Di benakku hanya ada kata baik-baik saja, meski sebenarnya malam itu tidurku sudah tidak nyenyak.
***
Bella berjalan lesu setelah turun dari mobil. Entahlah, mungkin ia terlalu lelah hari ini. Untuk mencapai pintu rumah saja rasanya terlalu jauh, cewek itu bahkan menunduk menatap rumput di halaman. Tidak biasanya ia seperti ini.
Bella yakin, ini ada sangkut pautnya dengan cowok pengganggu itu. Sebab, yang ada di pikiran Bella tidak lain dan tidak bukan adalah kesal bercampur malu akibat hadirnya cowok itu. Untuk mengingatnya saja Bella sudah kesal, bagaimana kalau selalu ia bertemu dengan wajah konyol itu.
Dari sekian banyaknya sekolah, mengapa SMA Elang yang menjadi pilihan Zero. Terlebih di hari pertama cowok itu sudah full mengganggu Bella. Kejadian siang tadi melintas kembali di benak cewek itu, membuatnya menendang batu yang ada di halaman.
"Bocah ngapa yak?"
Suara yang sangat ia tandai itu, terdengar dari arah pintu. Bella mendongak, disana Dika sedang memberi makanan untuk peliharaannya. Bella menghiraukan abangnya itu, ia berlalu masuk ke dalam tanpa sapaan apapun.
"Putus cinta kali." Gumam Dika seraya mengelus kucingnya "Eh, gimana mau putus cinta? Laku aja kagak."
Ternyata suara Dika terdengar oleh Bella. Sebuah sepatu mendarat di paha abangnya itu.
"Gue elegan, gak kayak lo playboy cap badak."
Dika berdecak. Ia meninggalkan kucing berbulu lebat itu disana sebelum mengikuti Bella yang mengarah ke dapur.
"Harumnya," ucap Bella seraya mengendus "Mama masak semur?" Ia mencium pipi wanita paruh baya itu.
"Iya, kesukaan kalian. Kok pulangnya cepet?" Tanya Mama Bella seraya menyendok masakan yang dipindahkan ke piring.
"Tadi guru ada rapat. Disuruh pulang deh." Jawab Bella seraya mencomot kentang.
"Pak Amat yang jemput?" Tanya wanita itu yang diangguki Bella. Pak Amat adalah supir keluarga mereka "Bang, anterin mama arisan ya."
Dika yang asik memainkan handphone, menoleh "Pak Amat, ma?"
"Dia mau ngantar papa meeting,"
Dika beralih menatap Bella yang juga sedang menatapnya "Yah, gak jadi nonton deh?" Ejek Dika pada adiknya itu. Tadi pagi mereka sempat berpakat sore ini akan menonton film di bioskop.
"Ma, harus ya arisan?" Tanya Bella dengan wajah memelas. Mamanya itu tertawa kecil, kemudian mengelus puncak kepala anaknya.
"Makanya, cari pacar."
Bella menghela nafasnya kasar "Sendirian juga bisa kok. Gak harus ada pacar."
Ia berjalan ke arah kamar yang ada di lantai dua, menghiraukan tawaan dari Dika dan Mamanya. Bella masih berpikir apakah ia benar akan pergi sendirian atau tidak pergi sama sekali. Tapi film yang ia nantikan lama sudah hadir di bioskop. Cewek itu berdecak saat pusing hanya karena sebuah film.
***
Suasana di malam hari bertambah cantik karena lampu-lampu kuning yang tertata rapi di pinggir jalan. Tempat itu sedikit sepi karena lokasi sengaja dipilih untuk para pembalap yang sedang bertanding.
KAMU SEDANG MEMBACA
Zero Gravity
Teen FictionBerawal dari si pembalap terkenal di kalangan anak muda yang hobi menjahili guru dan tidak pernah menetap pada satu sekolah. Membawanya untuk bertemu dengan gadis yang meyakini bahwa si pembalap itu memang trouble maker dan pemain perempuan. Menjad...
