Hujan masih mengguyur kota Welis. Betty segera melangkahkan kaki ketika taksi itu berhenti di depan apartemennya. Tangan kanannya melambai mengiringi si kubus kuning yang mulai menjauh.
"Ayo masuk! Bukankah kau sedang sakit?"
Betty terkejut ketika mendapati Aripin ada di sampingnya. Pria itu bediri tegak di bawah payung putih. Sepatunya basah terkena cipratan air hujan.
"Kenapa kau ada di sini?"
Aripin mendekap Betty. "Melindungimu."
"Kau bercanda?" ucap Betty sambil berusaha melepaskan dekapan Aripin. Namun, dekapan itu terlalu kuat. Ia tidak bisa melepaskannya.
"Kau akan aman selama bersamaku."
"Tidak, aku bahkan tidak mengenalmu sama sekali."
Aripin diam membisu. Tangannya tak lagi merangkul Betty.
"Jangan pernah kembali ke sini! Terimakasih untuk taksinya." Betty berlari memasuki ruang lobby.
Aripin hanya diam ketika gadis itu pergi tanpa meninggalkan senyuman. Ia tahu, gadis itu punya masa lalu yang kelam.
Dengan terburu-buru Betty masuk ke dalam lift. Ia menekan beberapa tombol kemudian bersandar pada dinding besi. Kedua matanya menatap lelah pada pintu lift yang perlahan mulai terutup. Ia sadar, Aripin sedang melihatnya, tatapannya begitu tajam. Sangat menakutkan.
Sebuah CCTV masih memantaunya di dalam kotak itu. Ia berpangku tangan, menunggu lift mengantarkannya sampai tujuan. Guncangan keras yang ditimbulkan beriringan dengan pintu besi yang terbuka.
"Halo!" sapa Aripin yang sentak membuat Betty terkejut.
"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk pergi!?" Betty memutar bola matanya sebal. "Menjauhlah dariku!"
"Kenapa?" Aripin tersenyum senang. Tangannya disembunyikan di belakang pinggang.
Betty tidak menggubrisnya. Ia berlari di lorong sepi tanpa suara. Tangannya gemetar memegang gagang pintu. Segera mungkin kartu elektronik itu ia masukan.
"Hah...."
Napasnya terdengar berat. Ia bersandar pada pintu apartemennya yang telah dikunci. Hatinya mulai tenang ketika Aripin tak dapat menemuinya lagi.
"Kelihatannya kau begitu lelah."
Suara itu membuatnya terperanjat kaget. Langkahnya mengendap-ngendap mendekati arah suara itu berasal. Ia yakin, pria itu ada di balkon.
"Kau mencariku?"
Lagi-lagi Betty dibuat kaget olehnya. Ia segera berbalik dan melihat Aripin sedang memberikan senyuman jahat.
"Kau!?" Betty menatap Aripin tajam, "kenapa kau bisa masuk ke dalam apartemenku!?"
Aripin mendekat. Mencolek pipi Betty dengan jahil. "Kau yang membawaku."
Betty menampar Aripin. "Dasar keparat!"
Aripin diam memegangi pipinya yang sakit. Perlahan pandangannya mulai lesu, hendak menampakan jiwa yang palsu.
"Maaf, aku hanya ingin mengawasimu."
"Tidak perlu." Betty memicingkan kedua mata, membuat beberapa kerutan muncul. "Apa yang kau sembunyikan?"
Aripin segera melempar pisaunya ke sembarang tempat. "Tidak ada," ucapnya sambil menunjukan tangan yang kosong.
Keduanya diam seribu bahasa. Pikirannya melayang, mencari sesuatu untuk ditanyakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE PSYCHOPATH
Mistério / SuspenseKehausan dalam dirinya untuk membunuh semakin tidak normal ketika bertemu dengan pria dingin dan juga bengis. ---------------------=[PSYCHO]=--------------------- 🚫TIDAK DIPERUNTUKAN UNTUK MANUSIA PENGIDAP PHOBIA DARAH DLL. 🚫TIDAK DIPERBOLEHKAN U...
