ZG - 41

2K 122 6
                                        

Sahabat.
Dia yang tertawa atas bahagiamu.
Dia yang menangis atas tangisanmu.

***

"Yakin bisa mancing?" Tanya Hema.

"Cowo gue multitalenta." Jawab Bella sambil memasang tali sepatu. Zero yang sedang mengemudi mobil, menahan senyuman mendengar itu.

"Gue nanya lo, njir"

"Tes-tes satu dua," Radit yang duduk di sebelah Zero, merambas gitarnya seolah mencari nada.

"Geser dikit woi" Zero menggeser ujung gitar Radit karena cukup mengganggunya yang sedang mengemudi.

"Nyanyi Dit, nyanyi!" Doni ikut-ikutan. Ia duduk di bangku belakang bersama Haikal. Sedangkan Bella dan Hema di bangku tengah. Mereka sedang dalam perjalanan menuju sungai dengan mobil Zero. Bisa dibayangkan seperti apa ributnya di dalam mobil itu.

"Tarik suara, bosqu!" Sambung Haikal.

Radit mulai memainkan gitarnya.

"Seminggu... setelah kau pergi... teman silih berganti, menghiburku~" Radit mengeluarkan suaranya di awal.

"Berkata... semua teratasi...
Kan terus sembunyi, di balik senyum palsu~" sambung Zero.

"Ku dengar dirimu... tak sendiri lagi~" Haikal.

"Haaaa... haaaa~" Doni sebagai suara dua.

"Betapa, hancurnya..." Zero, Radit dan Haikal.

"Haaa... haaa~"

"Hati, dan jiwaku..."

"Celakanya hanya kaulah yang benar-benar aku tunggu~ hanya kaulah yang benar-benar memahamiku..." Doni menikmati lagu "Lho? Kok berhenti, Dit?"

"Bego!" Haikal memukul kepala cowok itu "Lo nyanyi lagu lain nyambung juga ke yang lain, tahi."

"Hah? Bukannya gue bener ya?" Dengan wajah tulalitnya Doni malah tersenyum sumringah.

Semua berdecak terkecuali Bella dan Hema yang tertawa.

"Lanjut, Dit!"

Radit menggeleng pelan sebelum kembali memainkan gitar dan mereka semua bernyanyi. Setidaknya ada hal untuk bersenang-senang dan tidak bosan selama di perjalanan menuju sungai.

***

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Zero GravityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang