Dikatain jual mahal? Gakpapa. Sini gue bisikin, "Karena gue cewek. Setidaknya yang dapetin gue adalah orang yang beruntung."
***
Gadis itu mendorong dada Zero dengan buku yang ia pegang. Ia sangat mengerti apa maksud dari ucapan cowok itu barusan, namun Bella lebih memilih tidak peduli akan hal itu. Toh, banyak lelaki di luar sana yang juga sama mengejarnya. Meski Bella akui, Zero orang pertama yang berani mendekatinya seperti barusan.
Cowok-cowok yang lain hanya berani menggoda Bella sebatas chat atau lewat di koridor, kali ini Bella menemukan seseorang yang berbeda.
Dari semua itu, tetap saja Bella kembali ke point pertama. Yaitu, tidak mau terjerumus ke dalam hal perasaan apalagi yang namanya pacaran.
Tunggu,
Bella baru sadar pikirannya sudah sejauh itu.
Ia menggeleng kepalanya dan lanjut berjalan melewati rak-rak buku, kemudian duduk di lantai dengan cara bersila.
Zero memperhatikan Bella dengan bingung "Lo ngapain?"
"Kita kesini ngapain?" Tanya Bella balik.
"Ngerjain tugas,"
"Nah, yaudah. Ngapain nanya." Bella mulai membuka buku yang tadi sudah dipilih. Zero memperhatikan sekitar, mencari tempat yang layak untuk menulis tugas. Contohnya seperti kursi dan meja. Namun, setelah matanya sibuk mengelilingi setiap sudut, tidak ada satupun tempat yang ia dapat. Akhirnya cowok itu mengikuti Bella, duduk bersila di samping cewek itu.
"Keliatan banget yang gak pernah ke gramedia." Bella mencibir.
Zero mengambil salah satu buku di sampingnya, jaraknya dengan Bella hanya dipisahkan oleh tumpukan lima buku "Kan gue bukan nerd, gue mah gak nafsu sama buku."
"Iya gue tau, lo nafsunya sama cewek-cewek." Ucap Bella sambil menulis tugasnya.
Zero tersenyum geli, membuka lembaran buku dengan asal "Segitu cocoknya ya muka gue, sampe lo katain playboy?"
Bella menaikkan bahunya tak acuh. Ia sedikit menunduk karena susah menulis di kondisi duduk seperti ini. Zero malah kesusahan melihat cewek itu, ia membalikkan badannya ke samping agar membelakangi Bella "Disini aja nulisnya,"
Bella menoleh untuk melihat cowok itu yang kini sedang menunjuk punggungnya "Gak usah."
Zero menarik tangan Bella yang sedang memegang buku dan pulpen "Gak bagus nunduk, ntar bisa sakit tulang."
Bella menghela nafasnya pelan, ia akhirnya mengikuti apa kata cowok itu. Bella lanjut menulis dengan punggung Zero sebagai tumpuan agar ia tidak payah menunduk. Ternyata posisi seperti ini jauh lebih nyaman di banding seperti tadi.
"Sebelumnya gue gak pernah nyalahin cewek, tapi kali ini gue hanya membenarkan. Gue itu bukan pemain perempuan." Ucap Zero tiba-tiba. Ia menumpu kepalanya menggunakan tangan, tidak merasa risih karena posisi seperti ini.
Bella hanya mengangguk seolah mengiyakan apa kata Zero barusan, padahal ia tidak percaya.
"Terserah lo mau percaya atau engga. Lo perempuan pertama yang gue deketin."
KAMU SEDANG MEMBACA
Zero Gravity
أدب المراهقينBerawal dari si pembalap terkenal di kalangan anak muda yang hobi menjahili guru dan tidak pernah menetap pada satu sekolah. Membawanya untuk bertemu dengan gadis yang meyakini bahwa si pembalap itu memang trouble maker dan pemain perempuan. Menjad...
