seluruh jumlah keluarganya yang mati bahkan tidak sebanding dengan jumlah korban yang berjatuhan. Apakah sepuluh orang bisa dibandingkan dengan seratus nyawa yang melayang?"
Sivia terdiam tidak berniat membantah atau menyangkal, hukum tetaplah hukum. Tidak peduli akan rasa belas kasihan, semua itu bisa tergantikan dengan aturan yang ditulis tangan. Manusia bahkan harus meninggalkan rasa kemanusiaannya demi aturan yang mereka agungkan.
"Aku kasihan terhadap Kaisar negeri ini." Ali memang tidak banyak tahu, tapi setidaknya berita-berita tentang negeri-negeri lain menjadi rumor yang biasa dibicarakan banyak kalangan. "Pasti dia akan kerepotan."
Sivia berbalik untuk menatap Ali, alisnya nampak menyatu seolah berfikir keras, sebelum sebuah pemahaman datang. Tentu saja, pembebasan tahanan yang notabenya di cap sebagai penghianat negara, pasti membawa pertentangan, ditambah pembebasan itu tanpa alasan.
"Keea tidak sebahaya itu sampai dianggap buronan." Sivia kukuh dengan keyakinan bahwa Keea tidak pantas disalahkan.
Ali menatap adiknya sesaat sebelum memutuskan untuk mendekat, tangan Ali bergerak untuk mengacak rambut Sivia. "Kau belum tahu banyak hal. Cara kerja dunia tidak sesederhana yang kau fikirkan."
Sivia mendongak untuk menatap Kakaknya. "Manusia terlalu rumit menjalani kehidupan."
"Kerumitan diperlukan untuk menjabarkan apa saja yang perlu diselesaikan, Sivia." Ali tampak tidak terganggu untuk memberi pengertian kepada adiknya. "Tidak ada yang bisa menjamin Keeamu tidak akan melakukan hal sama seperti yang keluarganya lakukan. Itulah yang mereka khawatirkan. Keeamu bisa saja memicu pengkhianatan lain."
"Keea tidak akan melakukannya."
"dan seantero negeri tentu saja tidak sependapat denganmu." Tangan Ali beralih kepada bahu Sivia dan meremasnya pelan. Ali tidak menyalahkan Keea atau nasib buruk yang gadis itu hadapi. Dirinya hanya memandang dari kaca mata penguasa. Hatinya tidak kunjung berhenti menjelaskan bahwa Kaisar itu pasti akan sangat kerepotan.
Sivia menghela nafas lelah dan ikut menggenggam tangan Ali dibahunya. Pandangan Sivia kembali berkaca-kaca memandang kakaknya. Sesuatu bergumul di otaknya seakan siap diledakkan. "Apa yang harus aku lakukan, Kakak?"
Sivia mengerjap di iringi dengan arti mata yang keluar. "Aku tidak bisa membiarkan Keea sendirian."
Ali terdiam sambil mengelus rambut halus Sivia. Dia tidak bisa menjawab, karena Sivia lah yang berhak memutuskan.
Keheningan ini pecah ketika sebuah suara mengambil alih perhatian.
"Kau juga tidak bisa membawa anakku pergi tanpa pengakuan." Kaisar berdiri disana, diambang pintu dengan sorot yang tidak biasa. Pembawaannya yang tenang, membuat sosok itu diliputi aura kekuasaan, aura para pemimpin. "Sudah kukatakan padamu, Sivia. Kau boleh pergi. Tapi, setelah anak itu dilahirkan."
Sivia menelan ludah, gadis itu berdiri, pandangannya lurus menatap Kaisar. Susah payah kalimat itu keluar, "Anda benar-benar menginginkan kepergian saya, Yang Mulia?"
Kaisar bersedekap dan mendapati Keea yang masih terlihat damai. Kaisar berkata rendah tanpa menaikkan intonasinya. Tapi, suaranya yang dalam sudah cukup menggetarkan. Dingin yang penuh pertimbangan.
"Atas semua kebimbanganmu. Menurutmu, apa yang harus aku lakukan?"
Terdiam. Sivia tidak membuka suara karena jauh dilubuk hatinya dia tidak tahu. Dirinya mencelos mengetahui fakta bahwa dia tidak memiliki jawaban.
***
Tbc
Typo dll mohon dimaafkan. Vomment part ini pastinya selalu dinantikan!! 🐱🐱🐱
Part ini memang rumit utk dijelaskan~~~
Enjoy!!!
Mau dibawa kemana nih keputusan Sivia?
Danke danke
NuriApori
KAMU SEDANG MEMBACA
EL SULTAN √
FantasyCERITA INI TIDAK UNTUK MENJELASKAN SEJARAH APAPUN DAN AUTHOR TIDAK INGIN ADA PERDEBATAN SOAL HAL ITU. Selamat membaca! Kepuasan readers menjadi kesenangan tersendiri bagi author. DANKE -NuriApori-
