Aku tidak membutuhkan drama, aku tidak membutuhkan orang lain.
Aku mencintai diriku.
***
Bella baru saja memasang jaket denimnya sebelum berlari ke bawah karena panggilan dari mamanya. Entah teman yang mana datang sepagi ini ke rumah Bella.
"Dia nunggu di luar," ucap Mama Bella. Gadis itu berlari kecil ke dapur, mengambil bekal yang sudah disiapkan, kemudian mencium pipi Mamanya sebagai rutinitas pagi hari. Papa dan Abangnya pasti sudah lebih dulu berangkat kerja dan kuliah.
"Siapa sih dia? Mama juga gak tau." Wanita itu mengancing jaket Bella sampai atas "Bilang sama temennya, bawa motor jangan kenceng."
Perkataan Mamanya mampu membuat Bella semakin bingung "Cewek kan?"
Mamanya menggeleng "Cowok. Cepetan gih, dia udah nunggu."
Sepertinya Bella tau siapa orang itu. Ia segera berjalan ke luar rumah setelah memasang sepatu. Tepat saat di depan gerbang, Bella membenarkan apa yang barusan ia tebak.
Cowok berjaket hitam yang sedang duduk di atas motor itu menoleh ke arah Bella dan tersenyum lebar.
"Ngapain kesini?!" Seketika Bella membentak.
"Mau nempel ban,"
Bella semakin heran "Lo kira rumah gue bengkel?!" Cowok itu berhasil membuat Bella kesal di pagi hari.
"Tadinya," ucap Zero "Yakali mau nempel ban, gue kesini mau jemput ratu galak."
Bella semakin emosi dengan perkataan Zero "Jangan buat gue bete pagi-pagi!"
"Sini peluk biar gak bete," canda Zero.
Bella memejamkan matanya, mengatur nafas yang sepertinya tidak berfrekuensi normal. Zero menyodorkan helm berwarna hitam ke arah Bella "Pake, biar lo gak direbut pak polisi. Kan gak lucu kalo gue masuk penjara gegara berantem sama polisi."
Terlalu niat, sampai membeli Bella helm berwarna hitam yang sama dengannya. Hanya berbeda ukuran saja.
"Ambil," kata Zero. Gadis itu menatap Zero dengan kesal sebelum mengambil helm dengan cepat.
"Gak ada warna lain apa." Bella memandang helm itu. Keren, namun ia tidak suka.
"Biar matching berdua." Alasan Zero "Naik cepetan, mau terlambat lagi nih?"
Meskipun Bella sudah berpikir duapuluh kali, ia tetap saja tidak bisa menolak ajakan Zero. Berhubungan dengan Pak Amat yang sudah mengantar Papanya ke kantor. Apalagi mengharapkan Dika.
Tidak ada pilihan selain berangkat dengan Zero, dari pada ia naik bus dan terlambat lagi.
Zero menahan senyuman saat Bella bertumpu pada bahunya untuk menaiki motor. Semoga ia akan terbiasa dengan hal ini dan jantungnya tidak lagi berdegup cepat. Tapi, bagaimana mungkin kalau melihat mata Bella saja sudah membuat Zero lupa daratan.
"Siap?" Tanya Zero yang dijawab dengan dehaman "Pegangan, gak mau terbang kan?"
Bella memutar matanya malas, ia sudah sangat kesal dan ingin rasanya memukul kepala Zero sekarang juga. Tangannya hanya sebatas memegang jaket cowok itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Zero Gravity
Ficção AdolescenteBerawal dari si pembalap terkenal di kalangan anak muda yang hobi menjahili guru dan tidak pernah menetap pada satu sekolah. Membawanya untuk bertemu dengan gadis yang meyakini bahwa si pembalap itu memang trouble maker dan pemain perempuan. Menjad...
