Budayakan vote sebelum membaca
📝: part kemarin (36) adalah flashback sebelum via pergi dari istana. Part ini full narasi soo..jangan protes kalo bosen baca 😀
Enjoy part 37!
Muqadas. Nama suatu negeri yang terletak di wilayah padang pasir, jauh dari rimbunnya pohon dan gunung-gunung yang menjulang tinggi. Disinilah Al-Husein Said Ali Astad bin Ahmed Mokhtum Astad dilahirkan, ditengah-tengah teriknya matahari dan tangis haru penduduk negeri Muqadas.
Kesejukan itu seketika hadir seolah kelahiran nyawa baru di negeri ini membawa berkah yang begitu ditunggu-tunggu. Panas yang mendera digantikan oleh hembusan angin yang menenangkan, kisruh tentang kepentingan politik akan penerus negeri ini hilang seketika. Hembusannya pun tidak bisa dirasakan lagi.
Pangeran Astad IV atau Pangeran Husein tumbuh di keluarga dengan nilai keagamaan yang tinggi. Sulitnya daerah dan kondisi alam membentuk pangeran ini tumbuh menjadi sosok yang tangguh. Permasalahan demi permasalahan yang terjadi serta didikan yang keras dari Abi -panggilan yang ia sematkan untuk sosok ayahnya, membuat jiwa kepemimpinannya tidak bisa dianggap main-main.
Abi-nya. Sosok yang begitu ia hormati sebagai teladan bagi hidupnya, kini tidak lagi melatih dan memarahinya dengan omelan yang khas. Rasa bangga yang sesekali Abi-nya tunjukkan tidak dapat lagi ia rasakan. Semua itu menghilang, bersamaan dengan Abinya yang ikut pergi kehadapan sang pencipta. Saat itu usianya menginjak dua puluh lima tahun, kematian King Ahmed membuat seluruh negeri berduka, tidak terkecuali dirinya yang saat itu baru kembali dari perjalanan politiknya.
Iring-iringan keluarga serta rakyat yang begitu ingin mengantar sosok besar Abi-nya, membuat prosesi pemakaman ini membludak dipenuhi rakyat yang begitu kehilangan sosok yang mereka cintai. Cuaca hari ini cerah, tidak terlalu panas seperti biasanya, seolah udara yang hadir mencoba menggiring aroma duka yang mendalam.
Keluarga kerajaan sangat dekat dengan rakyat, tidak ada prosesi pemakaman yang tertutup, semakin banyak orang, maka semakin banyak do'a yang mengiringi langkah Abi-nya untuk kembali ke hadapan sang pencipta.
Pangeran Husein menutup mata seiring dengan air mata yang kembali jatuh, situasi menyesakkan yang persis ia alami saat pertama kali melihat tubuh Abi-nya terbujur kaku. Do'a kembali ia panjatkan, demi kebahagian sang Abi dan demi tempat istimewa yang tersedia bagi Abinya di surga kelak. Saat matanya terbuka, tanah terakhir sudah menutupi makam Abi-nya.
Satu per satu orang menepuk bahunya mencoba menenangkan sebagai ucapan bela sungkawa. Pangeran Husein tersenyum dan mengikis habis kesedihan yang sempat menerpanya tadi. Air mata itu sudah tidak terlihat lagi, tapi siapa yang tahu betapa hancurnya perasaan yang ia alami. Pangeran Husein tetap menjaga sikapnya, berusaha tetap kuat dan menjaga ekspresinya.
Pandangannya mengedar dan melihat semua rakyatnya berdesakan dengan isak tangis yang tidak terbendung. Didepan mereka berdiri para penjaga yang membuat jarak agar rakyat dapat melihat prosesi pemakaman tanpa mendekati keluarga kerajaan. Sedekat apapun keluarga kerajaan dengan rakyat, tidak dipungkiri penjagaan tetap diperlukan agar tidak ada perbuatan anarkis atau niataan untuk melukai keluarga kerajaan.
Dan disitulah Pangeran Husein melihatnya, seorang gadis kecil yang penutup kepalanya terlepas terkena angin dan seorang wanita dewasa yang berdiri disampingnya sambil menggenggam tangan gadis kecil itu. Wanita itu menggunakan penutup wajah, seperti yang biasa para wanita negeri ini lakukan, hanya saja sorot mata itu terlihat redup dan sembab. Bukan tanpa alasan Pangeran Husein memperhatikannya, gadis kecil yang berada disebelah wanita itu menarik siapapun yang melihatnya, mungkin mereka semua tidak menyadari karena terhanyut suasana duka, tapi ia tidak. Wajah gadis kecil itu terlihat berbeda, hidungnya tidak terlalu mancung seperti kebanyakan rakyat disini, dan postur tubuhnya juga lebih kecil dari kebanyakan anak-anak Muqadas.
KAMU SEDANG MEMBACA
EL SULTAN √
FantasíaCERITA INI TIDAK UNTUK MENJELASKAN SEJARAH APAPUN DAN AUTHOR TIDAK INGIN ADA PERDEBATAN SOAL HAL ITU. Selamat membaca! Kepuasan readers menjadi kesenangan tersendiri bagi author. DANKE -NuriApori-
