Mentari pagi masih tetap berada di posisinya. Dia memperhatikan sepeda motor yang berhenti di depan sebuah rumah minimalis. Gewend melangkahkaj kakinya turun dari atas motor Aripin kemudian melepas jaket yang dia pakai.
"Terimakasih," ucapnya tapi tidak terseyum karena akan menimbulkan sakit ketika rahangnya terbuka.
Aripin mengangguk lantas mengambil jaket yang disodorkan Gewend dan memakainya. Motor itu kembali dinyalakan dan meninggalkan Gewend sendiri di depan rumahnya.
Aripin berharap apa yang telah dilakukannya akan sedikit membuat Gewend lebih tenang dan dapat mengobati dirinya sendiri. Dia ingin Gewend tetap hidup agar rencananya berjalan dengan sempurna.
Hawa dingin masih terasa meskipun menggunakan jaket. Aripin menarik rem motornya dan menghampiri sebuah kedai kopi. Dia memarkirkan motornya dan pergi masuk ke dalam kedai itu untuk memesan beberapa kopi.
Suara sirine dari mobil Damkar membuatnya berpaling. Aripin segera membayar kopi yang dibelinya dan berlari keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Asap hitam yang mengepul di langit membuat Aripin bergegas untuk pergi. Dia meninggalkan tempat itu dengan cepat. Hatinya terasa sangat khawatir, padahal dia belum tahu bangunan apa yang sedang dijajal api. Hatinya sangat penasaran dan berulang kali melintas bayangan Betty di dalam benaknya.
Ketika sampai di sana, Aripin berhenti dan membuka kaca helm yang menutupi wajahnya. Dia mengenali gedung yang terbakar itu. Jantungnya berdegup kencang dan nafasnya mulai tidak teratur. Aripin memasang standar dan pergi menembus orang-orang yang sedang berkerumun.
"Dasar Betty." Dia berjalan mendekati seorang wanita yang sedang mengobati Betty.
"Kenapa kau datang kemari!" Betty membuang muka karena tidak ingin menatap wajah yang penuh kepalsuan.
Aripin menyuruh wanita yang sedang bersama Betty untuk pergi. Dia kemudian duduk di samping Betty dan menengadah menatap begitu serunya api melahap bangunan itu.
"Kenapa apartemennya bisa terbakar?"
Betty hanya diam. Dia menggeser posisi duduknya untuk menjauh dari Aripin. Tetapi Aripin ikut bergeser dan mereka saling berdekatan.
"Diam! Jangan dekat-dekat denganku."
Aripin menatap Betty bingung. Sesuatu yang besar telah membuat Betty menjadi berubah, Aripin tahu itu. Sekarang dia akan membawa Betty untuk menenangkannya.
"Gangguan mental," ucapnya sambil tersenyum sinis.
Betty menoleh pada pria itu. Ingin rasanya dia mencubit hati Aripin. Tapi, dia tidak mampu melakukannya.
"Aku tahu, kau begitu sedih karena kehilangan kamarmu bukan?"
Betty mengangguk mengiyakan. Dia menarik kakinya yang sudah terasa agak mendingan dan menatap Aripin.
"Jika aku boleh bertanya, kenapa kau selalu membantuku? Padahal kau sendiri mempunyai urusan dibandingkan aku."
"Maksudmu?"
Betty memalingkan wajahnya dan menatap api yang mulai membesar. "Lebih baik kau jujur padaku. Aku tidak menyukai seseorang yang bersembunyi demi kesenangan dirinya."
Aripin tertawa kecil. Dia menggerakan tangannya untuk menyentug Betty namun Betty menangkisnya. "Kau sedang sakit? Tidak biasanya kau seperti ini. Kau berubah," ucapnya sambil berdiri dan mengulurkan tangan, mengajak Betty untuk pergi.
"Seperti apa katamu tadi, aku sedang sakit. GANGGUAN MENTAL! " Betty membanting tangan Aripin dan tidak sudi menatapnya.
"Kenapa denganmu Betty? Kenapa kau tiba-tiba kasar padaku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
THE PSYCHOPATH
Mystery / ThrillerKehausan dalam dirinya untuk membunuh semakin tidak normal ketika bertemu dengan pria dingin dan juga bengis. ---------------------=[PSYCHO]=--------------------- 🚫TIDAK DIPERUNTUKAN UNTUK MANUSIA PENGIDAP PHOBIA DARAH DLL. 🚫TIDAK DIPERBOLEHKAN U...
