26 A

3.6K 427 14
                                        

Daniel melangkahkan kakinya menuju dapur. Setelah berjam-jam belajar dikamar tidak ada satupun makanan bahkan minuman yang mengisi perutnya.

Saat ini, ia benar-benar kelaparan.

Disisi lain, Arga sedang asik berkutit dengan handphonenya dengan buku tebal, laptop, dan kertas-kertas berserakan dihadapannya tepat diatas meja ruang keluarga.

Mereka sangat tekun dalam belajar. Bukan hanya karena minggu depan adalah ujian akhir sekolah, tetapi  dihari-hari biasanya mereka selalu sempat meluangkan waktu untuk belajar bahkan se-sibuk apapun itu. Walaupun hanya dua puluh menit, tetapi bagi mereka waktu untuk belajar sangatlah berarti.

"Lo masih ngejar cita-cita jadi arsitektur?" Tanya Daniel.

Daniel memang bertanya, tetapi ada niat tersendiri darinya.

Apalagi jika bukan untuk membuat keributan dengan Arga malam ini.

Itu menyenangkan baginya.

Walaupun Arga mendengar ucapan Daniel, tetapi ia sama sekali tidak menggubris ucapan Daniel. Matanya masih menatap layar Handphone yang ada digenggamannya.

23.01
LINE
ArgaDirgantara
Besok lo jam enam udah harus disekolah!

23.02
LINE
Alyanraa
Eh bocah! Jam segitu mah gue masih asik mimpi indah.
Ogah ah.

Arga mengulaskan senyumannya setelah membaca chat dari Ara.

23.03
LINE
ArgaDirgantara
Gue dapet buktinya!

23.04
LINE
Alyanraa
Pak Lian? Serius?
Dia gak korupsi kan?
Benerkan?!

Arga tidak henti-hentinya tersenyum.

Pada nyatanya, Arga belum memiliki bukti sama sekali. Alasannya tidak lain dan tidak bukan hanya karena ia sangat merindukan Ara yang dulu sangat dekat dengannya.

Arga mencintai Ara.

Iya, ia hanya itu.

"Gue sayang sama lo, Ara" ucap Arga cukup kuat.

Arga lupa jika ada Daniel yang sedang berada didapur yang tidak jauh dari posisinya saat ini.

Tidak ada pembatas apapun antara dapur dan ruang keluarga. Hanya berjarak beberapa meter.

Daniel hampir saja tersedak karena mendengar ucapan Arga. Kali ini matanya menatap tajam Arga yang masih duduk membelakanginya.

Daniel tersenyum sarkas.

Tentu, Pria mana yang akan menerima jika ada pria lain yang mengatakan sayang pada kekasihnya.

Daniel tidak bodoh, ia juga tidak tuli.

"Gatel banget kayaknya tangan gue.." ucap Daniel sambil menggoyangkan tangannya cepat.

Yang jelas saat ini, ia sangat ingin memukul wajah Arga.

Daniel membuang nafasnya kasar. Ia mencoba mengatur amarahnya. Ini bukan saatnya untuk memukul Arga dan memberi pelajaran padanya.

Langit ; Kang Daniel✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang