Budayakan Vote sebelum membaca 🌟
EL SULTAN : 46. Perpisahan Berbuah Manis
Untuk terakhir kalinya, sayup-sayup tubuh yang mematung membuat Sivia terpaku. Kepalanya menoleh, memperhatikan sosok Keea dan Kakaknya yang semakin lama terlihat mengecil.
Sebelum air matanya tumpah, Sivia menyandarkan tubuhnya dan melihat kosong kedepan. Tidak sanggup melihat Keea yang bahkan tidak bersuara saat kepergiannya, gadis itu hanya diam tidak menunjukkan emosi apapun. Itulah yang membuatnya khawatir, lebih baik jika Keea menangis atau berteriak didepannya. Tapi, Keea tidak melakukannya.
Perjalanan dengan kereta kuda ini cukup memakan waktu. Waktu yang menurutnya bergerak begitu lambat, selambat nafasnya yang seakan berat untuk dihembuskan. Udara disini seakan penuh dengan kekuasaan yang menguar, menghimpit Sivia yang merasa kecil.
Udara itu memencar dan bersumber dari kekuatan magis disebelahnya. Keberadaan Kaisar yang menatap lurus kedepan. Sivia hanya berani menoleh dan memperhatikan sosok itu dari samping, wajah yang serius dan tatapan yang tenang menjadi ciri khas yang membuatnya mampu mengenali sosok itu dengan baik.
"Jangan menatapku seperti itu, Sivia." Kaisar bersuara tanpa mengalihkan pandangannya, "Kau menatapku seolah aku orang jahat yang sudah memisahkanmu dengan Keea."
Sivia mengedipkan matanya dan baru menyadari kalau dirinya terlalu berfikir jauh saat menatap sosok itu. Sivia segera mengalihkan pandangannya dan menunduk melihat kedua tangannya yang saling terjalin. Matanya yang berkaca-kaca otomatis langsung meneteskan air mata. Sudah tidak terhitung berapa kali dia menangis, karena akhir-akhir ini ia sering melakukannya.
Kaisar menoleh dan mengeryit untuk sesaat, "Kata Tabib istana perempuan hamil akan lebih sensitif. Aku tidak memarahimu. Jadi, jangan menangis."
Sivia menggigit bibirnya menahan isakan sebelum berujar pelan,"Maaf."
"Sivia..."
"Maaf, Yang Mulia." Sivia tidak kuasa menahan isakkannya dan pungungnya naik turun tidak beraturan karena tangisannya.
Hening sesaat karena tangis Sivia terlalu mendominasi. Kedua tangannya tiba-tiba digenggam membuat Sivia terkejut dan otomotis menoleh ke arah Kaisar.
"Aku tidak memarahimu," suara rendah itu berucap. "Jika air mata yang kau keluarkan untuk Keea, aku fikir hari ini sudah cukup."
Sivia menatap Kaisar dan entah kenapa tangisannya langsung lenyap seketika. Matanya mengerjap antara yakin atau tidak Kaisar sempat memberikannya tatapan teduh meskipun sekilas.
"Terimakasih, Yang Mulia." Suara Sivia mencicit, keberaniannya langsung surut. Kaisar telah menepati janjinya untuk membebaskan Keea, dan sekarang giliran dirinyalah yang membalas kebaikan Kaisar. Semuanya hanya masalah waktu, Sivia akan bertemu Keea lagi setelah semua masalah ini selesai. "Telah mengembalikan Keea, terimakasih banyak."
"Tidak bisakah kita mengakhirinya?"
"Apa?" Tanya Sivia tidak mengerti.
"Pembicaraan tentang Keea," jelas Kaisar. "Masalah Keea telah selesai, jangan membebani diri. Ini hidupmu, jalankan hidupmu tanpa melibatkan Keea didalamnya."
Sivia terdiam.
Kaisar melanjutkan, "Keea akan melanjutkan hidupnya. Ali juga tidak mungkin membiarkannya hidup menderita."
Sivia membenarkan dalam hati, sebelum kepergiannya. Dirinya bersusah payah agar Kakaknya berjanji untuk menjaga Keea. Setidaknya hal itu cukup membuatnya lega.
KAMU SEDANG MEMBACA
EL SULTAN √
FantastikCERITA INI TIDAK UNTUK MENJELASKAN SEJARAH APAPUN DAN AUTHOR TIDAK INGIN ADA PERDEBATAN SOAL HAL ITU. Selamat membaca! Kepuasan readers menjadi kesenangan tersendiri bagi author. DANKE -NuriApori-
