42. Penjelasan Sikap

1.9K 145 23
                                        

Budayakan vote sebelum membaca 🌟








Enjoy!













EL SULTAN : 42. Penjelasan Sikap

















Selesai menghabiskan makanan yang diantarkan kepadanya. Sivia duduk ditepi tempat tidur dengan pandangan menerawang kedepan. Dirinya mungkin berada di salah satu penginapan, bedanya tempat ini jauh lebih baik daripada penginapan kumuh yang didatanginya. Tempat tidur yang luas dengan meja dan kursi yang berada didalam kamar ini, serta perabotan antik lainnya sudah menjelaskan kalau penginapan ini terlihat berkelas.

Sivia menghela nafas dan memilin jarinya, kepalanya menggeleng menghilangkan ingatan tentang kejadian mengerikan yang menimpanya. Bohong kalau dirinya tidak takut, tapi sebisa mungkin ia akan perlahan menyingkirkan hal itu, demi kesehatannya, tentu saja juga bayinya.


Reflek tangannya menyentuh permukaan perutnya, ada nyawa yang hidup disini, dan Sivia tidak akan membiarkan fikiran negatifnya mempengaruhi tumbuh kembang anaknya.



"Apa dia baik-baik saja?"



Sivia mendongak dan menyentuh dadanya yang berdebar sangking terkejutnya. Sosok itu berdiri tidak jauh darinya, dengan pakaian rakyat yang sama sekali tidak dapat menyembunyikan aura kepemimpinan itu.

Sivia mengangguk kaku dengan wajah tak enak, rasa canggung langsung menghampirinya. Setelah kepergiannya tanpa pamit, ia kira Kaisar sudah tidak sudi melihat wajahnya.

Perlahan langkah kaki Kaisar mendekat sebelum sosok itu duduk di kursi yang berada diruangan ini, sosok itu melihat peralatan makan yang sudah bersih. Melihat Sivia sudah makan entah kenapa perasaannya berubah lega.

Memar masih menghiasi wajah gadis itu, membuat Kaisar entah kenapa menghela nafas. "Ada apa denganmu?"

Sivia otomatis menunduk, menatap tangan yang ia satukan.

"Kau pergi begitu saja," belum sempat Sivia menjawab, Kaisar melanjutkan ucapannya dengan nada datar dan tenang, ciri khas penguasa itu.

"Yang Mulia..."

"Membawa anakku." Potong Kaisar. "Tanpa status yang jelas, kau membawa anakku pergi."


Sivia mendongak dan mendapati tatapan tajam terarah kepadanya. Mengabaikan itu, Sivia memberanikan diri untuk bertanya, "Apa permaisuri yang menyuruh anda kemari?"

Tatapan Kaisar menurun sejenak, setelah kejadian buruk yang wanita itu alami, dirinya tidak menyangka Sivia masih sempat memikirkan permaisuri dalam keadaan seperti ini. "Berhentilah memikirkan hal yang tidak penting."

Kaisar mengalihkan pembicaraan dan Sivia tahu akan hal itu. Sivia meringis pelan merutuki kebodohannya.

"Kepergian saya akan membuat semuanya baik-baik saja, Yang Mulia." Sivia menggigit lidah setelah mengucapkannya. Dirinya malah membuat kebodohan lainnya.

Kaisar memandang Sivia semakin dalam, mungkin definisi baik-baik saja yang gadis itu maksud adalah kekacauan istana karena batalnya pernikahan mereka dan penyerangan yang ia lakukan kepada Rey demi mendapatkan Keea. Kaisar menyilangkan tangannya didepan dada tanpa memutus tatapannya. "Ya...semuanya baik-baik saja. Tapi dirimu, sepertinya tidak."


Sivia menghela nafas panjang dan menyentuh perutnya. Kaisar menggunakan kalimat halus untuk menyindirnya, kepergiannya malah membuatnya berada dalam bahaya. "Anda merasa bertanggung jawab terhadap anak ini, saya berjanji tidak akan membuat anak ini dalam keadaan bahaya lagi."

"Memang tidak," sahut Kaisar rendah. Lambat-lambat sosok itu berucap. "Ibu dan anak. Keduanya, tidak boleh dalam keadaan bahaya."

Sivia mematung. Merasa terlalu percaya diri saat mengira Kaisar juga mengkhawatirkannya. Tapi, tatapan dalam itu benar-benar menjeratnya, membuat Sivia tidak dapat berpaling.

"Bagaimana anakku bisa baik-baik saja saat kondisi ibunya tidak baik?" Kaisar mengirimkan getaran yang memenuhi dadanya lewat tatapan intens yang Kaisar lakukan.


"Anda memang berhak memperhatikan anak anda." Sivia tersenyum miris, menyangkal segala bentuk perhatian yang bisa membuatnya salah sangka.



"Sivia..."



"Maaf jika tingkah saya membuat anda marah. Saya hampir melupakan fakta bahwa anda bertanggung jawab terhadap anak yang berada dalam kandungan saya." Sivia memotong ucapan Kaisar, entah kenapa kalimat panjang itu meluncur dari mulutnya. Tapi, perhatian Kaisar hanya karena anak yang dikandungnya membuat perasaannya tersentil. Sivia tidak tahu, tapi ia merasa iri dengan perhatian anak yang sedang dikandungnya. "Anda boleh memarahi saya, lakukan apapun yang anda inginkan, Yang Mulia."

Kaisar tersenyum miring, "Aku memang seharusnya memakimu. Kebodohan yang tidak pernah hilang dari otak cantikmu itu. Kau membuat anakku terluntang-lantung, membuatnya menghadapi kenyataanya bahwa ibunya hampir diperkosa oleh bajingan tengik, dan goncangan yang harus ia alami atas kekerasan yang terjadi padamu. Sebenarnya, Ibu macam apa dirimu?"

Mata Sivia menggenang. Kaisar menuduhnya secara terang-terangan kalau dirinya tidak becus menjadi seorang ibu. Tapi, mulutnya tidak menyangkal, karena memang hal itulah yang terjadi. Terlepas dari alasannya pergi karena Keea dan sakit hatinya oleh perkataan permaisuri, karena semuanya memang berawal dari sana.



"Sudahkah kau berfikir kau pantas menjadi ibu dengan sikap seperti itu?" Kaisar berkata semakin sinis, membuat setetes air mata itu keluar. Sivia termenung, tidak dapat membuka suara. "Egois, Sivia. Kau mempertaruhkan keselamatan anakku demi Keea."



"Anda fikir saya berniat mencelakai anak ini dengan sengaja?!" Sivia menahan geramannya dengan tampang tidak percaya. "Lagipula, saya tidak pernah mempertaruhkan anak ini dengan siapapun. Tidak pernah, Yang Mulia."


"Kau memang melakukannya untuk itu." Kaisar seperti sedang mengungkapkan segala unek-uneknya. Tidak peduli dengan Sivia yang sudah mulai naik pitam, tapi semuanya memang harus segera diselesaikan. "Buktinya kau pergi, meninggalkanku."



Sivia terdiam, bukankah dengan kepergiannya semua akan kembali seperti semula? Keea akan bebas dan Kaisar dapat hidup bahagia dengan permaisuri. "Apa maksud anda?"


"Dari awal kau memang tidak percaya padaku. Kau pergi dengan mudah, tanpa menoleh kebelakang, tanpa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kau tidak pernah mendengarkanku."


Sivia berdiri dengan kekesalan memuncak, kenapa dirinya yang disalahkan disini? Ya...Sivia mengakui atas kesalahannya membahayakan anak ini, tapi tentang kepergiannya, ada rasa tidak terima saat Kaisar menyalahkan semuanya padanya.

"Sikap Yang Mulialah yang membuat saya seperti ini!"

Kaisar menahan amarahnya, "Kau tidak pernah mempercayaiku. Oleh sebab itu kau bisa pergi dengan mudahnya."



"Anda yang mengatakan kepada permaisuri untuk menyuruh saya pergi!" Sivia berteriak menumpahkan emosinya merasa tidak terima.


"Itulah sebabnya aku menyuruhmu untuk mendengarkanku, Sivia! Hanya aku! Untuk apa aku menyuruhmu pergi dihari pernikahan kita?!" Kaisar ikut berdiri dan membentak tidak kalah kerasnya. Mata penguasa itu menatapnya dengan dingin.



Berbanding terbalik dengan Sivia. Wanita itu tampak mematung kehilangan kata-kata.










Pernikahan?























***
Tbc



Bagaimana part ini????

Typo deelel mohon dimaafkan. Diusahakan dapat up rutin yyyy 😀

Jangan lupa votevotevotecomentcoment for next!!

See u next chapter 👉

Danke

NuriApori

EL SULTAN √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang