38. Sedikit Waktu

1.8K 132 10
                                        

Budayakan Vote sebelum membaca ❤

I missssss Kaisar, how bout u guys? 😂


38. Sedikit Waktu





"Anda baik-baik saja, Yang Mulia?"

Kaisar Alvin mengetuk-ngetukkan jarinya di meja dengan mata tertutup, badannya bersender nyaman di kursi. Atas semua kejadian yang terjadi, apakah keadaannya kini bisa dibilang baik-baik saja? Semua orang mulai berbisik liar diluar sana. Kekacauan yang terjadi di hari pernikahannya dan penyerangan yang ia lakukan di kediaman Ksatria Rey, cukuplah hal itu dijadikan alat untuk menyerangnya.

"Yang Mulia..." panggil Ksatria Andryos sekali lagi. Ksatria yang baru kembali karena tugas dadakan yang diberikan Kaisar nampak berdiri, menatap Kaisar hendak mengatakan sesuatu. "Saya sudah mengantar Kee-"

"Bagaimana keadaan Ksatria Rey?" Kaisar langsung memotong perkataan itu dan menatap lurus Ksatria Andryos.

"Saya belum melihatnya." Andryos menunduk, memberi hormat kepada Kaisar yang baru melihatnya.

"Semoga saja dia cepat sadar," Kaisar bersungguh-sungguh dengan hal ini, tidak ada kebencian sedikitpun kepada Rey, dari dulu sampai sekarang Ksatria kesayangannya itu selalu mengikuti perintahnya, akibat kepatuhan itu dia harus sedikit menggunakan kekerasan agar Rey tidak terlalu patuh terhadap aturan, "masalah kali ini sedikit membuatku kerepotan."

"Mereka semua menunggu, Yang Mulia." Kekisruhan yang terjadi membuat istana menjadi kacau, Andryos memang tidak terlalu sering berada di dalam istana, tapi mengingat apa yang sudah Kaisar-nya lakukan, tidak dipungkiri api-api kecil yang dulu tidak nampak kini semakin tersulut dan membesar.

"Anda sudah menyerang kediaman Ksatria Rey dan lebih parah lagi...." Andryos sedikit ragu saat mengatakannya, "Anda sudah membebaskan tahanan istana, pengkhianat negeri ini."

"Fikirannya bahkan tidak waras, Andryos." Topik ini selamanya tidak akan bisa ia hindari. Melihat keadaan tahanan yang dimaksud oleh Andryos, inilah kesan yang dapat ia tangkap. "Hidupnya didalam sel sudah cukup membuat pengkhianat itu kehilangan logikanya. Menurutmu adakah hukuman yang lebih parah dari itu?"

Ada perasaan tidak setuju yang melingkupi Andryos, pengkhianat tidaklah termaafkan. Apapun alasan Kaisar membebaskan tahanan itu, Andryos rasa peraturan yang berlaku di Alenta sudah tegas menjelaskannya.

"Disaat seluruh keluarganya di hukum mati, sedangkan dia baik-baik saja. Rasanya itu tidak adil, Yang Mulia."

Kaisar memahami alasan Andryos. Pemberontakan besar-besaran disertai dengan kudeta yang dilakukan keluarga Keea tidak dapat diampuni, dan Kaisar teringat dengan kekeras kepalaan Rey dalam mempertahankan tahanan itu. Rey tidak salah dan segala tingkahnya dapat dimaklumi.

Lalu, tingkah dirinya sendiri lah yang patut dipertanyakan. Lucu sekali dia dapat berbuat sejauh ini, untuk apa? Demi mempertahankan gadis itu disisinya?

Sivia...

Otaknya mungkin patut dipersalahkan karena ketepatan fikirannya menuju kearah sana. Nama itu kembali muncul, bahkan ia berusaha mengalihkan fikirannya dan pada akhirnya tidak ada gunanya, karena otaknya sudah diliputi oleh Sivia, bersama kenangan yang ada diantara mereka, termasuk kenangan tersakitpun.

"Sepertinya otakku bekerja kurang baik akhir-akhir ini. Terkadang aku berfikir, untuk apa aku berbuat sejauh ini?" Tanya Kaisar.

Andryos dipaksa mengingat kenangan yang telah lalu, "Permaisuri yang meminta hal ini kepada anda, dulu."

Kaisar juga tidak melupakan saat-saat itu. Semuanya memang berawal dari sana. "Aku sudah memperingatkannya. Kesalahan sekecil apapun bisa membuatku lepas darinya, dan semua yang telah ia lakukan membuatku tidak dapat mengenalinya lagi. Permaisuriku sudah berubah."

Andryos tidak mengerti dengan arah pembicaraan Kaisar, "Apa maksud anda, Yang Mulia?"

"Naasnya akulah yang membuatnya seperti itu," Kaisar tidak mengindahkan rasa penasaran Andryos, fikirannya menerawang jauh. "Aku yang bersalah, tapi aku juga tidak dapat menerima apa yang telah ia lakukan. Aku tahu apa yang permaisuri rasakan, dia ingin berada didekatku, tapi cara yang ia lakukan secara tidak sadar membuatku berjalan menjauh darinya."

Itu kalimat terpanjang yang Kaisar ucapkan kepadanya, Andryos masih tidak mengerti. Ada apa dengan Permaisuri dengan segala kekacauan yang terjadi di istana ini?

"Sudahlah..." Kaisar menopang kepalanya dengan sebelah tangannya dan tangan yang satunya membuat gerakan telunjuk tidak beraturan dimeja yang menjadi pusat perhatian saat ini, matanya mununduk melihat pola tidak beraturan yang ia buat. "Otak pria seperti kita terkadang tidak mampu mengimbangi otak wanita dengan segala kerumitannya. Aku ingin otakku beristirahat....sebentar saja-"

Kaisar menjeda ucapannya sebelum melirik kearah Andryos, "Mau menemaniku minum?"



Andryos mengerutkan kening sebelum mengangguk ragu menuruti ajakan Kaisar.


Kaisar menghela nafas dan kembali menyandarkan tubuhnya di kursi. Otaknya berkelana jauh sambil menunggu Kasim dan para dayang menyiapkan apa yang ia minta. Biarkanlah fikiran ini membeberkan sebuah fakta, fakta yang diketahuinya. Tentang segala hiruk-piruk istana dan segala rahasia yang tersembunyi didalamnya.

"Andryos..." panggil Kaisar membuat Ksatria itu mendongakkan kepalanya, "Sudahkah aku bilang kalau Permaisurilah yang membuat Sivia pergi dari sini?"

Andryos semakin tidak mengerti, memangnya apa yang sudah permaisuri lakukan?

Andryos menatap mata kelam Kaisar, dia tidak bisa membaca apapun dari sana, karena Kaisar menyembunyikan segala sesuatunya dengan baik. Satu hal yang dapat ia tangkap. Kaisar telah kehilangan kepercayaan, entah kepada Sivia ataupun Permaisuri.

Mungkin juga kepada keduanya?






***

Up dikit" yang penting rajinn 😁soo...gimana part ini?
Jujur author lagi kangen Kaisar 😊
Maka terciptalah part ini hahah...

Vote comment sangat dibutuhkan😃 #authorbutuhkekuatan

Typo deelel mohon dimaafkan

Danke

Nuri Apori

EL SULTAN √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang